Minggu 25 April 2013> Yosua 6:1-5 “Tembok Sterofom”


Sebelumnya di tahun 1987, di dekat Tembok Berlin, Presiden Reagan menyerukan pidatonya yang terkenal ”Mr. Gorbachev, tear down this wall!” menantang Pemimpin Uni Sovyet tersebut untuk meruntuhkan Tembok Berlin yang telah memisahkan bangsa Jerman sejak 1961. Sisanya adalah sejarah: Jerman kembali bersatu di tahun 1990, Uni Sovyet bubar di hari Natal 25 Desember 1991 menyisakan 15 republik di bawahnya menjadi negara yang independen. Perang Dingin ternyata berakhir bukan dengan kekuatan nuklir, tetapi oleh parade lilin yang secara damai menyerukan pembebasan. Runtuhnya tembok dan tirai pemisah ideologis kemudian melahirkan jembatan-jembatan penghubung umat manusia sedunia, yang makin didorong dengan berkembang infomasi dan telekomunikasi. Sejak itu, globalisasi mulai “menjangkiti” dan menjangkau lebih banyak bagian dunia, termasuk Indonesia. Indonesia di awal 1990-an mulai memasuki tahap keterbukaan yang pada saatnya turut membidani gerakan reformasi di tahun 1997, hingga kita akhirnya tiba di saat sekarang ini.

Kisah runtuhnya Yerikho ini menjadi salah satu kisah Alkitab yang sangat fenomenal karena runtuhnya hanya dengan teriakan yang keras dan bunyi sangkakal itu semua karena  kuasa Tuhan . Hal itu sudah dikatakan sebagai janji Tuhan kepada Israel, “Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.” (Yosua 6:2). Artinya, masalah yang dihadapi memang bukanlah masalah yang ringan. Tetapi dengan mengikuti apa yang dikatakan TUHAN, maka Ia memberikan jaminan bahwa kemenangan akan kita peroleh.  “I have delivered” (Aku telah menyerahkan…) menunjukkan bahwa Tuhan memberi kepastian kemenangan.

Banyak pengkotbah yang mengajarkan bahwa hal itu terjadi karena Allah mengutus malaikat untuk meruntuhkannya. Ada ilmuwan yang menduga bahwa tembok Yerikho runtuh karena getaran suara (resonansi) Sangkakala dan teriakan bangsa Israel, namun, penelitian menunjukkan robohhnya tembok Yerikho ke luar bukan ke dalam. Ada juga yang mengatakan bahwa tembok Yerikho runtuh karena gempa bumi.

“Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya” (Ibrani 11:30). Ini berarti tembok Yerikho roboh bukan karena kekuatan manusia ataupun alam tetapi oleh kuasa Tuhan dan bangsa Israel menjadi perantaranya.

Kalau kita tau isi hati   Yosua dan bangsa Israel, mungkin bagi mereka  adalah hal yang musykil/absurd untuk meruntuhkan tembok tersebut hanya dengan teriakan dan tiupan  sangkakala, tetapi itulah kuasa Tuhan. Perintah  Tuhan hanya , “Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah katapun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu: Bersoraklah!” (Yos 6:10). Sehingga ketika mereka diperintahkan bersorak, pastilah teriakan yang keluar dari hati yang mengandalkan Tuhan sepenuhnya karena tidak ada yang dapat mereka lakukan. Alias menyerah. Teriakan seperti itu tentu bukan keluar dari mulut saja atau ikut-ikutan, tetapi pekik sorak yang berwarnakan iman atas kepastian yang Tuhan janjikan.

Ada pelajaran yang dapat kita tarik dari runtuhnya tembok Yeriko,Yaitu: Tuhan ingin umatNya agar  jangan lari dari setiap persoalan yang ada di hadapan kita.

Bagi TuhanTerlalu keenakkan menyerahkan begitu saja  kota Yeriko kepada Israel.  Tuhan lebih memilih untuk memberi pelajaran kepada mereka. Mereka harus taat , tidak berbicara satu kata pun selama mengelilingi kota Yerikho, mungkin musuh mengolok-olok atau mencemooh mereka, menganggap hal itu perbuatan bodoh, tetapi orang Israel harus ingat  akan perintah Tuhan agar menjaga sikap dan mulut mereka.

Jika kita membayangkannya, betapa membosankannya menjalankan rutinitas,  bahkan mungkin dengan bersungut-sungut mereka  mengelilingi tembok itu, dengan cara yang sama dan jarak yang sama setiap hari selama 6 hari.  Bahkan dikatakan hari ke 7 disuruh berkeliling 7 kali tanpa melakukan apapun. Tuhan ingin bangsa Israel belajar bersabar. dan Ia ingin menghilangkan  “sungut-sungut” atau “manja” mereka, karena di padang gurun mereka selalu bersungut-sungut. TUHAN mengajarkan kepada kita untuk mengucap syukur terlebih dahulu kepada ALLAH sekalipun persoalan yang sedang kita hadapi belum terselesaikan. Inilah prinsip yang harus ada di dalam kehidupan orang Kristen.

Jika kita baru dapat bersyukur setelah memperoleh kemenangan, apa bedanya dengan orang yang tidak mengenal TUHAN? . Jadi metode peperangan yang digunakan oleh TUHAN sangat berbeda dengan apa yang digunakan oleh orang dunia. Tuhan mengajari kita untuk berperang dan setelah itu kita sendiri harus mau maju menghadapi dan memerangi musuh yang ada di hadapan kita. Tuhan juga mengajarkan bahwa bukan kerja keras yang diposisikan di depan, melainkan ketaatan kepada Allah. Tembok kalau dia bisa berbicara, dia akan katakan: Manusia membangun “aku”—dan “aku”  berdiri kukuh dengan angkuh, menghalangi siapa pun yang ingin menerobosnya.

Mereka membuat  aturan mengenai “aku” dan segala macam larangan untuk tidak menembusnya. kata Kahlil Gibran, “Hanya orang idiot dan para jenius yang melanggar aturan manusia. Dan hanya merekalah yang paling dekat ke Hati Tuhan.” Intinya adalah hati—tetapi Tembok itu tidak dibangun dengan hati, melainkan dengan nafsu yang naif, kebutaan yang daif. Mereka ketakutan jika siapa pun memasuki tempat-di-balik-Tembok, dan kemudian menjaga Tembok itu dengan para penjaga bersenjata—penjaga yang sama naif dan buta. Yang mereka lakukan hanya menjaga, berdiri seolah penguasa, dan kemudian memutuskan vonis atas siapa pun yang masuk ke sana.

Elegi tentang  manusia

Di dalam kebutaan serta kenaifan itulah hati dikuburkan/masuk dalam liang lahat. Ia menjadi musuh siapa pun yang membangun dan memihak Tembok itu—bongkah berhala yang seharusnya telah dimusnahkan demi kesadaran dan pencerahan. Tetapi tidak, para pembangunnya sama angkuhnya dengan Tembok yang telah dibangunnya. Begitu pula para pemujanya.

Manusia-manusia  membangun Tembok—dinding pembatas antara “sini” dan “sana”, antara hitam dan putih, antara benar dan salah, antara “kita” dan “mereka”. Yang ada di sini adalah benar, dan yang masuk ke sana adalah salah. Tetapi nilai siapakah yang digunakan dalam menakar keabsahannya? Nilai yang ada di sini, ataukah nilai yang ada di sana? Siapakah yang berhak menyatakan bahwa di sini benar dan di sana salah, padahal Tembok itu dibangun manusia yang tak pernah bisa lepas dari kemungkinan bersalah…? Bertanyalah kepada hati, apakah Tembok itu dibangun dengan hati? Atau dengan logika? Atau bahkan jika Tembok itu dibangun dengan hati dan logika, mengapa harus dijaga dengan sebegitu kukuh agar manusia tidak bisa memasukinya? Dan jika manusia tidak boleh masuk ke sana, lalu apa atau siapakah manusia itu?

Di bilik-bilik keangkuhan yang buta itulah manusia bersembunyi, dengan bibir yang menyanyi tetapi hati tak pernah pasti. Mereka memilih, tapi tidak—bukan mereka yang memilih. Para pembangun Tembok itulah yang memberikan pilihan untuk mereka pilih, dan kemudian orang-orang berusaha percaya bahwa itulah pilihan mereka. Dan di saat-saat hening… Ketika sebagian kecil dari mereka memberi kesempatan kepada hati untuk berbicara, mereka kadang menemukan, dan tahu, bahwa jalan yang telah mereka pilih adalah kebohongan yang dipaksakan ke dalam diri. Tetapi mereka telah terpenjara di dalamnya. Mereka  menyadari bahwa ada sesuatu di balik Tembok… tetapi mereka tahu tidak akan dapat memasukinya tanpa mematuhi perintah-Nya.

Mereka yang ada di dalam tembok, semua adalah korban—makhluk-makhluk fana yang terus dijauhkan dari pencerahan untuk dapat memahami dirinya—bukan oleh Tuhan, tetapi oleh makhluk yang sama fananya. Di dalam  Tembok inilah manusia hidup, bersama segala aturan  yang dibuat oleh tangan-tangan manusia, setumpuk daftar aturan untuk vonis, “yang diembuskan dari kincir angin para dewa”.

“Ini cerita seorang manusia”

“Secara tidak sadar seorang anak manusia membangun sebuah tembok untuk melindungi dirinya sendiri, entah  seberapa tinggi , dan entah sudah sekokoh apa. Ia mulai membangun tembok itu ketika mulai mengenal dunia yang tak disengaja, ketika pikiranya mulai terbuka, ia melihat dan mendengarkan semua kisah dari berbagai orang, dari berbagai mulut dengan berbagai versi. Sungguh mungkin hal yang tidak lazim bagi anak seusianya dalam ruang lingkup keseharianya. Hingga ia pun mulai terbawa, terhanyut dengan pola pikir yang ia dapatkan di dunia barunya. Pola pikir yang sempat membuatnya dimusuhi atau dijauhi. Tapi sayang ia tidak terlalu tangguh untuk mempertahankan karakter yang baru ia dapat, dan ia pun menjadi lemah.”

Tapi seketika setelah dua tahun kemudian ia mulai merasakan kembali tembok yang telah layu, denganya ia mampu berdiri kokoh menantang semua angin, rintangan untuk ia mentahkan. Bahkan kini tembok itu bukan lagi menjadi benteng pelindungnya tapi benteng penghalangnya dari dunia luar, bukan karena ia tidak tahu tapi karena ia tidak mau. Tembok itu telah menyatu dengan dirinya yang tergambar dalam sebuah sikap yang sangat tidak baik, ANGKUH…
Dalam ke angkuhanya tembok itu menjadi teman, sesungguhnya tembok yang ia bangun yang pada akhirnya membawa pada suatu sikap angkuh bukan tanpa sebab, tapi semua itu ia lakukan untuk melindungi dirinya. Saat semua orang menceritakan kisah yang sama namun berbeda versi, ia gunakan tembok itu. Karena pada akhirnya kisah yang satu membunuh kisah yang lain dan dia tidak suka. Sehingga dengan bantuan tembok itu ia bisa menyamar menjadi “orang lain” untuk membunuh semua kisah yang ia dengar dari manusia – manusia langit.
Namun dibalik semua itu ia merasa bagaikan tong kosong, karena memang sesungguhnya tembok itu kosong, kosong karena ia tak mengizinkan apapun masuk melewatinya. Hingga suatu hari teman – temanya membujuk untuk menghancurkan tembok pertahanan itu, jika ada yang hendak menyerang biarlah mereka lawan bersama. Karena kerinduanya akan hangatnya dunia luar, ia biarkan  tembok itu diruntuhkan.
Memang Tuhan harus meruntuhkan tembok itu agar semua kisah dapat di dengar, kisah yang menyayat maupun yang membuat hati tergerak bahkan , dll. Tapi satu hal yang pasti di balik kokohnya sebuah tembok keangkuhan seseorang disana pasti terdapat jiwa yang rapuh yang enggan untuk diketahui oleh dunia sehingga ia harus membangun benteng untuk mencegah dunia agar tidak mengetauinya. Sama halnya seperti kura – kura. Ia mempunyai cangkang yang kuat yang denganya ia bisa bertahan hidup selama ratusan tahun, tapi lihatlah tubuhnya yang begitu lunak. Seperti itulah kerapuhan dibalik keangkuhan manusia dan hanya sedikit saja yang mengerti.
 Ibrani 11:30 menyatakan bahwa waktu tujuh hari itu bersangkut paut dengan iman orang Israel. Artinya, Allah memang berkuasa menumbangkan Yerikho secepat Dia mau, tetapi Dia memutuskan untuk memberi jangka waktu yang agak panjang untuk melatih iman umat-Nya. Jadi, setiap kali orang Israel berjalan keliling dalam tujuh hari itu, tembok-tembok Yerikho yang masih berdiri kokoh menantang iman mereka: Benarkah Allah akan merobohkannya? Syukurlah mereka bersabar dan tidak undur.
Tembok-tembok tebal akhirnya runtuh dan penulis Ibrani di kemudian hari dapat bersaksi bahwa itu terjadi “karena iman”.Saat ini, barangkali Allah tengah membuat Anda melewati waktu yang panjang untuk mencapai sebuah sasaran. Anda yakin Allah ingin Anda mencapai hal itu, tetapi Anda bertanya-tanya mengapa Anda harus melalui waktu yang demikian panjang. Kuatkan hati dengan becermin pada pengalaman bangsa Israel di Yerikho. Allah ingin Anda bersabar, berketetapan hati, dan tidak undur. Bertekunlah, agar pada waktu-Nya, Anda berhasil mencapai sasaran itu “karena iman”.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s