Minggu 14 April 2013>Bilangan 9:1-5


Ketetapan-ketetapan mengenai perayaan Paskah
9:1 TUHAN berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai, pada bulan yang pertama tahun yang kedua sesudah mereka keluar dari tanah Mesir: 9:2 “Orang Israel harus merayakan Paskah pada waktunya; 9:3 pada hari yang keempat belas bulan ini, pada waktu senja, haruslah kamu merayakannya pada waktu yang ditetapkan, menurut segala ketetapan dan peraturannya haruslah kamu merayakannya.” 9:4 Lalu Musa menyuruh orang Israel merayakan Paskah. 9:5 Maka mereka merayakan Paskah pada bulan yang pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu, pada waktu senja, di padang gurun Sinai; tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah dilakukan orang Israel.

Mengapa Tuhan memberi ketetapan dan berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai agar orang Israel HARUS MERAYAKAN PASKAH sesudah mereka keluar dari tanah mesir ?… Sebegitu pentingnyakah sampai Tuhan harus memberi ketetapan-ketetapan bahwa bangsa Israel harus MERAYAKAN PASKAH ?

Lalu apa makna dari Paskah yang sesungguhnya. Ada 2 hal yang dapat kita pelajari sebagai arti dari Paskah:

1. Paskah adalah pengorbanan
Tuhan sangat adil, akan tetapi Ia adalah juga Tuhan yang ingit mengikat perjanjian kudus bukan sekedar Janji-janji terus tinggal janji . Ini dapat kita baca dari pengalaman tokoh-tokoh di perjanjian lama seperti Adam, Nuh dan Abraham. Dan pada masa perjanjian baru, Dia memberi Anak-Nya untuk menebus dosa kita. Dan karena kematian dan kemudian kebangkitan-Nya, kita yang “sakit disembuhkan, yang lemah dikuatkan dan yang miskin diperkaya.”

2. Paskah adalah pembebasan/ perayaan atas keselamatan anak sulung dari kematian di Mesir dirayakan dengan makan roti tidak beragi. Paskah adalah perayaan pembebasan bangsa Israel dari mesir.

Keluaran 12:17 “Jadi kamu harus tetap merayakan hari raya makan roti yang tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir. Maka haruslah kamu rayakan hari ini turun-temurun; itulah suatu ketetapan untuk selamanya.

Awalnya, Hari Raya Paskah diperingati oleh umat Israel sebagai hari pembebasan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Namun setelah Yesus mati disalibkan dan kemudian bangkit dari kematian, Hari Raya Paskah menjadi berubah arti. Akan tetapi pada dasarnya keduanya memiliki arti yang kurang lebih sama, yakni barang siapa yang menerima tanda darah domba pasti terhindar dan dibebaskan dari maut.

Perayaan paskah seharusnya adalah perayaan iman Kristiani terbesar dalam tradisi kekristenan. Sekalipun Paskah seringkali kalah oleh perayaan Natal, apalagi Natal sudah mengglobal/mentradisi dengan segala pernak-pernik konsumsi seperti diskon, sale, beli baju baru, sepatu baru, rumah-rumah dihiasi bahkan dicat, dan tidak ketinggalan kue-kue,minuman-minuman kaleng, dan lain-lain. Jauh sebelum Gereja merayakan Natal (sekitar abad ke-4 masehi), Gereja perdana, murid-murid Tuhan Yesus telah merayakan Paskah. Karena itu sudah semestinya apabila Gereja berusaha mengembalikan makna Paskah sebagai puncak perayaan dan “pesta” iman Gereja.

Perayaan Paskah dalam sejarah umat Allah Perjanjian Lama, Paskah tidak bisa dipisahkan dari perjanjian yang diikat di Sinai (Keluaran 19), mahkota dari pembebasan itu. Dalam perjanjian itu terbentuklah bangsa baru, umat baru yang hidupnya dilandaskan pada kode moral dan hukum yang akan menjadikan mereka bangsa yang bermartabat.

Pembebasan yang sempurna dan sejati merupakan buah dari Paskah Kristus: ” … sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru… Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan…” (Roma 6: 4.6).

Paskah berarti perubahan tata nilai secara radikal. Hal itu ditegaskan, misalnya, oleh Rasul Paulus yang mengatakan, ”Tetapi, apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Filipi 3: 7). Perubahan tata nilai melahirkan pribadi baru yang bermartabat.

Paskah berarti menanggalkan manusia lama. Meninggalkan kehidupan yang didorong oleh nafsu akan gengsi—bukan kehormatan yang bermartabat; nafsu akan kekuasaan demi kekuasaan—bukan kekuasaan demi kesejahteraan bersama—dan nafsu akan uang demi gengsi yang sejatinya menunjukkan adanya kekosongan eksistensial.

Buah Paskah adalah manusia baru dan hidup baru. Manusia baru adalah manusia bermartabat. Mereka adalah pribadi-pribadi yang tercerahkan oleh nilai-nilai dasar kehidupan dan memperjuangkannya dengan sekuat tenaga.

Nilai dasar itu nyata dalam diri Yesus yang mengasihi manusia sampai kepada kesudahannya (bdk Yohanes 13: 1). Kehormatannya terwujud dalam pengosongan diri demi BERMITRA rasa KESETIAKAWANAN-NYA dengan manusia (bdk Filipi 2: 6-8) dan Yesus bukan hanya nabi pewarta makna, melainkan Sang Makna itu sendiri karena Dialah ”Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yohanes 14: 6).

Berbicara mengenai makna, nilai dan tata nilai, sebagai warga bangsa Indonesia, umat Kristiani yang merayakan Paskah perlu BERMITRA…KESETARAAN DEMI KESETIAKWANAN SOSIAL.

Tuhan memberi suatu ketetapan bahwa kita harus MERAYAKAN PASKAH. Karena MERAYAKAN PASKAH berarti kita menggemakan berita, bahwa hidup adalah PEMBERIAN dan juga PENUGASAN. Ia memberi ketetapan itu untuk menghidupi hidup ini. Bukan sekedar hidup. Tetapi hidup dengan bergairah. Dan hidup dengan bermutu.

“Terbitnya matahari merupakan tanda diberikan hari yang baru, maaka PASKAH adalah tanda diberikannya suatu hidup yang baru”
pena

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s