Kepemimpinan Kristen yang Visioner


coverIntermezo

Kepemimpinan  yang kontributif atau waras akan menghasilkan suatu organisasi yang bertunas dan berdinamika serta semua konstituennya bermanfat dengan seharusnya dan  membuahkan hasil yang baik   dan berimpresi, berimpak bagi lingkungan sekitar.Kepemimpinan yang kontributif  pasti ditopang  oleh beberapa elemen  penting sebagai penggerak  menuju arah ( yang dituju bersama)

Hendry Kissinger mengatakan, “Seorang pemimpin adalah seorang individu pecipta visi yang menggerakkan orang-orang dari tempat dimana mereka berada ke tempat dimana mereka belum pernah ada. Ini berarti seorang pemimpi harus memiliki skill yang mumpuni.  Dengan visi sebuah organisasi akan berdinamika dengan terarah pada apa yang dicita-citakan bersama, namun sebaliknya bisa visi “mogok”  oleh karena pemimpin maka tentunya arah gerak suatu organisasi akan terombang-ambing seperti perahu ditengah ombak.

Eka Darma Putera, menggambarkan ketiadaan pemimpin yang punya visi sebagai suatu keadaan yang bergerak tanpa arah, serta sibuk dengan diri, tanpa makna. Dan, hasilnya hanyalah kepenatan, tanpa tahu untuk apa

Visi merupakan pemberian dari ‘mata iman’ untuk melihat yang tidak kelihatan, untuk mengetahui apa yang tidak mampu diketahui, dan memikirkan apa yang tidak mampu dipikirkan. Visi itu menjadi titik temu atau sasaran – arah gerak kita sebagai umat-Nya. Jadi jelas,  kalau seorang pemimpin tidak memilik visi dari Tuhan, ia akan ‘STOP’ .   Visi dari Tuhan merupakan panggilan bagi manusia.  Itu sebabnya penting bagi seorang pemimpin untuk mendapatkan visi yang bersumber dari Allah sendiri. Visi timbul karena adanya hati yang terbeban untuk mengetahui serta melakukan kehendak Tuhan dan untuk menjadi apa pun yang dikehendaki Tuhan.

Tujuan visi Allah tidak lain adalah untuk membangun Tubuh Kristus, dimana Dia adalah kepala kita. Dan kepala memberikan kita visi dengan perintah yang sangat jelas.  Di sinilah letak perbedaan seorang pemimpin kristiani dengan pemimpin sekuler. Allah yang mengerjakan bagi umat-Nya dan Allah yang menuntun dalam mencapai visi itu untuk membangun tubuh Kristus.

Hal ini juga menunjukkan bahwa kekuasaan atau otoritas yang dimiliki Tuhan Yesus memberikan wewenang untuk menjalankan sebuah Visi,  yaitu visi Pemberitaan Injil dan ini yang harus dijalani oleh seorang pemimpin kristen

a.       Jadikanlah Semua Bangsa Murid-Ku
Budi Asali menulis sebuah artikel dalam situs Internet untuk menjelaskan Matius 28:19-20 sebagai berikut:
Dalam bahasa Yunaninya, ‘jadikan murid’ adalah satu-satunya kata perintah dalam bagian ini. Sedangkan kata-kata ‘pergilah’, ‘baptislah’, dan ‘ajarlah’ merupakan participles (kalau diterje­mahkan ke bahasa Inggris menjadi ‘kata kerja + ing’, yaitu: going, baptizing, teaching).
Ini menunjukkan bahwa penekanan utama dari bagian ini adalah ‘menjadikan murid Yesus’. Sedangkan ‘pergi’, ‘membaptis’ dan ‘mengajar’ adalah hal-hal yang harus dilakukan untuk bisa menjadikan murid.
b.      Pergilah
Kata pergilah merupakan kata perintah yang secara implisit menuntut ketaatan seseorang kepada yang sedang memberikan perintah. Salah satu tugas seorang Pemimpin adalah memberikan instruksi kepada orang yang sedang dipimpinnya. Kata pergi juga menunjukkan bahwa seseorang tidak hanya menunggu sampai orang akan datang. Kata pergi merupakan perintah untuk beranjak dari tempat menuju kepada sebuah objek atau tindakan seseorang untuk mencari.
c.       Baptislah
Yakob Tomatala menjelaskan kata baptis sebagai “Proses menggerejakan orang yang baru percaya ke dalam jemaat, dengan tindakan inisiasi pembaptisan sebagai kesaksian kepada dunia tentang keselamatan … yang telah dialami oleh orang percaya dimaksud”. Apa yang telah dinyatakan oleh Tomatala dalam kutipan di atas menunjukkan bahwa untuk menggabungkan orang ke dalam persekutuan dilakukan melalui baptisan. Salah satu aspek dari kepemimpinan adalah bisa mempengaruhi orang lain.
d.      Ajarlah
Kata ini merupakan kata perintah untuk mentransfer sesuatu yang berasal dari pikiran kepada orang dengan suatu tujuan tertentu. Dalam Matius 28:18-20, kata ini merupakan kata perintah pasif. Sekalipun demikian kata ini memiliki peranan yang besar untuk menggerakan murid-murid Yesus untuk mengerjakan perintah memberitakan Injil.
e.       Menyertai kamu senantiasa
Pernyataan Tuhan  Yesus dalam Matius 28:18-20 merupakan pernyataan seorang pemimpin yang sebagai mentor untuk bertanggung jawab kepada mereka yang sedang dipimpin untuk efektifnya sebuah kegiatan.

Sedangkan pemimpim sekuler lebih melihat pada gejala-gejaa dan kecondongan-kecondongan yang lebih baik ke depan. Itu biasanya berasal dari dalam diri manusia, bukan pewahyuan ilahi. Serta tujuan akhir, dilihat hanya untuk keperluan kepuasan, kebaikan manusia saja.

Pemimpin disebut visioner jika dia mentransformasi visi Yesus .  Di mana mereka harus  konsern, imajinatif,kreatif,aktif, dan memiliki skill yang memadai untuk merancang strategi untuk mencapai tujuan atau mendeliveri apa yang dicita-citakan dicita-citakan Yesus kepada anak-anak-Nya.   Bila seorang pimpinan telah memahami visinya  , artinya dia telah membuat sebuah warna  akan masa depan yang sejahtera Jadi, kepemimpinan yang visioner mutlak diperlukan namun tidak hanya sampai di situ, melainkan ia juga harus mampu merancang strategi untuk mencapai visi itu.

Pentingnya Visi bagi Organisasi/Gereja

Menurut Andreas Harefa, Sosok seorang pemimpin visionaris adalah orang yang mampu melihat ‘status Quo’ dan mampu melihat sebuah ide , impian, atau harapan tentang masa depan yang lebih baik, lebih manusiawi, dan lebih dikompromikan oleh Tuhan sebagai sebuah kenyataan yang mungkin dilakukan lewat perjuangan dalam ketaatan kepada-Nya. Memiliki minat dan perhatian yang amat besar terhadap potensi manusia yang ada, yang mengejar kesempurnaan sebagai ciptaan Tuhan; mengambil inisiatif dengan menerima tanggungjawab untuk melaksanakan perubahan yang diyakini sebagai panggilan hidup di dunia.”Ini berarti, seorang pemimpin visioner harus menempatkan visi itu sebagai “sandal” untuk berjalan keluar dari ‘status guo’, dan mencapai mimpi bersama dengan kelompok organisasi yang dipimpinnya. Oleh sebab itu seorang pemimpin  harus punya visi bila ingin menjadi pemimpin yang baik dan membawa perubahan bagi kelompok yang dipimpinnya.

Visi adalah Dinamisator  Organisasi/ Gereja yang Dipimpin.
Visi adalah Dinamisator artinya bergerak dan melangkah  saat ini  menuju ke masa depan yang lebih baik. Sebuah visi yang besar bila dibagikan oleh seorang pemimpin bagi para anggotanya dengan baik, akan menggerakkan mereka untuk mengambil tindakan aktif di dalam visi itu. Visi yang baik akan menjadi tantangan bagi anggota untuk melakukan suatu perubahan besar yang bergerak ke arah yang lebih baik. Visi haruslah membawa pada satu perubahan dan menjadi harapan bagi banyak orang. Visi menjadi jawaban bagi kegelisahan individu terhadap keinginan untuk mengalami perubahan.

Keberhasilan suatu organisasi atau gereja dalam menggerakkan anggota , bergantung sejauh mana semangat dan kerinduan dari visi itu menginsipirasi dan menginterpetasi orang lain untuk berbuat sesuatu yang digumuli. Sebesar apapun suatu organisasi ditentukan oleh sebesar apa visi yang ditanamkan bagi organisasi. Tidak  ada perubahan yang besar yang melebihi visi yang dicita-citakan bersama.

Sebuah visi terkadang memiliki cara yang unik untuk mengarahkan gerakan organisasi . Visi memberikan gambaran mental yang sesuai buat kita dan membuat orang-orang tetap memiliki “impian besar”. Visi adalah peta atau kompas perjalanan untuk menuntun dan mengarahkan kita. Kita tidak akan pernah tahu ke mana kita harus melanjutkan perjalanan jika indra penglihatan kita tertutup, pasti kita akan meraba-raba dan tidak tahu kemana kita akan pergi. Seorang pemimpin visioner harus bisa tampil di depan dan mendeklarasikan visi organisasi itu, memimpin mereka, mendorong, mengarahkan dengan tetap bersandarkan pada visi yang diyakini bersama.

JANGAN JADI PEMIMPIN SEPERTI ONDEL-ONDEL…diatur oleh orang lain.Visi bisa mempengaruhi organisasi hanya apabila para anggota menerima dan mau berkomitmen pada visi tersebut. Barulah visi itu menjadi sumber motivasi yang kuat dan menyatukan.  Itu artinya bahwa visi harus juga dikomunikasikan dengan baik sehingga mampu menggugah dan memotivasi untuk dilakukannya tindakan nyata secara bersama-sama.

Brian Tracy, mengatakan bahwa diantara 3.000-an penelitian yang pernah dia baca, ia menyimpulkan dengan menempatkan visi pada tempat teratas dari daftar KUALITAS kepemimpinan pada umumnya. Visi, menurut tracy, memunculkan harapan, dan harapan adalah motivator yang ampuh.  Visi bisa mengubah pikiran dan hati seseorang apabila mereka menerima visi tersebut sebagai visi mereka sendiri. Visi memotivasi kita karena hal itu memusatkan perhatian kita pada masa depan dan mendorong kita untuk mengambil tindakan ke arah perwujudannya.

Tiga fenomena yang perlu diwaspadai

1. Banyak orang yang terlibat  di gereja  akan memahami  bahwa aktif di  gereja tidak selalu berpadan  dengan spiritualitas pribadi. Ada orang yang menjadi begitu sibuk dengan ibadah dan proyek gereja, sehingga  tidak konsern terhadap kebutuhan mendesak manusia yang ada di sekeliling mereka, dan ini bertentangan dengan ajaran yang mereka percayai secara mendalam. Anda dapat saja aktif di gereja, tetapi tidak aktif dalam menjalankan ajaranNya sama juga boong.

2. Gurita materealis yang menyusup ke setiap tulang sumsum manusia kristen saat ini, termasuk para hamba Tuhan. Bnayak di antara kita dibanjiri bujuk-rayu konsumeris yang melemahkan kesadaran kritis manusia. Derasnya banjir bujuk rayu tak terimbangi oleh ketahanan daya tangkalnya, dan hal ini terjadi setiap hari, bahkan setiap detik! Budi yang cerdas dibuat tidur oleh apa yang disebut pemberhalaan yang menumpulkan rasionalitas kritis. Hal ini terjadi baik di lingkungan di luar maupun di dalam gereja. Ciri khasnya adalah penekanan (pengejaran) terhadap kenikmatan/ kenyamanan/ fasilitas/ atraktif/ kulit, bukannya ketekunan, kesetiaan, proses/kedalaman (depth), pengorbanan/ isi.

3. Tembok2 gereja menjadi -ibarat- istana-istana kecil yang senang konflik karena pernik-pernik dogmatik-liturgis, sehingga menjerat kaki yang akhirnya jalan menjadi tertatih-tatih bahkan stagnan.

4. Bahaya politik uang dalam memilih seorang pemimpin.Seseorang yang ambisi tidak segan-segan menggesek ATM agar ia dipilih menjadi pemimpin. Bahkan mereka yang memilih seorang pemimpin tidak segan meminta balas budi.

Memilih siapa ?

1. Memang benar bahwa kepemimpinan amat penting dan signifikan dalam kehidupan bersama, baik organisasi sekuler maupun gerejawi. Sulit dibayangkan sebuah organisasi akan mampu melaksanakan tugas panggilannya sesuai dengan program-program yang telah dirumuskan jika organisasi tersebut tidak memiliki pemimpin, atau tidak mempunyai kepemimpinan yang kuat. Pemimpin dan kepemimpinan adalah motor penggerak, dinamisator, motivator, pemberi visi dan inspirasi bagi sebuah organisasi. Soal teknik dan ketrampilan menjadi pemimpin seseorang bisa dilatih, tetapi bagaimana dengan soal jiwa, spirit, kharakter kepemimpinan? Padahal justru di sinilah letak kunci kepemimpinan. Pembangunan watak, spiritual menjadi kekuatan dari dalam yang amat signifikan dalam mewarnai gaya dan buah kepemimpinan sesorang. Akan menjadi sia-sia jika pemimpin yang kita pilih hanya menjadi “ondel-ondel” (boneka). Dan akan lebih sia-sia lagi dan membuat Tuhan sedih kalau seseorang dipilih menjadi pemimpin karena menggesek ATM-nya. (Semoga GPIB tidak seperti itu).

2. Hal mendasar yang membedakan kepemimpinan Kristen dan kepemimpinan pada umumnya adalah motivasinya. Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih, ditujukan untuk pelayanan, dan dikendalikan oleh Kristus dan keteladananNya. Pemimpin-pemimpin Kristen yang terbaik mencerminkan sepenuhnya sifat pengabdian yang tanpa pamrih (tidak mementingkan diri sendiri), teguh hati, berani, tegas, berbelas kasih . Untuk menemukan figur pemimpin baik dalam perspektif Kristen hanya kita temukan dalam pengharapan pada Tuhan bukan dipilih karena uang.kALAU MENJADI PEMIMPIN KARENA UANG KITA SAMA DENGAN PENYEMBAH MAMON.

3. Matius pasal 4 memberikan penjelasan yang amat tegas bahwa memasuki medan kepemimpinan itu tidak mudah! Yesus perlu mempersiapkan diri secara serius sebelum terjun ke medan pelayanan. Ia tak tanggung-tanggung dalam mempersiapkan diri, berpuasa 40 hari/malam. Ini artinya, spiritualitas yang baik menjadi prasyarat seorang pemimpin Kristen! Dengan memakai bahasa masa kini barangkali tak salah kalau kita sebut Yesus selama 40 hari mematangkan, mengasah spiritualitasnya. Kepemimpinan bukan hanya soal kepala/ kepandaian (head), tetapi juga soal hati (heart), dan tangan (hands).

4. Yesus tahu apa yang akan dilakukan (misi-Nya) ditengah dunia, ada pekerjaan besar. Dan pekerjaan besar tantangannya juga pasti besar (godaan iblis: tawaran mengubah batu menjadi roti (pragmatis), menjatuhkan diri dan malaikat akan menolong (oportunis); menyembah iblis dan akan segala sesuatu (materialis). Tiga tawaran tersebut bisa ditangkal oleh Yesus! Mengapa? Yesus telah membekali diri-Nya dengan Spiritualitas yang matang. Jangan jadi pemimpin yang menjual integritas demi kenyamanan/kesempatan/materi sesaat!

5. Pemimpin kristen yang memiliki visi sadar sepenuhnya bahwa medan pelayanan bukanlah lahan untuk mencari kenikmatan dan kepuasan pribadi. Komunitas/ medan pelayanan/ organisasi bukanlah lahan untuk mencari kesenangan. Dalam hal berorganisasi komunitas orang percaya dibentuk berdasarkan panggilan Allah melalui Kristus sendiri. Memang benar dalam organisasi gereja ada, misalnya: AD-ART, MOU, atau Keputusan-keputusan Organisasi. Berbagai peraturan itu sangat penting dan perlu dihargai karena menjadi simbol dari proses kesediaan untuk menyatukan visi-misi. Oleh karena itu bagi seorang pemimpin komunitas (organisasi gereja) bukanlah tempat untuk mencari kecocokan, tetapi tempat untuk mengabdikan diri sebagai identitas (panggilan) kristianinya. Sering muncul persoalan serius, yaitu ketika seseorang pemimpin lalu tergiur/ terseret oleh tawaran godaan bersikap pragmatis, oportunis, dan materialis . Jangan jadi pemimpin yang lesu dalam pelayanan organisasi gereja karena tidak mendapatkan “sesuatu”, diskriminatif (pilih-pilih pelayanan), senang membenarkan diri sendiri untuk berbagai alasan, menghitung untung-rugi dalam pelayanan (“Saya akan memperoleh apa?, bukannya apa yang bisa saya berikan”).

Kepemimpinan yang memiliki visi melayani setidaknya memerlukan tiga hal mendasar:
1) Senantiasa mengasah spiritualitasnya
2) inkorporatif: tidak menjadikan lahan organisasi sebagai tempat mencari kesenangan/ mencari untung/ kemudahan, tetapi supaya garam itu semakin terasa asinnya
3) dituntun oleh visi/misi, mau membuka diri terhadap kebutuhan yang lebih luas.

“Seorang pemimpin yang baik harus terlebih dahulu lulus menjadi hamba yang baik”

Kiranya tulisan ini bermanfaatdan untuk mengingat kembali bagi pemimpin gereja yang rindu untuk melayani dengan kemampuan maksimal (mengembangkan diri dan taat menjalankan apa yang telah dimandatkan kepadanya di atas pundaknya).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s