Rabu 15 Mei 2013- I Tes 5:6-11 “B E S A R”


Konteks

5:6 Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. 5:7 Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. 5:8 Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. 5:9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, 5:10 yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. 5:11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.

 Berjagal-jaga dan Sadar!

Dua buah kata populer yang berisi pesan-pesan mendalam dan dianggap  ‘sakral’. Namun tidak setiap orang mengerti secara persis apa yang dimaksud kedua istilah tersebut dan apa makna yang  tersirat di dalamnya.  Keselamatan umat manusia tergantung sejauh mana ia bisa benar-benar menyelami kedua fatwa/memorandum tersebut dalam kehidupan sehari hari.

Berjaga-jaga

@ Berjaga-jaga atau Waspada akan hal-hal yang dapat menjadi pemicu atau pengantara  diri kita menjadi cemar,aib,cemooh dan direndahkan, dan tentu itu  bukan tanpa sebab. Semua itu sebagai akibat dari sebab yang pernah manusia lakukan sendiri sebelumnya. Sikap waspada dimaksudkan untuk menghindari segala perbuatan negatif destruktif yang mengakibatkan kita mendapatkan balasannya  menjadi cemar,aib,cemooh dan direndahkan.  Misalnya perbuatan menghina, mencelakai,  merusak dan menganiaya terhadap sesama manusia, makhluk, maupun lingkungan alam.

@ Berjaga-jaga, atas ucapan/lidah, sikap dan perbuatan kita yang  yang bisa mencelakai sesama  manusia,  makhluk lain, dan lingkungan alam.

@ Berjaga-jaga terhadap apapun yang bisa menghambat perjalanan hidup kita  terutama mewaspadai diri sendiri . Meliputi sikap dan spiritualitas anak-anak Tuhan. Mewaspadai apakah yang kita rasakan dan inginkan merupakan hal yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan  ataukah hanya merupakan gejolak nafsu kedagingan  yang kotor . Mewaspadai diri sendiri berati kita harus bertempur melawan kekuatan negatif dalam diri. Yang menebar aura buruk berupa ego dalam diri (egois), merasa bener sendiri, dan mau-maunya sendiri. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus mewaspadai diri pribadi dari nafsu mentang-mentang yang memiliki  kecenderungan eksploitasi , penindasan,dan nafsu aji mumpung.

@ Berjaga-jaga dalam arti awas atau saksama membaca bahasa alam .  Bahasa alam merupakan perlambang apa yang menjadi kehendak Tuhan. Bencana alam  bagaikan perangkap ikan. Hanya ikan-ikan yang selalu eling dan waspada yang akan selamat.

– Sadar (Dimensi Ketuhanan)

@ Sadar atau ingat, maksudnya ingat asal usul kita  . Dari Tuhan kita diciptakan  melalui seorang ayah dan  ibu karena kehendak Tuhan .   Jadi orang harus tahu dan sadar diri untuk selalu menyembah kepada dan mengagungkan Tuhan

@ Sadar bahwa kita harus menjalani kehidupan di dunia ini dengan hidup benar di hadapan Tuhan dan melakukan semua perintah-Nya sebagai syarat utama  yang menentukan kehidupan  kita “di masa yang akan datang” .  Menyembah bukan hanya dalam batas fisik, namun lebih utama mempraktekan sikap menyembah tersebut dalam pergaulan sehari-hari kehidupan bermasyarakat.

– Sadar  (Dimensi kemanusiaan)

@ Di samping menyembah kepada Tuhan. Adalah hal yang paling utama untuk sadar bahwa kita sebagai makhluk sosial , yang hidup bersama dan berdampingan sesama  makhluk Tuhan. Instrospeksi diri atau mawas diri sebagai modal utama dalam pergaulan yang menjunjung  tinggi perilaku utama (lakutama) yakni budi pekerti luhur. Dengan melakukan perenungan diri, mengingat atau menyadari dari mana dan siapa kita , kita menjadi, kita berhasil, kita sukses. Kita tidak boleh  menghilangkan jejak dan tidak menghargai jasa baik Tuhan maupun mengerti dan memahami kebaikan orang lain kepada kita.

@ Sadar bermakna sebagai pedoman hidup, melakukan kebaikan tanpa  pamrih. Tidak hanya itu saja, kebaikan yang pernah kita lakukan seyogyanya dilupakan, dikubur dalam-dalam dari ingatan kita.  Dalam pepatah disebutkan,” kebaikan orang lain tulislah di atas batu, dan tulislah di atas tanah kebaikan yang pernah kamu lakukan”. Kebaikan orang lain kepada diri kita “ditulis di atas batu” agar tidak mudah terhapus dari ingatan. Sebaliknya kebaikan kita “ditulis di atas tanah” agar mudah terhapus dari ingatan kita.

@ Sadar  siapa diri kita untuk tujuan jangan sampai bersikap sombong atau takabur. Selalu mawas diri  adalah cara untuk mengenali kelemahan dan kekurangan diri pribadi dan menahan diri untuk tidak menyerang kelemahan orang lain. Sebaliknya selalu berbuat yang menentramkan suasana terhadap sesama manusia. Selagi menghadapi situasi yang tidak mengenakkan hati, dihadapi dengan permasalahan yang terkadang membuat kita tertekan , ingat ; tidak benci jika dicaci,  tidak gila jika dipuji, teguh hati, dan sabar walaupun kehilangan.

Esensi dari sikap Berjaga-jaga  dan sadar  adalah berfikir, berucap, bersikap, bertindak, berbuat dalam interaksi dengan sesama manusia, seluruh makhluk, dan lingkungan alam dengan sikap  bijak.

Hakikiat hidup kristiani adalah ibarat sebuah perjalanan. Sudah berangkat, sudah meninggalkan garis start, tetapi belum tiba di tujuan, belum tiba di garis finish. 1 Tesalonika 5:6 berbunyi, “…. Jangan kita tidur…tetapi berjaga-jaga dan sadar.”Berada dalam keadaan seperti itu memang tidak enak. Ada dua godaan besar pada orang Kristen dalam situasi yang tidak enak itu.

Tidak seorangpun manusia dapat memperkirakan dengan tepat kapan Tuhan Yesus akan datang kembali. Oleh karena itu, kita tidak boleh terlena oleh kenyamanan hidup, melainkan harus senantiasa berjaga-jaga.

Rasul Paulus menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui waktu kedatangan Tuhan Yesus. Rasul Paulus memberi dua gambaran tentang kedatangan Tuhan Yesus, yaitu seperti kedatangan pencuri pada malam hari (5:2) dan seperti perempuan hamil yang tiba-tiba ditimpa sakit bersalin (5:3).

Nasihat kepada jemaat Tesalonika: jemaat tidak boleh tertidur atau terlena oleh keadaan yang terasa nyaman, melainkan harus selalu berjaga-jaga dan sadar (5:6-7).  kita harus senantiasa berjaga-jaga dengan mengenakan baju zirah iman dan kasih, serta mengenakan ketopong pengharapan keselamatan (5:8), karena Allah tidak menetapkan orang percaya untuk ditimpa murka, melainkan untuk beroleh keselamatan dalam Kristus Yesus (5:9).Dalam rangka menanti kedatangan Tuhan Yesus, Rasul Paulus mendorong jemaat untuk meneruskan kebiasaan yang sudah berlangsung dalam jemaat Tesalonika, yaitu saling menasihati dan saling membangun seorang akan yang lain (5:11).

Bagaimana dengan Anda? 

Sudahkah kita siap sedia untuk menyongsong kedatangan Tuhan kali yang kedua ini?  Atau kita masih berada dalam kelesuan, kesuaman dan tertidur secara rohani  ? … Keindahan semu  dunia ini dengan segala kenikmatannya yang sesaat  lebih menyita perhatian dan kian memperdaya banyak orang untuk tidak lagi memikirkan perkara-perkara rohani.

Jika diantara Anda  mulai malas dan mungkin mencapai titik jenuh  di dalam menjaga hubungan dan komitmennya kepada Tuhan.  Banyak yang melalaikan jam-jam doanya, acuh tak acuh terhadap jiwa-jiwa yang terhilang.  Banyak pula yang puas hanya dengan duduk memenuhi bangku gereja setiap Minggu, mendengar firman dan menerima berkat-berkat dari Tuhan, tapi tidak mempraktekkan apa yang telah mereka dengar dan pelajari. Berjaga-jagalah dan  segera sadar !

Jika di antara Anda  yang hidupnya ‘sama’ dengan orang-orang dunia, hanya ‘label’ Kristen saja yang membedakan, tetapi semua tindakan dan perbuatannya sangat mendukakan  hati Tuhan;  hidup tidak lagi disiplin dan membiarkan hati dan pikirannya dipenuhi oleh berbagai keinginan jahat, ketakutan, kekuatiran, iri, dengki, kebencian, dan sebagainya. Berjaga-jagalah dan  segera sadar!

Jika diantara Anda masih suka bohong, suka melontarkan kata-kata yang tidak sopan, membual, penuh tipu muslihat. “…karena hari-hari ini adalah jahat.  Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”  (Efesus 5:16-17).  Sudah tidak ada waktu lagi untuk tidur!  Tidak ada waktu lagi untuk tetap tinggal dalam comfort zone!  Kita harus berjaga-jaga  dan segera sadar!

Hiduplah seperti orang yang sadar selayaknya kita di siang hari, dan bukan seperti orang yang tertidur di malam hari. “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.

(Roma 13:13). Kita tidak pernah tahu kapan hari Tuhan datang, dan alangkah ironis jika ketika saatnya tiba, kita ternyata sedang tidak berjaga-jaga. “karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman–maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan…” (1 Tesalonika 5:2-3).

Tidak ada waktu lagi bagi kita untuk menunda-nunda. Mari kita mengenakan baju zirah, iman dan kasih, juga keadilan, terus membangun iman kita dalam Kristus, melakukan kesetiaan dalam situasi dan kondisi apapun. Keselamatan sudah dianugerahkan bagi kita semua, dan kita sudah menerimanya. Sekarang saatnya kita menjaga dan terus mengerjakan keselamatan itu sampai ke garis akhir.

B E S AR = Berjagalah dan Sadar

images

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s