Yesaya 42: 3


images Kursi Roda

        Pernahkah anda naik kursi roda? Kursi roda bukanlah sekedar kursi yang ber- roda, namun lebih dari itu. Kursi roda adalah alat bantu bagi orang yang mempunyai keterbatasan gerak secara khusus yang tidak bisa berjalan. Tidak bisa berjalan karena sakit atau cacat jasmani.
        Kita bayangkan, betapa kursi roda itu mau menanggung beban yang ada di “bahunya”. Orang yang berbadan besar atau berbadan kecil, asalkan  “bahunya” masih muat, maka ia akan membawanya kemana- mana. Jalan halus atau kasar semua dilaluinya. Sampai alas dudukan menjadi usang karena terlalu sering digunakan, ia tetap merelakan dirinya dipakai oleh si sakit.
        Kursi roda itu menjadi simbol ketabahan dan kesabaran menanggung beban. Adakah diantara kita tidak terbeban dalam kehidupan ini? Semua tentulah terbeban. Ada yang berat, ada pula yang ringan. Namun orang menyikapi masalah itu beraneka ragam. Ada yang lebay. ada pula yang masa bodoh. Ada yang dianggap berat, ada pula yang dipandang ringan/ enteng. ada yang bertahan dengan bersabar dalam menghadapi permasalahan, ada yang disertai dengan marah- marah dan caci maki.
        Saudara yang terkasih, kursi roda telah mengingatkan kita untuk bersabar dalam menanggung beban dengan tetap percaya pada penyertaan Tuhan. karena Tuhan akan hadir untuk memberikan kekuatan dan pertolongan. Tidak sekali- kali buluh yang terkulai itu akan dipatahkan, dan tidak sekali- kali pula sumbu yang pudar akan dipadamkanNya. Dia akan jadikan semuanya indah demi kemuliaanNya.
Seringkali kita berpikir bahwa ketika kita dalam masalah atau tekanan hidup yang berat  (kesulitan ekonomi, menderita sakit-penyakit)  saat itu Tuhan telah jauh dari kita, Dia meninggalkan dan melupakan kita begitu saja. Mengapa ketika masalah datang, kita selalu berpikir bahwa Tuhan telah melupakan kita dan menyembunyikan wajahNya?  Karena fokus kita hanya tertuju pada keinginan hati kita sendiri;  Maunya Tuhan mengikuti  ‘agenda’  kita.  Sementara, kita tidak mau mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan atas hidup kita.  Perlu kita ketahui bahwa Tuhan tidak bisa dikendalikan oleh apapun dan oleh siapapun, Dia adalah Tuhan yang berdaulat penuh atas hidup kita, tidak pernah ingkar terhadap janji-janjiNya, apalagi sampai melupakan umat tebusanNya.
 Dalam Yesaya 49:15 ditegaskan,  “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.  Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.”  (Yesaya 49:15-16).  Ini membuktikan bahwa Tuhan sangat memperhatikan dan mengasihi kita.

Buluh

Kata’buluh’ atau bisa juga diterjemahkan dengan “gelagah”adalah sejenis tanaman yang tumbuh di rawa-rawa. tetapi kadaang-kadang juga diterjemahkan dengan “bambu” (Yesaya 36:6). Tanaman buluh disamakan dengan Arundo donax, yakni tanaman Palestina dan Mesir yang tingginya bisa sampai 3 atau 4 meter. Jika ditekan, sebatang buluh akan merunduk dan terkulai hingga sangat mudah dipatahkan. Jika ia dipatahkan, maka tempat patahnya akan menusuk tangan (Yeh 29:8-7). Jenis tanaman rawa lainnya yang sejenis adalah “ranting” (Yesaya 9:13) atau “gelagah” (Yesaya 35:7) ,terjemahan dinamisnya menjadi “orang biasa” .

Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang sangat komunikatif. Firman-Nya yang tertulis, yakni Alkitab, banyak berbicara kepada kita dengan bahasa simbol. Istilah “buluh” juga seringkali digunakan sebagai simbol, yakni gambaran dari orang-orang yang lemah dan tak berdaya, serta orang yang plin-plan, tidak punya pendirian. Dalam artikel ini akan dibahas makna simbol “buluh” tersebut dalam kehidupan orang percaya.

Penggunaan Buluh Secara Positif

Buluh termasuk tanaman yang jauh lebih lemah dibandingkan pohon-pohon kayu yang besar, seperti pohon aras atau pohon sanobar. Justru karena itulah ia banyak dipakai dan sangat bermanfaat.

Pertama, buluh dapat dianyam menjadi keranjang yang ringan. Keranjang semacam ini pernah digunakan oleh Yokhebed ketika ia rindu menyelamatkan Musa, anaknya, dari upaya pembunuhan bayi-bayi yang dilakukan tentara Mesir (Kel 2:3).

Kedua, buluh dapat digunakan sebagai tongkat pengukur. Rasul Yohanes pernah disuruh oleh malaikat Tuhan di Pulau Patmos untuk mengukur Bait Allah dan orang-orang yang beribadah di dalamnya dengan sebatang buluh (Wahyu 11:1).

Ketiga,buluh dapat dipakai sebagai tongkat penyodok. Ketika Yesus mengatakan “Aku haus!” di kayu salib, ada tentara yang menyodorkan anggur asam dengan menggunakan sebatang buluh (Matius 27:48).

Kesemuanya ini memberikan gambaran yang sangat indah dalam kehidupan orang percaya. Sebagai manusia yang lemah dan tak berdaya, kita adalah buluh-buluh yang terkulai.Tak ada sesuatu pun yang baik yang dapat kita hasilkan dari dalam dirinya adalah “manusia celaka”, karena setiap kali ia ingin melakukan yang baik, selalu yang jahat yang dihasilkan (Roma 7:18-24). Namun oleh anugerah Allah di dalam Yesus Kristus, ia telah dilayakkan. Dosanya telah ditebus dan ia telah dibenarkan (Roma 7:25). Itu berarti bahwa sekalipun kita lemah dan tak berdaya, Tuhan justru mengasihi kita dan rindu memakai kita menjadi alat di dalam tangan-Nya.

Ia pasti mampu menjadikan kita yang lemah ini menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi-Nya dalam memulihkan dunia ini. Oleh sebab itu kita harus bangga jika Tuhan ingin memakai kita.Ia mempercayai kita untuk menjadi kawan sekerjanya (1 Kor 3:9)

 

Penggunaan Buluh secara Negatif

Selain dapat digunakan secara positif, buluh juga dapat digunakan secara negatif.

Pertama, sebagai alat penghinaan. Para prajurit Roma yang menangkap Yesus memperlakukan-Nya dengan sangat tidak hormat. Mereka menganyam mahkota duri dan diletakkkan di atas kepala Yesus dan memberikan sebatang buluh kepada-Nya dengan maksud menghina-Nya (Matius 27:29). Seorang raja biasanya memegang “tongkat kekuasaan” yang terbuat dari kayu berlapis emas murni. Tetapi Yesus, raja di atas segala raja, dihina dengan hanya memegang tongkat dari buluh yang lemah dan tak berdaya.

Kedua, kadang-kadang buluh juga dipakai menjadi tongkat pemukul. Mahkota duri itu tidak hanya ditaruh di kepala Yesus, melainkan dipukul dengan menggunakan buluh yang tadi dipegang Yesus, sehingga durri-duri itu menancap di kepala Yesus (Matius 27:30)

Seringkali kelemahan kita sebagai manusia dimanfaatkan iblis. Ia terus berupaya untuk dapat memanfaatkan manusaia yang lemah dan tak berdaya-bagai buluh itu- sebagai alat di tangannya. Ada orang yang menghina sesamaanya hanya krena perbedaan status ekonomi, dimana yang kaya menghina yang miskin (perumpamaan Lazarus- Lukas 16:19-31). Mereka lupa bahwa di hadapan Allah semua orang itu sama. Justru ketika seseorang tahu bahwa dirinya lebih diberkati Tuhan, ia harus membagikan kepada orang lain.

 Sumbu.

“Sumbu” (adalah jalinan temali yang ada pada sebuah pelita, yang mampu menyerap minyak sehingga dapat dinyalakan. Dengan demikian sumbu berkaitan dengan pelita. Dimana sumbu itu pudar nyalanya dan hanya berasap, pada saat itulah pelita berarti nyaris padam. Ketika malam menjelang, dimana terang sangat dibutuhkan, pelitapun dinyalakan. Tetapi bisa saja cahaya pelita itu tidak dapat diperoleh karena beberapa hal. Kalaupun menyala, ada yang tidak terus-menerus menyala hingga pagi, melainkan hanya sesaat dan setelah itui padam.

Firman Tuhan meminta agar “pinggang kita tetap berikat dan pelita kita tetap menyala” (Lukas 12:35).Bagaimana menjaga agar sumbu atau pelita tetaaap menyala? jika kita bisa memahaami hal ini ,maka aplikasinya dalam hidup kita pun akan dapat kita mengerti.

Cara Mengusahakan Agar Sumbu/Pelita Tetap Menyala.

Untuk dapat mengusahakan agar sumbu pelita itu tetap menyala ada beberapa hal yang harus dilakukan.

Pertama sumbu itu harus selalu dibersihkan, hanya sumbu yang bersih yang bisa memberikan cahaya yang baik. Ini adalah gambaran hidup kita. Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan kekotoran dan debu dosa. Debu-debu dosa itu bisa saja menempel dalam hidup kita.Artinya, sebagai orang percaya, kita masih bisa jatuh dalam dosa. Tetapi seketika itu juga kita disadarkan oleh Roh Kudus dan kita mengaku, memohon pengampunan Tuhan dan pengudusan oleh darah-Nya (1 Yohanes 1:9). Setiap pagi kita datang kepada Tuhan agar Ia juga membersihkan hidup kita oleh kebenaran firman-Nya (Yoh 17:17).

Dosa adalah suatu hal yang serius di hadapan Allah. Dosa lebih serius dari penyakit kanker yang menyerang tubuh seseorang. Ketika kita berdosa, kita harus segera mohon pengampunan menyelesaikannya dengan Allah yang Maha Pengampun itu. Jangan bermain-main dengan dosa, apalagi jika kita sudah terlibat penuh dalam pelayanan.Allah yang maha kudus tidak mungkin akan memakai orang yang terus menerus hidup dalam kecemaran dosa.

Kedua, minyak yang harus selalu tersedia. Untuk pelita di Kemah Pertemuan harus digunakan minyak zaitun tumbuk yang murni, agar pelita itu tetap menyala (Kel 27:20). Minyak merupakan simbol dari Roh Kudus. Hidup kita hanya dapat memancarkan terang ke sekitar kita jika kita hidup dalaam pimpinan dan kehendak Roh Kudus. Jika kita mengabaikan pribadi Roh Kudus dalam hidup kita, maka kita tidak akan mampu menyinari sekeliling kita.Jangan cukup puas dengan karya Roh Kudus yang telah atau sedang Anda alami, melainkan teruslah meminta Dia mengurapi Anda, katakanlah “more..more..more” maka Roh Kudus akan terus memenuhi hidup Anda sehingga Anda tidak kuatir lagi pelita hidupmu akan padam. Bukankah Tuhan berjanji mencurahkan Roh Kudus-Nya lebih dari waktu yang lampau (Kisah 2:17-18).

Ketiga, sumbu atau pelita itu dibiarkan terbuka, tidak ditutupi dengan gantang atau penutup lainnya. Dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita adaaalah terang dunia. Tuhan rindu agar terang kita memancar ke seluruh penjuru (Mat 5:14-16). Gantang melambangkan kebutuhan hidup kita sehari-hari. Jangan menutupi cahaya Kristus dari dalam hidup kita dengan hal-hal jasmani. Kita memang harus bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Namun Tuhan menghendaki agar kita tetap memprioritaskan pemancaran Terang Kristus melalui hidup kita. Banyak orang tidak mau memancarkan cahaya pemeliharaan Kristus, ketika bekerja mencari uang. Yang ada hanyalah kekuatiran dan kekuatiran. Seharusnya kita bekerja dengan iman akan pemeliharaan Allah,bukan karena didorong oleh kekuatiran akaan apa yang kita makan dan pakai (Mat.6:33)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s