Yoh 3:14-17…Minggu 24 Maret 2013


 

Yoh 3:14-17…Minggu 24 Maret 2013

3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun,   demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,  3:15 supaya setiap orang yang percaya  kepada-Nya beroleh hidup   yang kekal. 3:16 Karena begitu besar kasih   Allah akan dunia ini , sehingga Ia telah mengaruniakanAnak-Nya  yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya   kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.   3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia  bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.  

Seret untuk mengatur ukuranSeret untuk mengatur ukuran

Intermezo

Kalimat; sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun,  demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, Bingunkan ?… Seolah-olah Ular disamakan dengan Anak Manusia yang harus ditinggikan. Siapakah ular, binatang macam apakah ular kok Musa meninggikan ular. Kita tau bahwa ular penyebab jatuhnya manusia tapi disatu pihak ular adalah binatang yang cerdik…Kalau bingung pegangan aja.  Oke silahkan disimak !

Coba bapak/ibu Baca Bilangan 21:4-9> di mana Ayt. 14 merujuk kepada sebuah pengalaman umat Israel di padang gurun. Dalam perjalanan mereka menuju tanah perjanjian, di mana mereka banyak mengalami gangguan atau bahaya , khususnya bahaya “ular-ular tedung” yang mengerikan dan membawa kematian jika dipatuk dan tak ada kemungkinan selamat. Ketakutan mereka karena ketidakpercayaan mereka terhadap perlindungan Allah. Mereka memohon agar Musa meminta belas kasihan Allah. Sehingga Musa diperintahkan Allah membuat ular dari tembaga dan memancangnya pada sebuah tiang. Yang dipagut ular akan tetap hidup bila memandangi ular tembaga tadi. Memandangi ular tembaga itu menjadi ungkapan kepercayaan pada Sabda Allah yang menjadi harapan satu-satunya untuk dapat terus hidup menempuh perjalanan di padang gurun sampai ke Tanah Terjanji.

Anak Manusia harus ditinggikan karena Dia membawa  Kerajaan Allah kepada semua orang, bukan hanya kepada umat Perjanjian Lama. Untuk mencapainya, jalan satu-satunya ialah “tetap mengarahkan pandangan kepada salib”, menaruh kepercayaan dan harapan kepada Dia yang disalib – diangkat seperti ular tembaga tadi.

Allah bukan hanya hasil rekaan atau kesimpulan akal budi manusia, Karena segala sesuatu yang ada ini pasti ada yang mengadakan, yakni Allah.  Allah menawarkan perhatianNya agar kehidupan manusia di dunia  ini terus berlangsung.  Dan Inilah arti kata “anak” yang diberikan  kepada Yesus oleh Injil Yohanes. Pemakaian kata “tunggal” di situ dimaksud untuk memperjelas bahwa tiada yang lebih dekat denganNya daripada Yesus sendiri.

Di samping itu ay. 16 berisi kesaksian Yohanes  siapa Allah dan siapa Yesus itu. Allah sedemikian mengasihi dunia ini sehingga ia memberikan AnakNya yang tunggal. Dalam teks Yunani Injil Yohanes, kata “mengasihi” dan “memberikan” itu diungkapkan dalam bentuk yang jelas-jelas mengungkapkan tindakan yang dibicarakan betul-betul sudah terjadi. Sudah jadi kenyataan, bukan hanya sedang atau bakal dikerjakan.

Serius ne:

Kita boleh bertanya, bila benar Allah sungguh telah memberi perhatian khusus kepada dunia, bagaimana bisa dijelaskan kok masih ada kekacauan, bahkan semakin menjadi-jadi, dan manusia semakin berani. Kini kekerasan, ketidakadilan, kematian terasa semakin mewarnai kehidupan  sehari-hari. Retorika yang muluk-muluk  atau bombastis sajakah yang diutarakan Injil ? Kerajaan Allah yang sudah datang itu impian atau kenyataan?

Injil Yohanes tidak menyuguhkan  moralistis atau nasehat, tetapi Injil ini memberi  sebuah kesaksian, yakni bahwa Allah tidak menghendaki manusiake binasa. Yang dimauiNya ialah kehidupan kekal bagi semua orang. Allah hanya ingin manusia  menerima kebaikanNya. MempercayaiNya. Allah tidak pernah memaksa bagi mereka Yang  menolak . Tentu saja Yohanes memaksudkan kehidupan setelah kehidupan badani ini. Bagi Yohanes, yang kekal itu ialah kehidupan yang berbagi kedekatan dengan Yang Ilahi sendiri nanti.

Kontemplarif

Injil Yohanes 3:14-17 membawa kita  berpindah pusat perhatian sejenak . Bahwa kita harus menanggalkan ego kita (“aku beriman” atau “aku berbuat baik”) dan memberi waktu  pada Dia yang memberi anugerah hidup ini. Inilah spiritualitas “Injil Yohanes 3:14-17”  ,Berikut ini :

1.      ”KARNA BEGITU BESAR KASIH ALLAH PADA KITA…”

  Kasih Allah tidaklah terukur oleh manusia.  “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini”, hal ini berarti bahwa tidak ada seorang pun yang dapat  mengukur perkataan “begitu”.  Kasih Allah merupakan prinsip dinamis bagi keselamatan dunia, dan inilah hal pokok yang harus diperhatikan oleh kita.   

2.      ”SEHINGGA DIBRIKANLAH ANAKNYA YANG TUNGGAL…”

ini merupakan wujud kasih Allah yang sedemikian besar itu kepada setiap kita.  Kasih itu tidak mementingkan diri sendiri, melainkan bersifat memberi. Inilah sesungguhnya karya nyata Allah yang diberikan kepada setiap kita.

3.      ”SUPAYA SETIAP ORANG YANG PERCAYA TIDAK BINASA, MELAINKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL”

Bagian terakhir ini juga merupakan bagian yang penting dan menjadi lanjutan dari apa yang dituliskan sebelumnya.  ”Supaya setiap orang…” hendak menyatakan bahwa keselamatan dari Allah itu dapat dimiliki oleh siapa saja.   Kelihatannya uenak tenan kalau sesuatu  itu didapatkan gratis? Tetapi, sesuatu yang gratis ini tentu membutuhkan respons kita. apakah kita mau menerimanya atau justru menolaknya

      “Melainkan beroleh hidup kekal”, hidup kekal inilah yang ingin diberikan oleh Allah kepada setiap orang yang dikasihinya

Tak dapat dipungkiri , bahwa kasih harus bersedia untuk berkurban…Akan tetapi dalam realitasnya, hal inilah yang tidak mudahuntuk dilakukan…Terkadang, kecenderungan yang muncul adalah kita bersedia untuk mengasihi, karena (ada maunya) . Hal ini tidak tepat, karena kalau demikian kasih ituhanyalah pura-pura…kasih itu tidak tulus untuk dilakukan…

 Melalui Firman Tuhan hari ini kita senantiasa diingatkan kembali bahwaAllah mengasihi setiap kita, tanpa terkecuali…Jangan pernah ragu akan kasih yang diberikan Allah kepada kita….Justru, kita harus yakin dan percaya bahwa itu sungguh nyata..itu sangatlah konkret….Apa perwujudan kasih Allah itu? Oh, dengan tegas kita harus mengatakan bahwa wujud kasih Allah itu tampak dalam kemanusiaan Yesus.  Wujud kasih Allah itu nyata melalui diri Yesus Kristus, Anak Tunggal-Nya datang ke dunia untuk menyelamatkan setiap kita yang percaya kepada-Nya…

Hendaklah kasih itu jangan pura-pura

 Tuhan Yesus Memberkati .

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s