Lukas 7: 11-17>Belas kasih Yesus…Rabu 27 Maret 2013


Yesus membangkitkan anak muda di Nain

7:11 Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. 7:12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. 7:13 Dan ketika Tuhan   melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan 2 , lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!”7:14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!  ” 7:15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. 7:16 Semua orang itu ketakutan  dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi  besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya. ” 7:17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah  sekitarnya.

Intermezo

Seberapa jauh Kita menhiraukan kemalangan orang ?,  apakah kita peka menghiraukan jeritan penderitaan orang lain?    Ada sedemikian banyak orang yang sangat memerlukan bantuan saat ini. Bukan hanya soal materi, tidak selalu mengenai kelaparan, tapi juga yang disebut Bunda Teresa sebagai “kemiskinan sejati” (the real poverty, the greatest poverty), yaitu orang-orang yang tidak dipeduli, tidak dicintai,bahkan tidakdiinginkan.

Bercermin dari Lukas 17:11-7; Yesus tidak menyepelekan penderitaan siapapun. Dia melakukan  mukjizat terhadap setiap orang dari latar belakang yang berbeda,  apakah orang itu orang Yahudi atau tidak, teman atau tidak, kenal atau tidak, dan sebagainya. Yesus bergerak berdasarkan kasih dan kepedulian.

Tanpa melihat,  melaui Firman Tuhan kita sering diberi pemahaman  agar sadar diri akan keterbatasan  kita selaku manusia dan kita butuh orang-orang disekitar kita. Tetapi Firman Tuhan  sering kurang atau tidak sama sekali   “menggores  hati” dan membawa kita kepada suatu perubahan . Namun kita lebih sulit saat berhadapan dengan kematian yang berhubungan dengan  orang-orang yang kita kasihi. Kita sering tidak sanggup, tidak terima, bahkan histeris  bilamana anggota keluarga  mengalami  kematian yang begitu tiba-tiba.

Di Luk. 7:11-17 kita dapat  menyaksikan tentang seorang Janda di kota Nain yang menghadapi kematian anaknya.  Janda tersebut terus menangisi kepergian anak laki-lakinya. Tangisan janda tersebut pada esensinya mau menyatakan ketidaksanggupan  kehilangan anak satu-satunya anak yang dimiliki. Makna kematian menunjuk kepada ketidaksanggupan seseorang untuk berpisah dengan orang yang sangat  Mereka sadar telah kehilangan orang yang mereka kasihi selama-lamanya, tetapi apakah mungkin ada pertolongan yang datang dan melampaui apa yang mereka pikirkan?Di Luk. 7:13 menyatakan, yaitu ketika Tuhan Yesus melihat kesedihan dan air mata janda tersebut, maka disebutkan: tergeraklah hati Yesus  oleh belas-kasihan. Lalu Tuhan Yesus menghampiri usungan itu dan menyentuh keranda jenasah  sambil berkata: Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! (Luk. 7:14). Dengan perkataan Tuhan Yesus tersebut, anak muda yang telah mati itu menjadi hidup kembali.

Mukjizat yang terjadi di kota Nain pada esensinya dilandasi oleh belas-kasihan dan kepedulian  Tuhan Yesus kepada janda itu.  Kita harus memahami bahwa karya-karya mukjizat Kristus pada intinya merupakan wujud dari rasa kepedulian dan belas-kasihanNya kepada orang yang sedang menderita. Pada prinsipnya tindakan yang dilakukan Yesus merupakan:sympathy for the suffering of others, often including a desire to help (rasa simpati terhadap penderitaan sesamanya yang dinyatakan dengan keinginan untuk menolong). Itu sebabnya setiap kali disebutkan “tergeraklah” hati Yesus oleh belas-kasihan maka ada  suatu tindakan nyata dari Tuhan Yesus sebagai respon .

Di Luk. 7:16 orang banyak yang melihat karya mukjizat Tuhan Yesus yang dapat membangkitkan pemuda Nain tersebut memberikan suatu respon. Mereka segera memuliakan Allah sambil berkata: Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah telah melawat umatNya.

Hal ini membawa dampak  penting dalam kehidupan iman kita, yaitu setiap orang percaya yang telah mengenal kasih Allah seharusnya ditandai oleh rasa kasih dan sikap kepedulian , sehingga setiap orang percaya bersedia ambil bagian dalam karya keselamatan Allah untuk menolong sesamanya.  Bukankah saat kita dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dan mengasihi kita, maka kita akan diteguhkan saat menghadapi  kedukaan karena ditinggal pergi oleh orang-orang yang  kita kasihi.

Kontemplasi

Yang harus kita “police line” yaitu  menekankan perbuatan mukjizat  dalam pemberitaan firman dan pengajaran gereja, maka kita tidak akan pernah ambil bagian secara eksistensial dan nyata dalam karya Allah di dunia. Padahal apa artinya kita mampu melakukan perbuatan mukjizat jikalau tidak dilandasi oleh kasih.  Berbagai karya mukjizat atau berbagai pelayanan gerejawi yang tidak dilandasi oleh kasih dan kepedulian seperti Kristus akan menjadi sia-sia.

Sering berbagai pelayanan atau kepedulian kita hanya didasari oleh rasa simpati belaka kepada sesama yang menderita. Bentuk rasa simpati yang demikian merupakan sikap yang humanistis. Dalam hal ini kita hanya berbelas-kasihan saja, tetapi kita tidak pernah terlibat secara nyata untuk menolong merka yang menderita dan berduka dengan seluruh hati kita. Padahal bentuk kasih yang humanistis juga mampu dilakukan oleh umat yang tidak mengenal Allah.

Kasih dan kepedulian  Kristus sebagai suatu sistem kerohanian yang mampu dikontemplasikan  dan dikonfigurasikan/dikonstruksikan  secara nyata dalam suatu tindakan dan karya. Jangan kita mendasarinya  sekedar dorongan dari bela-rasa yang manusiawi . Dalam kepedulian  yang manusiawi hanya timbul perasaan puas sebab kita dapat andil/berperan. Kita mempermuliakan nama Tuhan dengan karya dan tindakan yang berbela-rasa kepada sesama.

Dengan demikian sangat jelas bahwa sikap mengasih dan kepedulian pada hakikatnya lahir dari hati yang mengasihi sesama tanpa syarat., tercipta dari pancaran pribadi yang telah mampu keluar dari ego. Ketika kehidupan kita didasari oleh bela-rasa Kristus, maka sesungguhnya kita telah merayakan kehidupan ini dengan mempermuliakan nama Allah.

Yesus pun rela dianiaya dan mati di atas kayu salib untuk menebus semua orang. Menganugrahkan sebuah keselamatan, pemulihan hubungan dengan Allah kepada semua orang, terlepas apakah orang itu orang baik atau tidak, siapapun mereka. Kristus mati bagi semua orang, termasuk mereka, anda dan saya. (2 Korintus 5:15). Itulah bentuk kasih Kristus yang sungguh luar biasa. Sebagai orang yang percaya pada Kristus, tidakkah aneh jika kita tidak mencerminkan kasih Kristus, setidaknya sedikit dari besarnya kasih Kristus jika kita belum mampu mencerminkan sepenuhnya? Yesus memberi keteladanan penting akan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain yang mengalami kesusahan.

 

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Demikian pesan yang disampaikan kepada jemaat Galatia. Kerinduan untuk membantu adalah salah satu perwujudan nyata dari adanya kasih Kristus dalam hidup kita.  “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2). Kerinduan untuk membantu sesama itu hendaklah dinyatakan secara tulus, bukan karena maksud-maksud tersembunyi, karena punya agenda tersembunyi dibelakangnya, karena ingin mendapatkan pujian dari orang dan lain-lain, seperti yang ditulis dalam Roma. “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” (Roma 12:9). Pesan kasih ini begitu penting. Yesus mengajarkan : “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Kita diminta untuk bisa mencapai sebuah tingkatan untuk mengasihi orang lain bukan hanya seperti kita mengasihi diri kita sendiri, namun terlebih lagi seperti bagaimana Yesus sendiri telah mengasihi kita. Dan salah satu bentuk kasih itu akan terlihat dari kerinduan kita untuk membantu sesama. Hati yang penuh kasih akan gelisah ketika melihat ada orang yang membutuhkan bantuan, dan akan penuh dengan sukacita ketika bisa berbuat sesuatu untuk menolong mereka. Bukan atas jumlah nominal atau persentase waktu yang kita curahkan buat membantu, tapi dari kesungguhan dan ketulusan kita atas kasih Yesus yang hidup di dalam diri kita.

“Sebentuk hati yang penuh kasih akan tetap berempati ketika melihat orang yang butuh pertolongan. Sedikit bantuan dari kita bisa berarti besar bagi mereka, dan hal itu bernilai tinggi di mata Tuhan.”

images (11)

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s