Etos Kerja


                Pengertian Etos Kerja

           Orang sering mentelaah dan melihat kualitas sebuah  karier tertentu dalam hal pekerjaan  rutinitas, bagaimana produktivitas, system kerja, penghargaan waktu dan efesiensi kerja mereka. Kata yang sering dipakai dalam penilaian tersebut adalah “etos kerja”. Etos kerja juga sering dikaitkan dengan tingkat kesehjateraan dan pendapatan perkapita sebuah bangsa atau masyarakat tertentu. Jika sebuah bangsa atau kelompok masyarakat punya tingkat pendapatan perkapita warganya kurang atau tidak makmur maka sering diduga bahwa penyebabnya ada pada ethos kerja.

Etos

Kata “ethos” merupakan asal-usul dari kata etika dan etis.. Dalam kamus Webster’s Collegiate kata Ethos diberi arti, “the distinguishing character, sentiment, moral nature, or guiding beliefs of a person, group or institution”    ( ciri-ciri khas, perasaan, dasar moral atau keyakinan yang menuntun seseorang atau suatu kelompok atau lembaga). Dalam defenisi ini dapat kita lihat bahwa “ethos” juga bisa menunjuk kepada seseorang, tetapi itu jarang digunakan.

            Oxford Dictionary mengartikan etos dengan “ characteristics of a community or of a culture, code of values by which a group or society live” (ciri-ciri khas dari suatu komunitas atau kebudayaan, penanda nilai-nilai dimana sebuah kelompok atau masyarakat berada).

Dalam kamus bahasa Indonesia terbitan Depdikbud, kata etos diberi arti; “Pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial, kebudayaan, sifat, nilai, dan adat istiadat, khas yang memberi watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial dan masyarakat”. Di sini kita bisa melihat lagi bahwa etos itu mempunyai arti yang dalam dan luas karena mencakup nilai, budaya, adat, watak dll.

            Etos menurut Adolf Heuken adalah keseluruhan kesadaran akan yang baik dan jahat, pandangan dan sikap terhadap nilai, dasar dan pola tinggkah laku. Singkatnya, “etos” adalah semangat yang mendasari cara hidup dan bertindak. Menurut dia ethos merupakan sesuatu yang terdapat dalam masyarakat dan kelompok profesi. Setiap masyarakat dan lingkungan kebudayaan memiliki ethos yang berwarna khusus4. Menurut Bertens karena ia merupakan suasana khas dalam suatu kelompok, bangsa atau system maka muncullah istilah ethos kerja, ethos profesi dll. Suasana khas ini dibentuk oleh banyak sikap dan sifat, dan dipahami dalam arti baik secara moral.

            Eka Dharmaputra, memberi penegasan bahwa ethos itu suatu system nilai yang kita pegangi secara fungsional. Fungsional karena benar-benar sesuatu yang mendasari, mengisi dan mengarahkan tindakan. Ethos itu adalah semacam nilai yang membudaya dalam sebuah masyarakat.

Kalau kita lihat pengertian dari beberapa ahli dan kamus di atas, maka dapat dipahami bahwa “ethos” itu adalah suatu sistem nilai, dalam suatu kelompok atau bangsa yang telah mengakar atau membudaya. Karena ia adalah suatu sistem nilai maka ia akan menjadi panduan bagi seseorang khususnya dalam sebuah kelompok atau institusi.  

 Kerja

Kata ini pasti tidak asing lagi bagi kita, bahkan kita semua telah tahu apa arti kata “kerja”. Bahasa Indonesia memberi arti: Kalau “kerja” dihubungkan dengan Agama, maka akan kita temukan bahwa manusia dirancang Tuhan sebagai makluk yang bekerja. “Bekerja” adalah perintah Tuhan sejak manusia pertama diciptakan. Bahwa manusia itu harus bekerja, agar dapat memenuhi keperluan-keperluan hidupnya.

Kerja dalam arti luas adalah  suatu kegiatan esensial,prinsipil , iminen, dan istimewa yang dilakukan setiap orang untuk memperoleh uang . Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi. Jika dijalani  dalam waktu yang lama disebut sebagai karier.          Lowongan pekerjaan yang paling banyak diinginkan orang Indonesia rata-rata adalah PNS, dan pegawai BUMN. Anggapan mereka mungkin karena jadi pegawai negeri atau pegawai BUMN gajinya stabil dan terjamin.

 Pengertian Ethos Kerja

Ethos kerja” terdiri dari dua kata yaitu ethos dan kerja. Etos kerja  bisa diartikan sebagai kualifikasi,limitasi  kekhasan (budaya) bekerja dalam suatu kelompok yang dilandasi pada suatu sistem nilai yang fungsional. Dalam hal ini menyangkut integritas yang kokoh (sikap dan sifat) yang telah membudaya di dalam menjalankan kerja. Dengan demikian ethos kerja akan menjadi perilaku integritas yang telah mengkultur  dalam suatu  institusi yang  memberi motivasi kepada mereka dalam menjalankan pekerjaannya.

Ethos kerja sudah dikategorikan sebagai kultur  suatu bangsa dalam bekerja. Karena itu ia berjalan secara otomatis dalam sebuah kelompok sosial atau institusi. Pada ruang lingkup minor, misalnya dalam perusahaan, ethos kerja sering juga dipengaruhi oleh kepemimpinan pada perusahaan itu.

Kata lain yang berkaitan erat dengan etos dan etika adalah profesionalisme. Manusia terdiri dari batin, pikir, dan lahir. Setelah digabungkan, maka kira-kira didapatkan gambar seperti di bawah, cmiiw.


index

Etos kerja dimasukkan ke dalam kategori kepercayaan, yang bisa berubah sesuai dengan masukkan  dari pikiran. Etos kerja menjadi landasan berpikir profesionalisme. Dan selanjutnya akan diwujudkan dalam bentuk sistim  kerja.

Ada dua hal mendasar  dari luar yang mengimpak atau mengimpresi  suatu etos kerja, yaitu etos kerja lingkungan dan etika kerja. Etos kerja lingkungan adalah  dampak  nyata yang diberikan oleh lingkungan . Adapun etika kerja adalah bagian dari kesisteman organisasi, yang biasanya dituangkan dalam bentuk formal prosedural. Sebagai contoh adalah kondisi etos kerja di negara ini. Etos kerja di negara ini telah diketahui bersama berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, terbukti dari banyaknya kasus korupsi. Maka salah satu jalan melawan etos kerja lingkungan yang buruk ini adalah dengan menegakkan etika kerja internal organisasi.

Elastisitas atau variable  yang berkaitan dengan gambar di atas sangatlah banyak, sehingga sulit untuk digambarkan semuanya di dalam satu diagram sederhana. Untuk itu dipilih 4 elastisitas  saja yang dianggap paling menonjol. Dua elastisitas pertama adalah penyelesaian  kerja dan hasil kerja yang baik. Kedua elastisitas  ini termasuk dalam keyakinan yang dimiliki setiap orang. Adalah merupakan keinginan normal dari setiap manusia untuk menyelesaikan pekerjaannya dan memberikan hasil yang terbaik. Dua elastisitas berikutnya adalah, sistem reward and punishment yang merupakan bagian dari etika kerja.

                                                                       etos kerja 2

Profesionalisme di sini diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas dan baik. Etos kerja dapat dibentuk dengan penerapan reward-punishment yang tepat. Reward, meskipun lebih rumit, tapi bisa memberikan hasil yang positif, yaitu tuntas dan baik. Sedangkan punishment, biarpun lebih mudah dan sederhana, memang bisa mendorong ketuntasan kerja tetapi berpotensi menghasilkan kualitas yang buruk. Ini bisa dilihat dari banyaknya bangunan pemerintah yang ambruk padahal masih baru. Bagi pemborong tidak ada mekanisme reward, yang ada hanya punishment, bahkan sejak sebelum proyek di mulai, yaitu dalam bentuk suap, sunat, dan sejenisnya.

Opini ini hanyalah suatu bentuk keprihatinan atas rendahnya etos kerja di negeri ini. Semoga etos kerja di negeri ini segera membaik dan sehat kembali, tidak kalah dengan etos kerja di negara-negara lainnya.

Pada Webster’s New Word Dictionary, 3rd College Edition, etos didefinisikan sebagai kecenderungan atau karakter; sikap, kebiasaan, keyakinan yang berbeda dari individu atau kelompok. Bahkan dapat dikatakan bahwa etos pada dasarnya adalah tentang etika.

Setiap bangsa memiliki Etika; ini merupakan nilai-nilai universal. Nilai-nilai etika yang dikaitkan dengan etos kerja seperti rajin, bekerja, keras, berdisplin tinggi, menahan diri, ulet, tekun dan nilai-nilai etika lainnya bisa juga ditemukan pada masyarakat dan bangsa lain.

Dalam perjalanan waktu, nilai-nilai etis tertentu, yang tadinya tidak menonjol atau biasa-biasa saja bisa menjadi karakter yang menonjol pada masyarakat atau bangsa tertentu. Muncullah etos kerja Miyamoto Musashi, etos kerja Jerman, etos kerja Barat, etos kerja Korea Selatan dan etos kerja bangsa-bangsa maju lainnya. 

Bahkan prinsip yang sama bisa ditemukan pada pada etos kerja yang  berbeda sekalipun pengertian etos kerja relatif sama. Sebut saja misalnya berdisplin, bekerja keras, berhemat, dan menabung; nilai-nilai ini ditemukan dalam etos kerja Korea Selatan dan etos kerja Jerman atau etos kerja Barat.

              Bila pengertian etos kerja dire-definisikan,  etos kerja adalah respon yang unik dari seseorang atau kelompok atau masyarakat terhadap kehidupan; respon atau tindakan yang muncul dari  keyakinan yang diterima dan respon itu menjadi kebiasaan atau karakter pada diri seseorang atau kelompok atau masyarakat. Dengan kata lain, etika kerja merupakan produk dari sistem kepercayaan yang diterima seseorang atau kelompok atau masyarakat.

Jansen Sinamo menyajikan 8 Etos Kerja Professional dengan ciri-ciri sebagai berikut:

§  1. Kerja adalah Rahmat; Aku Bekerja Tulus Penuh Rasa Syukur

§  2. Kerja adalah Amanah; Aku Bekerja Benar Penuh Tanggungjawab

§  3. Kerja adalah Panggilan; Aku Bekerja Tuntas Penuh Integritas

§  4. Kerja adalah Aktualisasi; Aku Bekerja Keras Penuh Semangat

§  5. Kerja adalah Ibadah; Aku Bekerja Serius Penuh Kecintaan

§  6. Kerja adalah Seni; Aku Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas

§  7. Kerja adalah Kehormatan; Aku Bekerja Tekun Penuh Keunggulan

§  8. Kerja adalah Pelayanan; Aku Bekerja Paripurna Penuh Kerendahanhati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s