Rabu 10 April 2013- “Sang Broker”


22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur
23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup
24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat

Intermezo

Para teolog perempuan acap kali mengajukan kritik yang serupa. Para penulis perempuan seperti Susan Nelson Dunfee (Beyond Servanthood, 1989), Jacquelyn Grant (“The Sin of Servanthood,” 1993) dan Ada María Isasi-Díaz (“Un Poquito de Justicia-a Little Bit of Justice,” 1996) menkritisi  bahwa konsep pelayanan selama ini dipergunakan dalam komunitas Kristen untuk menindas kaum perempuan dan berlawanan dengan semangat pemberdayaan dan kebebasan yang dicita-citakan oleh perempuan Kristen. Laki-laki Kristen dengan mudah menuntut perempuan untuk mematuhi suami mereka atas nama pelayanan. Apakah benar demikian ?

Perempuan sebagai makhluk religius tentu mempunyai status dan hak di tengah masyarakat. Namun faktor keperempuanannya sering menyebabkan hak dan status itu tidak diakui oleh masyarakat. Masyarakat sering melihat perempuan sebagai makhluk kelas dua, makhluk yang disubordinasikan, sehingga meninimbulkan  stereotipe-stereotipe seperti perempuan itu lemah,pasif dan sebagainya.

Ayat 22 ; Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur. Ada keterkejutan dari kaum lelaki…betapa beraninya para perempuan itu, di mana pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur. Ada keraguan dan ketidak percayaan. Karena mereka menganggap para perempuan adalah makhluk yang lemah .  Tetapi lewat karya penebusan, salah satunya kembali kesetaraan  lelaki dan perempuan dipulihkah. Karya penebusan Kristus yang menjadikan perantara salah satunya untuk meniadakan pendiskualifikasian berdasarkan gender .

Ilustrasi

Tujuan pembangunan setiap jembatan untuk menghubungkan daerah yang teresolasi,  semula berjauhan menjadi relatif dekat. Dengan adanya jembatan tidak ada lagi suatu tempat yang tidak dapat dijangkau. Makna  kehadiran dan fungsi suatu jembatan merelatifkan jarak yang semula terputus dapat terhubungkan dan menjadi satu dengan wilayah lain. Jembatan senantiasa mengintegrasikan kedua wilayaah yang terputus salah satunya menjadi media komunikasi publik dan meningkatkan status sosial mereka yang dulunya terasing.

Yesus sebagai Broker yang Mengangkat Martabat Manusia

Tujuan sebuah pembangunan jembatan untuk menghubungkan ke dua wilayah agar efektif dalam  mengangkat kualitas dan taraf hidup setiap orang di kedua wilayah tersebut. Demikian juga kehadiran Kristus sebagai jembatan pendamaian. Karya penebusan Kristus telah mendamaikan manuisa dan Bapa-nya juga terhadap sesama,  juga memiliki tujuan meningkatkan kualitas hidup manusia yang serupa dan segambar dengan Allah. Lebih khusus lagi memampukan setiap manusia untuk menjadi anak-anak Allah secara fungsional, daripada hanya sekedar status. Sebab, sejak dirobohkan tembok pemisah maka setiap manusia tidak lagi terhalang untuk berhubungan dengan manusia dan sesamanya (kesetaraan).

Karya Kristus yang membebaskan dan mendamaikan  itu perlu kita wujudkan dalam setiap aspek kehidupan kita.  Kita terpanggil untuk memperjuangkan kesetaraan martabat setiap orang dan kesetaraan gander antara laki-laki dan perempuan. Sebab dunia di sekitar kita berupaya merancang diskriminasi atau superioritas dalam beragam bentuk. Para pelaku superioritas berusaha menegaskan dan menaklukkan orang lain dalam kerendahan, tidak memilikki hak yang sama, tidak dapat berkuasa seperti mereka, tidak boleh berkembang dan menjadi pandai seperti mereka. Yang diinginkan mereka adalah penolakkan secara sistematis terhadap kesetaraan bagi orang lain.  Wujud dari dunia membangun tembok yang tinggi, membuat sekat-sekat, mengikat rasio dan spiritualitas manusia. Tetapi beda dengan karya penebusan kristus yang bertujuan menciptakan keterbukaan yang bermartabat agar setiap orang hidup dengan panggilan dan karunianya masing-masing.

Ef:2:14> “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan   kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,”

Kontemplasi

Banyak gereja/organisasi Kristen yang memakai kata pelayanan bukan hanya secara umum dan moralistis, namun juga untuk memetakan apa saja yang realistis dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Dalam acara-acara kemajelisan, misalnya, tak jarang anggota majelis perempuan “dipercaya” mengambil tugas-tugas domestik, seperti seksi konsumsi, seksi perlengkapan atau tugas-tugas sejenis. Sedangkan tugas kepemimpinan dan pengambilan keputusan didominasi oleh anggota majelis laki-laki. Muda-mudahan di GPIB tidak terjadi…kalau itu terjadi…TERLALU !

Pelayanan dengan demikian telah  mengalami penyalahgunaan maksud sesungguhnya…Ada baiknya kita membanting stir, yaitu: Persahabatan menjadi simulasi atau representasi kehidupan  bergereja masa kini

 Kita harus mengerti  interaksi anggota-anggota jemaat , bukan lagi hanya dalam rekaan/citra pelayan dan pelayanan. Apa yang perlu kita kembangkan adalah sebuah konsep  “sahabat” dan “persahabatan.”  Pasti kita bisa melihat kehidupan  yang lebih sederajat  dari rekaan  ini dibandingkan dengan rekaan/citra  pelayan dan pelayanan.

Jika pelayanan dijiwai oleh prinsip kekuasaan (power), maka hidup bergereja sebagai persahabatan dijiwai oleh kasih. Seorang pelayan dituntut untuk taat dan patuh pada sang tuan; seorang sahabat diundang untuk mencintai sahabatnya.

Sebenarnya, tema kasih selama ini tetap muncul dalam rekaan/citra  pelayan dan pelayanan, namun secara teologis menjadi tidak selaras dengan makna asali dari kata pelayan dan pelayanan itu sendiri. Dengan persahabatan, kasih memperoleh rumahnya yang paling tepat.

Landasan teologis yang menegaskan pemahaman gereja sebagai sebentuk persekutuan para sahabat:

Yesus Sang Sahabat Sejati itu sendiri menyapa para muridnya bukan lagi sebagai hamba namun sahabat, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat” (Yoh. 15:15). Di dua ayat sebelumnya, Yesus menunjukkan sebuah kualitas seseorang yang mengasihi sahabatnya,“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Di mana kesetaraan menjadi nilai utamanya.

Simpulan

Pertama, gereja kita agaknya perlu mengembangkan sebuah teologi keramahtamahan (theology of hospitality) yang pada akhirnya diterjemahkan ke dalam program-program keramahtamahan yang konkret, agar terhindar dari diskriminasi.

Keramahtamahan adalah sebuah persekutuan yang secara sengaja membuka diri pada mereka yang asing dan terasing, dan berbeda dari kita. Di setiap awal ibadah kita selalu menyapa pengunjung ibadah melalui kalimat sambutan yang standar, namun tak pernah menerjemahkannya lebih jauh ke dalam program yang jelas dan kontinu.

Keramahtamahan pada dasarnya berupaya menerjemahkan apa yang ditulis dalam Ibrani 13:2, “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”

Dengan keramahtamahannya itu, Lidia mengadegankan persahabatan di dalam dan bersama Kristus, yang ditulis oleh Paulus, penerima keramahtamahan perempuan itu, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani [budaya dan etnis], tidak ada hamba atau orang merdeka [ekonomi dan sosial], tidak ada laki-laki atau perempuan [gender], karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal. 3:28).

285775_239969006021473_3570653_n

Iklan

3 pemikiran pada “Rabu 10 April 2013- “Sang Broker”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s