Rabu 24 April 2013> Ulangan 17:1 > Persembahan yang Hidup & tak Bercela


17:1 Janganlah engkau mempersembahkan bagi TUHAN, Allahmu, lembu atau domba, yang ada cacatnya, atau sesuatu yang buruk; sebab yang demikian adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.”

Mengapa ada larangan tersebut…apakah larangan tersebut  muncul karena bangsa Israel sering mempersembahkan kurban yang cacat dan buruk ?… Atau karena sekedar pencitraan?

Sebagaimana yang kita ketahui, dalam PL ada suatu tuntutan untuk memberi  persembahan hewan  yang tak bercacat. Kemudian barulah orang yang mempersembahkan kurban harus mengidentifikasikan dirinya dengan binatang itu. Lalu orang yang mempersembahkan harus membunuh binatang itu.  Mengapa Allah menginginkan korban yang tak bercela   ? karena pada waktu itu bangsa Israel melakukan dosa, sebab jika ada dosa maka Allah akan murka terhadap bangsa tersebut.

Korban Persembahan Yang Hidup

Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu atau domba, haruslah mereka mempersembahkan yang tidak bercela. Itu berarti persembahan yang disebutkan adalah pengorbanan yang memerlukan curahan darah.

Berbeda dengan yang dijelaskan di atas, maka nas ini menegaskan pemberian persembahan berupa ternak atau barang lainnya bukan lagi sebagai jalan penebusan dosa atau kesalahan umat percaya. Dan dalam nas ini tertulis dengan jelas bahwa, “tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba betina dapat menghapus dosa” (Ibr. 10: 4). Penebusan dosa orang percaya hanya dapat dilakukan melalui iman dengan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya; maka melalui tubuh dan darah-Nya yang tersalib di Golgota hal itu sudah menjadi jalan penebusan dosa-dosa kita.

Persembahan yang benar telah disempurnakan Tuhan Yesus. Yang Tuhan harapkan  totalitas hidup, seperti Yesus yg menyerahkan totalitas hidupNya sebagai persembahan yg sempurna. Dalam Roma 12:1-2, ditekankan bahwa persembahan yang benar adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Mempersembahkan tubuh berarti totalitas hidup orang percaya, baik waktu, tenaga, bakat dan seluruh yang ada pada dirinya kepada Allah.

Setiap pengorbanan menggambarkan aspek Kristus dan perjalanan rohani kita bersama-Nya. Semua aspek dari persembahan tersebut diberikan secara detail. Tidak ada yang disisakan untuk imajinasi dan pengertian manusiawi.

“Kekudusan Allah menuntut pengorbanan diri”;

“Kemuliaan Allah memerlukan peraturan-peraturan tertentu yang harus ditaati tidak ada kompromi”;

“Kesempurnaan Allah mengharapkan hal yang terbaik sesuai jenisnya, yaitu kudus dan tak bercela”;

“Kedaulatan Allah berarti ketaatan mutlak atas segala yang difirmankan.”

Semua area hidup ini harus diserahkan, dimurnikan, dan diperlengkapi oleh Roh Kudus. Kristus adalah korban bakaran kita. Dia telah “menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah” (Ef. 5:2). Dengan rela Dia menyerahkan diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak Bapa di Surga.

Kita tidak diselamatkan karena perbuatan, tapi kita diselamatkan untuk melakukan  perbuatan yang baik. “Korban bakaran berbicara tentang penahbisan pribadi kita sebagai bejana untuk Allah.”  Paulus menasehatkan kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Rm. 12:1).

Ketika kita dengan rela menyerahkan hidup untuk melakukan kehendak Allah di generasi kita, kita menjadi persembahan yang di bakar oleh Roh Kudus. Sekarang kita adalah dupa yang harum bagi Tuhan.

Kita harus  rela melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya dan mau meninggalkan segala hawa nafsu dunia kita untuk hidup baru dan terus melakukan yang terbaik dalam perkataan, perbuatan, dan pikiran kita hanya untuk memuliakan Kristus yang mau menjadi korban untuk kita .

Pengorbanan kita tidak merupakan penebusan atas dosa dalam arti apapun. “karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).

Tuhan tidak lagi menuntut persembahan-persembahan yang mati, seperti dalam Perjanjian Lama. Sebab Yesus Kristus telah mempersembahkan tubuh-Nya untuk mengapus yang pertama (persembahan yang mati) supaya yang kedua (persembahan tubuh yang hidup) ditegakkan. Tuhan tidak menuntut kita untuk mati bagi Dia, yang dikehendaki-Nya ialah agar kita hidup bagi-Nya. Tuhan juga tidak memerintahkan kita untuk memusuhi dunia, sebab Dia sendiri sangat mengasihi dunia ini (band. Yoh. 3:16). Yang dikehendaki-Nya adalah agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini (lihat Rm. 12:2).

Jadi, seperti Yesus yg telah mempersembahkan dirinya, maka saya ingin mengajak kita untuk mempersembahkan hidup ini dengan kesediaan berkorban dan menderita bagi orang lain. 

 Karena jika kita sanggup melakukannya, itu berarti kita juga  sanggup “Bermitra dan Menyetarakan diri kita untuk Kesetiakawanan Sosial.” “Ada Banyak tangan-tangan yang mengacung berharap dan membutuhkan uluran tangan Anda”

images

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s