Rabu 7/8/13-Kej.11:1-9 Narcissistic Personality Disorder => (Arogansi)


 

“Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air”

Menara Babel

Historikal Menara Babel adalah ikon, simbol, dan karakter kearoganan, kepongahan manusia. Pembangunan menara ini diprakarsai oleh Nimrod, anak cucu Nabi Nuh di zaman Babilon kuno, jauh tahun sebelum zaman Nebuchadnezzar. “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota, dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Marilah kita cari nama supaya kita jangan terserak ke seluruh Bumi,” demikian antara lain bunyi ajakan Nimrod kepada orang-orangnya, seperti yang ditulis dalam Kitab Penciptaan.

Determinasi kultural yang dilakukan manusia membangun menara Babel adalah  sebuah bentuk keangkuhan bangsa  . Tapi kalau dipikir-pikir setiap bangsa atau suku mempunyai ‘keangkuhannya sendiri’. Mungkin kita sebagai orang yang terlahir dalam budaya suku,  merasakan semacam ‘keangkuhan’  terhadap budaya lainnya. Misalnya ada dikotomi antara suku ‘A’ dan suku ‘B’.

Mengapa mereka membangun menara seperti itu?… dan  Untuk apa menara itu dibangun?…  Salah satu  jawabannya, mencari kepuasan diri dan kemegahan. “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit,   dan marilah kita cari nama  ,   supaya kita jangan terserak   ke seluruh bumi.” (ay. 4).  Mereka, ketika itu, takut tercerai-berai dan hidup di tempat yang belum mereka kenal berhadapan dengan bahaya. Karena itu, didirikanlah sebuah kota-Babilon dan Ninive-sebagai pusat kegiatan, sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan mereka.

ketika mereka membangun menara dengan mengatakan, “Marilah kita cari nama, marilah memegahkan diri”, di saat itulah kemanusiaan manusia berkuasa. Menara dibangun untuk kebutuhan badan, jiwa, dan semangat. Bahkan, mereka ingin membangun menara yang mencapai langit. Kalau perlu dapat memanah Matahari dari puncak menara. Pendek kata, menara dibangun untuk pemuasan diri. Akibat kepongahan dan kearoganan manusia pada jaman itu mereka nggak berpikir “waras” (baca: tidak mengerti), mana mungkin mereka mampu membangun  menara sampai ke langit…mereka harus menghadapi angin yang kencang, semakin tinggi ogsigen  semakin menipis, hujan, terik matahari, dlsb. Inilah, yang menjadi penyebab turunnya hukuman dari Tuhan sehingga mereka tercerai-berai dan tidak bisa memahami bahasa mereka satu sama lain.

Kearoganan   menjelma menjadi  perasaan superioritas dan itu dimanifestasikan ke dalam sikap yang suka memaksa,  kepongahan, kecongkakan, atau keangkuhan. Dalam praktek sehari-hari, arogansi itu kita masukkan ke dalam list kesombongan. Semua naluri universal manusia di dunia ini tidak ada yang bisa menerima kesombongan. Manusia diberi naluri yang membenci kearogansian dan menyukai kerendahan hati. Karena itu, orang yang paling arogan sekali pun akan menolak kearogansian yang ditunjukkan orang lain.

 

Semua Kitab Suci di dunia ini melarang berbagai bentuk kearogansian (baca: kesombongan). Firman Kitab Suci itu bukan untuk memberi tahu (sebab semua manusia sudah tahu), melainkan lebih untuk mengingatkan (reminder). Mungkin, karena kita sering lupa atau tidak sadar, meskipun kita sudah tahu, maka dibutuhkanlah reminder supaya sadar dan ingat. Salah satu alasan kenapa reminder itu penting karena kearoganan seseorang dapat mencelakakan dirinya. Celaka yang paling ringan dan itu sangat nyata adalah: arogansi itu akan menjadi sumber kesalahan dalam memperlakukan diri sendiri dan orang lain. Jika ini diterjemahkan dengan teori kompetensi, arogansi itu akan membuat seseorang lemah dalam hal intrapersonal dan interpersonal skill. Arogansi adalah penyimpangan. Orang bijak bilang, kita tidak bisa melangkah secara lurus apabila di dalam pikirannya ada penyimpangan.

 Jika kita refleksikan: pertanyaan yang terkadang membingungkan adalah, jika hati nurani manusia itu menolak kearoganan dan mengetahui apa yang baik, namun kenapa kenyataanya kearoganan ini terkadang kerap muncul? Jika kita menolak kebaikan orang lain dengan motif karena gengsi atau tinggi hati, ini juga dekat dengan arogansi. Jika kita menolak nasehat orang lain (yang pada hakekatnya itu sangat kita butuhkan), dengan motif untuk menunjukkan bahwa kitalah yang sudah paling benar, inipun dekat. Jika kita menjelaskan diri sendiri dengan penjelasan yang “wah-wah” (tetapi ini bertentangan dengan realitas kita) dengan motif supaya orang lain memandang kita “wah”, inipun dekat. Jadi, arogansi itu terkadang muncul karena motif-motif untuk menutupi kekurangan, ketakutan, ketidakmampuan, atau karena ada sesuatu yang less and minus pada diri kita. Arogansi bisa tampil sebagai bentuk pelampiasan dari keminderan (feeling of lack and feeling of fear).

 

Apa yang menjadi sumber?

Dalam kajian Psikologi dikenal istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD). Psychology Today (2007), menulis bahwa orang-orang yang tergolong narsistik ini antara lain tipenya adalah: arogan, congkak, self-centered, angkuh atau tinggi hati. Orang yang tergolong narsistik itu membayangkan dirinya sebagai superior atau di atas dari orang lain dan sehingga mereka bersikukuh untuk merefleksikan gaya hidup  secara berlebihan. Ini yang terjadi di sekitar kita. Gereja pun tak luput dari virus NPD arogansi,keponganhan dan kesombongan.

 Manusia diciptakan secara berbeda dari alam dan ciptaan lainnya. Manusia adalah citra  Allah. Keserupaan manusia dengan Allah ini mencakup kerohanian, moralitas, martabat, kecerdasan, dan kreativitas. Meskipun manusia telah jatuh ke dalam dosa, citra Allah tetap ada padanya. Itulah sebabnya Allah secara tegas menolak ; 6 dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa   untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. 7 Baiklah Kita   turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.  8 Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi,   dan mereka berhenti mendirikan kota itu. 9 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel,   karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa   seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan   TUHAN ke seluruh bumi.   penghancuran citra Allah tersebut.

 

Jika ini tidak dilakukan Allah maka citra Allah dalam diri manusia akan rusak. Kita harus memahami akan citra Allah yang  dapat menolong kita mengelakkan godaan itu.

 

Sekarang, walaupun kita hidup di tengah sebuah peradaban ilmu dan teknologi yang canggih, akses tak terbatas pada sumber informasi yang juga tak terbatas, di mana setiap hari kita dicekoki dengan doktrin bahwa pengetahuan adalah kekuasaan, di mana apa yang ada di alas bumi, di perut bumi, dan di angkasa sana semuanya masuk dalam wilayah penjelajahan ilmu pengetahuan manusia modern; semua itu tidak bisa menghapus fakta kita bahwa lukisan kita tentang dunia ini tetaplah tak pernah selesai, dan karenanya kenaifan kita sebagai manusia tetap permanen.

Namun masalah manusia juga muncul dari situ, pertambahan pengetahuan biasanya memang membuat manusia makin arogan. Semakin berkuasa, manusia berpeluang menjadi sombong, angkuh dan melampaui batas. Dan itu ironis.

Allah sama sekali tidak mengizinkan manusia mengambil sifat itu. Maka dosa manusia yang paling cepat dihancurkan  Allah adalah kesombongan. Dan Allah punya ribuan cara untuk memangkas dan bahkan meluluhlantakkan kesombongan manusia itu. misalnya melalui bencana alam. Sebagian maksud dari begitu banyak bencana alam yang terjadi di dunia kita adalah meluluhlantakkan keangkuhan manusia itu. Seakan-akan Allah hendak berkata: coba kalau kamu bisa!

“Kita takkan pernah bisa menjadi pembelajar sejati kecuali ketika kita menyadari ketidaktahuan kita, sekaligus merasakan kebutuhan yang kuat untuk mengetahui ,bukan sok tau.”

Taufiq Ismail – Kerendahan Hati

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput,
Tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

261737_108041772622736_100002507410855_75435_7094255_n

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s