“KEKUASAAN dan UANG BERKAWAN KARIB”


download (7)Memilih Untuk Melayani Tuhan Dari Pada Uang

Kawan, dengan uang engkau dapat …
Membeli tempat tidur,
tapi tidak dapat membeli “tidur nyenyak”.

Membeli sebuah jam,
tapi tidak dapat membeli waktu.

Membeli sebuah buku,
tapi tidak dapat membeli pengetahuan.

Membeli posisi yang bagus dalam pekerjaan,
tapi tidak dapat membeli kehormatan.

Membeli obat-obatan,
tapi tidak dapat membeli kesehatan.

Membeli darah,
tapi tidak dapat membeli kehidupan.

Jadi uang bukanlah segalanya ….

Bahkan uang terkadang membuatmu merasa sakit dan menderita.

Aku memberitahukan hal ini kepada kalian semua, karena aku adalah temanmu, dan sebagai teman aku ingin menyingkirkan semua rasa sakit dan penderitaan yang engkau alami.
Jadi segera kirimkan semua uangmu kepadaku karena aku rela menderita untukmu.
Blog Humor Indonesia Terbaik >Kumpulan humor-humor terbaik dari Indonesia

Pendahuluan

Siapa yang beruang dialah pemenangnya. Itulah yang selalu terjadi di Negeri ini, sapa saja bisa berkuasa asalkan memiliki banyak uang dan yang terlebih popularitas. yang terjadi di Indonesia saat ini adalah memiliki pemimpin yang tujuannya hanya satu, yaitu mencuri uang rakyat. Dengan banyak uang , tentunya dapat memuluskan jalan menuju orang nomor satu. Mereka yang jujur tapi tidak memiliki uang ? Tentu mereka akan tergerus . Korupsi selalu erat dengan kekuasaan. Sebab korupsi hanya bisa terjadi jika seseorang atau sekelompok orang memiliki kekuasaan. Sebaliknya, korupsi bisa menjadi sarana efektif untuk memperoleh kekuasaan.

Banyak sekali orang yang ingin menjadi pemimpin menggunakan berbagai cara . Pemimpin itu enak. Berkuasa atas banyak hal. Berkuasa atas orang-orang yang dipimpinnya, berkuasa atas materi di sekitarnya dan berkuasa melakukan apa yang disukainya. Pemikiran-pemikiran seperti inilah, banyak diantara mereka yang bernafsu menjadi orang nomer satu dengan menghalalkan segala cara.

Gampang sekali menjadi pemimpin di Indonesia, karena dalam setiap ajang pemilihan pejabat. Dari tingkat yang pejabat rendah sampai pejabat tinggi. Politik uang selalu saja ada demi untuk menarik simpati rakyat. Menurut saya tidak salah jika rakyat menerima uang yang bisa dibilang sebagai sogokan. Kenapa? Karena setelah ia terpilih juga akan kembali mengambil uang yang telah ia bagi-bagikan lewat jalan korupsi.

KITA hidup dalam satu era globalisasi yang semua informasi dapat ter-udate dalam hitungan menit dan segala sesuat menjadi for sale. Tak heran, komunikasi kita dalam keseharian hidup dikendalikan oleh uang. Dalam komunikasi sosial-politis yang demikian, tampaknya uang menjadi titik simpul relasi-relasi semisal “penguasa dan pengusaha”, atau “politisi dan kaum kapitalis”.

Dalam konteks makro, “uang” mengingatkan publik akan mega skandal seperti “bubarnya” Bank Century, Gayus Tambunan dalam perpajakan, korupsi Wisma Atlet Hambalang, atau skandal pengadaan simulator SIM yang melibatkan pejabat-pejabat negara. Dalam konteks mikro, karena uang, abdi-abdi negara di tingkat daerah pun tak jarang terlibat kasus-kasus penggelapan uang negara.

Korupsi dana bantuan sosial, laporan fiktif pengadaan fasilitas publik, atau kongkalikong di kalangan wakil rakyat dalam mengadakan fasilitas-fasilitas yang terkesan bukannya untuk sungguh-sungguh mengoptimalkan pelayanan, malah membentuk kelompok elitis yang menciptakan gap antara pihak “pelayan” di satu pihak dan subjek “yang dilayani” di pihak lain.

“Uang” lalu menjadi alat “komunikasi politik” yang bercabang. Pada satu sisi, kita tak menyangkal bahwa negara merupakan media yang mengantar pada kesejahteraan lebih banyak orang, jika alat tukar itu dimanfaatkan dengan benar. Akan tetapi, jika uang cuma dipandang sebagai kekuatan tunggal untuk memenangkan simpati massa, maka terjadi racun bagi politisi-politisi dan menjerumuskan masyarakat ke dalam tubir fatalisme sosial yang berkepanjangan.

Praktek politik ditengarai juga merambah ke berbagai lembaga agama, ormas agama, maupun lembaga/organisasi Kristen (gereja) . Jika kalkulasinya uang yang diobral, apa yang diharapkan dari suatu organisasi atau lembaga sehingga pemilihan ketuanya menggunakan politik uang? Dan darimana sang calon ketua memiliki uang demikian banyak?

Dicurigai politik uang yang terjadi dimaksudkan untuk mencegat salah satu kandidat pemimpin yang bersikap kritis dan yang berpotensi . Selain itu banyak lembaga/calon ketua yang dibantu diharapkan untuk memengaruhi umat sehingga menjadi lumbung suara yang memilih calon ketua tertentu  . Jika itu terjadi maka sang pemimpin pada hakikatnya telah menjual harga dirinya sebagai alat transaksi dengan kekuasaan yang sementara itu. Pada saat yang sama tanpa disadarinya sang pemimin ini telah menempelkan noda bagi umatnya sebagai individu-individu yang disamakan dengan kerbau yang dicucuk hidungnya yang dapat diatur serta dibawa kesana kemari sesuai dengan keinginannya. Semoga di GPIB belum terjadi…hehehehe, kalau terjadi ya ‘walahualam”

“Orang yang terpilih menjadi pemimpin karena habis-habisan mengeluarkan uang sangat diragukan kepemimpinannya. Pemimpin yang duduk menjabat karena mengeluarkan pembayaran kepada pemilihnya maka akan berupaya bagaimana caranya mengembalikan uangnya dan tidak menutup kemungkinan meraih keuntungan besar dari wewenang jabatan yang didudukinya,”.
Pemimpin materialistik sangat membahayakan umat karena senantiasa haus kekuasaan. Selain itu tipikal pemimpin seperti ini ,hanya mengedepankan keuntungan semata. Pemimpin seperti ini tidak akan peduli kepada Umat tidak akan pernah risau gereja-demi gereja dihancurkan.

Jiga suatu lembaga/organisasi gereja melakukan praktik politik uang yang dijalankan dalam satu proses pemilihan pimpinan yang sama sekali tidak mengeluarkan uang dan sembako tapi ujung dari praktek ini adalah kedudukan dan prestise sosial yang tak jarang menghasilkan uang dan balas budi terhadap mereka yang memilihnya…misalnya; ditempatkan ditempat yang “basah” . Perhatikanlah dengan seksama , bagaimana proses pemilihan pimpinan yang sarat dengan konsesi yang disepakati antar calon yang dipilih dengan yang memilihnya. Salah satu indikator termudah untuk memastikan kasus ini benar-benar terjadi adalah terpilihnya salah satu dua pemimpin yang kurang mumpuni tetapi suara pemilihnya mengalahkan kandidat yang lebih kredibel.

Terpilihnya pemimpin “transaksional” seperti ini tentu saja membahayakan roda organisasi dan umat secara keseluruhan karena berpotensi pada terjadinya transaksi transaksi lainnya yang dijadikan “satu paket” dalam konsesi. Salah satu efek negatif ialah; pemimpinnya bisa saja menjadi “ondel-ondel” (boneka), skill leader yang kurang mampu, dan kemungkinan yang dirasakan oleh organisasi adalahnya macetnya regenerasi yang sudah didesain demikian lama yang terganggu dengan munculnya figur dadakan yang juga tak jarang menciptakan kekisruhan dan ketidaknyamanan berbagai . Di sisi lain, umat secara pelan namun pasti disuguhi tontonan perjalanan organisasi yang tidak layak . Semoga di GPIB tidak terjadi…hehehehe

Bahaya lain pun dapat mengikuti terpilihnya pemimpin “transaksional” yang dipilih dengan politik uang model ini. Sering kali pimpinan yang terpilih menciptakan lingkaran khusus bersama “Pimpinan Rombongan” yang ditempatkannya bersama dengan kroni yang dipandang dapat dipercaya dan mendukungnya. Mereka pun dengan seirama akan saling mendukung satu sama lain untuk berbagai program dan projek dalam organisasi dan dengan atas nama organisasi mereka ciptakan berbagai kreasi program yang sesungguhnya “keluardari dari jalur.

Ciri mereka sama dengan para pemimpin yang lupa diri dan telinganya terlalu sensitif untuk menerima kritik, sikapnya tidak rendah hati untuk mendengar saran dan masukan saudara-saudaranya dalam organisasi. Ketika dengan terang mereka melakukan kesalahan mereka sulit untuk mengakuinya bahkan mencari hilah dan argumentasi sebagai pembenar perilakunya.

Melawan politik uang dengan kesejatian pemimpin

Pemimpin (Kristen) sejati itu harus memahami; pertama kememimpinan itu adalah esensi, kepemimpinan adalah sesuatu yang melekat pada “esensi” manusia. Kedua kememimpinan “delegasi”, artinya kelayakAn seorang pemimpin, bukan hasilkarbitan tim sukses, atau hasil obral janji dan membagikan uang gizi. Kepemimpinan adalah pendelegasian dari Tuhan. Ketiga kepemimpinan adalah “berkat”…luhur dan mulia. Jangan dinodai dengan hal-hal yang mendukakan dan membuat murka Tuhan.

Bagaimana dengan GPIB ?

“Sesuai dengan tri tugas gereja, “kriteria pemimpin GPIB harus seorang yang memberitakan firman Tuhan secara utuh , menjalankan sakramen dengan benar dan disiplin gereja”. Hal itu dicakup dalam tri tugas panggilan gereja. Yaitu menjalankan persekutuan (Koinonia) menjalankan kesaksian Yesus ke seluruh dunia (marturia), menjalankan pelayanan dan melayani sesama manusia (Diakonia). Inilah tri tugas gereja yang dijalankan oleh pemimpin GPIB,” .

Kita harus menyingkirkan segala dukungan eksternal. Baik yang berupa dukungan politik praktis, money politik dan unsur nepotisme (kesukuan dan alumni). “Karena itu akan menodai kesakralan pemilihan pemimpin,” . Pemimpin ditugaskan oleh gereja untuk memelihara identitas gereja atau hakekat gereja sebagai tubuh Kristus yang melayani di dunia ini.”
“ GPIB sebagai gereja bukan organisasi murni. Untuk itu perlu dibedakan yang mana menjalankan roda organisasi dengan ilmu prinsip manajemen dengan menjalankan pelayanan gereja yang merupakan tubuh kristus,” .Tetapi, bukan berarti prinsip-prinsip manajerial dihilangkan.

Perbedaannya lagi, dalam pemilihan pemimpin sebuah organisasi non gereja orientasinya adalah power yang dimana siapa yang berkuasa itu yang memimpin. Sedangkan GPIB dalam memilih pemimpin orientasinya adalah pelayanan. Karena sesuai dengan Markus 10 ayat 45. Yesus datang ke dunia bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Seperti itu juga lagi pemimpin yang harus melayani,” .

Kita semua harus membedakan Pemilukada dan pemilihan pemimpin organisasi gereja. GPIB membutuhkan pemimpin yang menjalankan prinsip kristokrasi yang menerapkan kepemimpinan Kristus dan dalam setiap kegiatan pastoralnya, pemimpin tidak membebani jemaatnya .

“Jangan memilih pemimpin hanya karena melihat dari penampilan semata. Pemimpin harus mampu menyuarakan keberadaan gereja dan menyejahterakan jemaat ” . Tugas dan tanggungjawab GPIB bukanlah sekadar memilih figur pemimpin tetapi membangun sistem organisasi dan pelayanan yang lebih baik dan rapi, yang menurut saya harus dituangkan dalam agenda yang jelas. Terutama: merumuskan ulang visi GPIB yang mungkin sudah kedaluwarsa.

kita semua berharap GPIB dapat berpikir jernih , dan melakukannya dalam pergumulan doa dan bimbingan firman Tuhan. Kita berharap sinode menempatkan kepentingan gereja di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Jujur, saya lebih percaya kepada sistem daripada orang. Bagi saya sistem yang baik bukan saja dapat menutupi kelemahan orang per orang, tetapi juga mendorong orang yang baik semakin baik, dan orang yang “jelek” menjadi baik.
Selama dilakukan dengan kesantunan dan moral yang ketat, dan dilandasi oleh semangat mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan dan gereja, Itu akan menjamin bahwa GPIB tidak akan pernah dipimpin oleh seorang “ ondel-ondel” yang tidak jelas rekam jejak dan pengalaman kepemimpinannya, tetapi oleh seorang pelayan yang memang mendapat kepercayaan dari banyak orang. Bukan karena  uang !

Namun baiklah kita juga sadar sistem pemilihan GPIB yang sangat demokratis ini juga memiliki cost atau harga yang sangat mahal. Tidak bisa dihindarkan bahwa pemilihan pemimpin GPIB sedikit-banyak sudah mirip dengan Pemilihan Umum atau Pilkada (pemilihan kepala daerah), kadang dibarengi dengan manuver, intrik dan mungkin (baca: mungkin) juga dengan “politik uang”( semoga saja tidak). Apalagi bila pemilihan bercampur dengan sentimen kesukuan dan alumni. Kita semua tidak naif. Di gereja mana pun, pemilihan pemimpin gereja tetap melibatkan unsur manusia dan Tuhan. Kita tidak bisa menghapuskan seluruh dinamika pemilihan. Dan Tuhan memberi kita tugas dan tanggungjawab untuk memilih orang yang kita anggap paling pantas memimpin gereja ini dengan perkenan Tuhan.

Kita tidak boleh lagi terjebak hanya kepada pertanyaan siapa yang harus memimpin tetapi apa yang harus dilakukan pemimpin mendatang itu dan bagaimanakah mereka melakukannya. Jika tidak, maka kita akan terus-menerus berkutat di masalah dan mengulang kesalahan yang sama.

Baca Matius 6: 19-24!
“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon, pada waktu yang sama.”

Banyak orang Kristen yang apabila diajukan pertanyaan kepadanya, “Mana yang kamu lebih cintai, Tuhan atau uang?”, maka tanpa ragu, mereka akan menjawab, ‘Tuhan.’ Sebagian besar orang-orang Kristen akan ‘menyangkal’ kalau mereka lebih mencintai uang dari pada Tuhan.

Manusia adalah mahkluk yang secara alami berorientasi kepada materi.

Pada zaman Yesus, para pemuka agama umumnya sangat dikuasai oleh materi. Orang-orang Saduki dan Farisi tergolong dikalangan orang-orang yang sangat material, tamak dan manipulasi. Pengajaran yang salah selalu membawa orang kepada nilai-nilai hidup yang salah, yang akhirnya terjerumus kepada hal-hal yang tidak bermoral sama sekali.

Sejarah gereja, dari dulu hingga sekarang, membuktikan bahwa banyak para pemimpin-pemimpin gereja yang memakai jabatannya atau karunianya untuk beroleh banyak uang serta menunjukkan kepada pengikutnya bahwa sesuatu yang rohani tidak dapat dipisahkan dengan materi. Dengan kata lain, kesuksessan seseorang diukur dari kemakmuran dan penampilannya. Oleh sebab itu, Yesus sangat mengecam para pemuka agama Yahudi, pada waktu itu. Tetapi, zaman sekarangpun banyak hamba Tuhan yang memakai kaca mata orang-orang Farisi dan Saduki dalam hal materi. Mereka mengajarkan Teologi kemakmuran supaya mereka dapat menikmati hidup dalam kemewahan.

Ada sepuluh contoh di Alkitab orang-orang yang berusaha untuk melayani Tuhan dan pada waktu bersamaan melayani uang:

1. Nabi Bileam: Menggunakan karunia untuk mencari keuntungan
Bileam adalah salah seorang nabi dari bangsa Israel. Ia memiliki karunia nabiah, yang pada mana siapa yang ia kutuki akan terkutuk dan siapa yang ia berkati akan diberkati. Raja Moab menyewa nabi Bileam untuk mengutuki bangsa Israel, tetapi Tuhan memperingatkannya agar ia tidak mengutuki bangsa Israel, melainkan sebaliknya ia harus memberkati mereka.
Hal ini menyebabkan raja Moab marah, lalu nabi Bileam berusaha meredakan amarah raja dengan memberikan nasehat kepada raja untuk menyesatkan orang Israel secara moral karena ia tidak bisa mengutuki mereka dan akhirnya raja menerima nasehatnya, dan nabi Bileam menerima uang dari raja. Bileam kehilangan uang dan nyawanya ketika Israel mengalahkan Moab (Bilangan 22-24; Yudas 11; Wahyu 2:14).

2.Lot: Kompromi dengan kejahatan
Lot adalah anak saudara Abraham. Ia pergi bersama Abraham ke negeri Kanaan, dimana ternak Lot dan Abraham bertambah banyak sehingga tanah negeri itu tidak cukup luas untuk ternak mereka berdua. Akhirnya Lot berpisah dari Abraham dan Lot memilih tinggal dekat Sodom, daerah yang sangat subur. Hubungan dagang yang dilakukan Lot dengan orang-orang Sodom, membuatnya terpengaruh dan kompromi dengan kebiasaan teman-teman bisnisnya. Awalnya ia ingin menjadi contoh buat mereka, tetapi akhirnya ia kehilangan seluruh harta miliknya dan sebagian besar keluarganya (Kejadian 12-14,19)

3.Yakub: Menggabungkan iman dengan kekuatan sendiri
Yakup sudah diyakinkan Tuhan bahwa ia akan diberkati, tetapi ia merasa bahwa ia harus menolong Tuhan untuk memberkatinya. Ia mencuri hak kesulungan saudaranya, Esau dan sekaligus mencuri berkatnya. Juga dengan cara yang cerdas ia mendapatkan ternak mertuanya. Tuhan mendatangkan krisis kepada Yakub ketika Esau bersama 400 orang hendak menemuinya, ia sangka Esau ingin membalas dendam akibat masa lalu. Sebelum Yakub mengadakan pemulihan dengan saudaranya, Esau, malam itu ia bergumul dengan Tuhan semalaman. Melalui pengalaman ini, ia memiliki kepercayaannya yang baru terhadap Tuhan. Tetapi konsequensi dari perbuatan Yakub dimasa lalu menghadirkan musibah dan keretakan dalam rumah tangganya, yakni diantara isteri-isterinya dan anak-anaknya. (Kejadian 27-34).

4.Akhan: Ketamakan
Akhan adalah tentara Israel yang di pimpin oleh Yosua yang ikut berperang mengalahkan Yerikho. Ia mengetahui bahwa Allah berjanji untuk memberi kemenangan dan akan menyerahkan kota Yerikho kepada Yosua dan tentaranya. Dalam melaksanakan tugasnya, karena ketamakannya, Akhan menyembunyikan sebagian dari barang jarahan yang seharusnya dibinasakan karena najis, dengan demikian ia melanggar perintah Tuhan, yang berbunyi, ‘…..jagalah dirimu terhadapa barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan….supaya jangan membawa kemusnahan atas perkemahan Israel dan mencelakakan mereka’ (Yosua 6:18). Akhirnya, Tuhan menghukum Akhan dan seluruh keluarganya dengan dilempari batu sampai mati (Yosua 7).

5.Gideon: Mengkomersialkan agama
Gideon dipakai Tuhan untuk mengalahkan orang –orang Midian dan membebaskan bangsa Israel dari kekuasaan bangsa itu. Bangsa Israel meminta Gideon menjadi raja mereka, ia menolaknya. Tetapi ia meminta agar kepadanya diberikan semua perhiasan emas hasil jarahan. Dari perhiasan emas itu ia membuat baju efod emas yang indah dan dipakai oleh imam-imam Yahudi. Baju efod ini menjadikan daya tarik bagi orang-orang luar. Walaupun baju efod ini dipakai untuk penyembahan kepada Tuhan, ini membuat orang Israel berlaku serong dengan menyembah efod tersebut (Yos. 8:27). Gideon mempunyai banyak isteri dan 70 anak. Setelah ia meninggal, Tuhan menghukum keluarganya dengan membiarkan seorang anak laki-laki (yang bernama Abimelekh) dari gundiknya membunuh 60 orang saudaranya dan kemudian ia menjadi raja, yang kedudukan ini sebelumnya pernah ditolak oleh ayahnya. (Hakim 8:24- 9:6).

6.Gehazi: Mencari keuntungan dari pelayanan orang lain
Gehazi adalah pelayan nabi Elisa. Ketika Naaman, panglima dari Aram, datang kepada nabi Elisa minta disembuhkan dari penyakit Lepra, nabi Elisa memberi instruksi melalui Gehazi apa yang harus dilakukan Naaman. Setelah Naaman disembuhkan dari Lepra melalui mujizat, ia ingin memberikan hadiah kepada nabi Elisa, tetapi nabi Elisa menolaknya. Gehazi mendengar waktu nabi Elisa menolak tawaran Naaman, lalu ia lari menyusul Naaman, membohongi Naaman dan meminta kembali hadiah tersebut dari Naaman. Gehazi ditegur dan dikutuki oleh Elisa, sehingga ia dan keturunannya mendapatkan penyakit lepra Naaman (2 Raja-raja 5).

7.Orang muda yang kaya: Mengabdi kepada Tuhan dan uang
Orang muda yang kaya, selain memiliki kekayaan, ia juga memiliki karakter yang luar biasa. Ia menunjukkan ketekunannya dengan datang kepada Yesus, karena ia menghormati Yesus, dan menunjukkan kemauan untuk diajar karena ia memiliki moral yang baik sejak muda.Yesus hanya menemukan satu kelemahan pada anak muda ini, yaitu cinta akan uang. Yesus memerintahkan untuk menjual seluruh harta miliknya dan membagikan kepada orang-orang miskin, lalu mengikuti Dia. Mendengar hal itu orang muda yang kaya berjalan meninggalkan Yesus dengan sedih, karena hartanya sangat banyak. Dari kejadian ini Yesus menjelaskan betapa sulitnya seorang kaya masuk kedalam kerajaan Sorga (Lukas 18:18-30).

8.Yudas: Menjual informasi untuk mendapatkan uang
Yudas adalah murid yang paling dipercaya, ia satu-satunya murid yang ditunjuk menjadi bendahara karena perhatiannya terhadap uang sangat menyolok. Ia menimbang segala sesuatu berdasarkan keuntungan untuk uang khas dan untuk pribadi. Ia tidak bisa memahami Maria, ketika ia mengurapi kaki Yesus dengan minyak yang sangat mahal. Ia mengatakan bahwa minyak yang mahal itu bisa dijual dan diberikan kepada yang miskin. Yudas mencari uang dengan menjual informasi kepada para pemimpin agama, dengan asumsi bahwa Yesus bisa melarikan diri dari kematian. Ketika ia sadar bahwa ia telah mengkhianati darah orang yang tak bersalah, ia mengembalikan uangnya dan menggantung dirinya (Matius 26, 27).

9.Ananias dan Saphira: Membeli pujian umum
Ananias dan Saphira menjadi bagian dari pemerhati masyarakat pada waktu gereja mula-mula. Waktu Barnabas menjual tanahnya dan memberikan uangnya kepada pemimpun gereja, Ananias dan Saphira melihat penghargaan dan pujian dari jemaat terhadap Barnabas. Mereka ingin mendapat pujian dan penghargaan yang sama, lalu mereka menjual tanah mereka, tetapi setelah menjualnya, mereka bersepakat untuk menahan sebagian dari uang penjualan tersebut. Mereka ingin mendapat pengakuan umum, dengan masih memiliki sebagian harta. Namun perbuatan bohong mereka tidak bisa ditutupi oleh kepekahan Petrus. Secara keras Petrus menegur mereka, dan segera sesudah itu Ananias dan Saphira mati terjatuh dihadapan Petrus (Kis Rasul 5).

10.Simon tukang sihir: Berusaha membeli karunia rohani
Simon seorang tukang sihir, sebelum diselamatkan, ia seorang yang sangat berkuasa, banyak orang kagum akan kuasa sihirnya dan sangat disanjung-sanjung. Saat ia melihat Petrus menumpangkan tangan dan orang-orang menerima kuasa Roh Kudus, ia merasa bahwa itu lebih hebat dari kuasa sihirnya. Ia memperhitungkan keuntungan pribadi dan kekaguman yang ia bisa peroleh dengan kuasa itu, lalu ia menawarkan pada Petrus uang untuk membeli kuasa itu. Petrus menegurnya dengan keras atas pandangannya yang salah tentang pelayanan Roh Kudus. Petrus menelanjangi akar dari kejahatannya dengan berkata, ia melihat hati Simon seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan. (Kis. Rasul. 8:9-24).

“ Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela … dan jangan karena mau mencari keuntungan , tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah … tetapi hendaklah kamu menjadi teladan .”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s