Minggu,11/8/13=> Roma 2:1-5 Hidup benar yang penuh Kasih


Hukuman Allah atas semua orang

Definisi menghakim adalah ; mengadili atau berlaku sbg hakim, misalnya : penduduk mengerti bahwa mereka tidak boleh menghakimi sendiri pencopet yg tertangkap itu.

Menghakimi merupakan suatu keotoritasan,  keotoritasan dari seseorang yang diberi kuasa. Seorang hakim akan bertindak sebagai orang yang memiliki keotoritasan  atas warga sipil. Jika Anda berbuat salah, pemerintah akan memanggil Anda, atau menyeret Anda ke pengadilan, atau jika ada dua orang yang berselisih, mereka membawa persoalan tersebut kepada pihak yang memiliki keotoritasan  yang lebih tinggi. Hakim merupakan perwujudan dari pihak yang memiliki keotoritasan  yang lebih tinggi. Tetapi pemahaman menghakimi yang dimaksud dalam hal ini berbeda; (Ay. 1) Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. Pada saat kita menghakimi orang lain, kita sedang menghakimi diri kita sendiri.

Tuhan Yesus berkata, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu?”. Yesus mempertanyakan hal itu karena selumbar adalah benda yang sangat kecil.

Yang harus kita perhatikan adalah kita tidak boleh menghakimi berdasarkan suatu kecurigaan dan harus memenuhi persayaratan di atas. Tentu saja kalau kita tidak dalam posisi menghakimi, maka kita tidak perlu menghakimi. Kita dapat menilai suatu pendapat atau tindakan seseorang dan dapat memberikan argumentasi. Kita dapat menilai bahwa suatu perbuatan adalah tidak dapat dipertanggungjawabkan secara moral, karena memang perbuatan tersebut adalah tidak baik, namun kita tidak dapat menilai secara persis apa yang mendasari perbuatan tersebut. Sebagai contoh, seorang anak mencuri makanan/roti . Perbuatan mencuri anak tersebut adalah salah, namun kita tidak dapat menghakimi perbuatan  anak yang mencuri   tersebut, karena mungkin saja tindakannya dilakukan karena ia tidak makan selama dua hari, sehingga ia hampir mati kelaparan.

Sikap menghakimi merupakan sumber masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian bukan berarti sebagai orang Kristen kita tidak bisa menegur orang lain yang berbuat salah.

Ketika kita mendapati kesalahan orang atau ketika ada perbedaan antara kita dengan orang lain maka tidaklah salah jika kita bertanya, menegur, atau menasihati orang tersebut dengan cara yang bijak, dan dengan waktu serta kata-kata yang tepat, sehingga membuat orang tersebut sadar dan mau bertobat,

Sebaliknya jika kita menyudutkan orang tersebut dan langsung mencela serta menghakimi (bahkan mempermalukan) dia sebagai orang yang tidak benar maka  mustahil ia mau bertobat, justru sebaliknya akan melahirkan kebencian. Itulah sebabnya sebagai orang percaya jangan kita menghakimi orang lain.

Kita boleh saja “menilai” bahwa orang lain salah atas dasar kebenaran yang saat ini kita pegang. Tapi akan sungguh naif kalau kita sampai “menghakimi” orang lain, karena hal itu pastilah didasari pada paradigma yang menganggap bahwa diri kita yang paling benar

Yesus tidak melarang kita untuk mengkritik, atau menegur kesalahan orang lain. Tetapi Tuhan Yesus kecewa jika kita  mengkritik dengan spirit , tujuan dan motif yang salah. Kritik yang sifatnya menghancurkan, merendahkan orang lain. Mengkritik dengan sikap arogan, penuh dengan kesombongan rohani. Karena Tuhan Yesus tahu, kecenderungan  manusia pada umumnya untuk lebih terarah dan  melihat kesalahan-kesalahan orang lain daripada melihat ke dalam diri sendiri. Jika kita menemukan dosa orang lain, kita kecam habis-habisan. Tetapi jika kita menemukan kesalahan diri sendiri kita berpura-pura/bersandiwara.

Marilah kita belajar memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan. Dalam persekutuan ini, kita dipanggil menjadi saudara bagi sesama kita, kita saling menjaga, kita saling memulihkan, kita saling menopang, kita saling belajar satu sama lain.

“Banyak orang yang berambisi ingin mengubah dunia. Banyak orang yang berambisi untuk mengubah hidup orang lain, tetapi terlalu sedikit orang yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.”

Saling Mengasihi satu dengan yang lain akan membawa hidup bersama dengan benar:

“Kasih yang sejati tidak bersukacita ketka melihat kegagalan orang lain atau ketika melihat orang lain jatuh dalam dosa. Jangan membiasakan diri membicarakan kegagalan,kelemahan serta kekurangan orang lain. Sebaiknya luangkan waktu untuk mendoakan orang-orang di sekitar kita”

“Kesabaran berbicara tentang kemampuan kita mempertahankan kasih di saat kita tergoda untuk melampiaskan amarah. Bertahan untuk tetap mengasihi  walaupun ada berbagai alasan untuk kita menjadi marah. Bersabarlah seorang akan yang lain.”

“Kasih melihat ketidaksempurnaan dan kekurangan orang lain, tetapi tetap memilih untuk tetap peduli dan mengasihi, menerima orang lain apa apa adanya dan selalu berharap yang terbaik buat orang lain. Alangkah indahnya jika kita menghabiskan waktu ini untuk menolong orang lain dengan kemurahan hati kita. Betapa banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan kita.”

“Cemburu dan iri hati membuat kita selalu merasa selalu bersaing dengan orang lain, menjadi “lebih” dari orang lain. Iri hati tidak membawa kita pada kemenangan, namun kepada kehancuran. Kasih sejati tidak cemburu ketika melihat keberhasilan, berkat dan kemampuan yang dimilik orang lain. Kita harus senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki dalam hidup ini.”

“Kasih penuh dengan kerendahan hati. tidak membanggakan perbuatan baik kita dan membiarkan orang lain melupakan jasa kita. Seorang yang rendah hati menyadari bahwa semua pencapaian dan keberhasilannya hanya semata-mata karena anugerah Tuhan. Kerendahan hati membuat kita dengan mudah mengampuni orang yang bersalah kepada kita.”

“Kita perlu menjaga senantiasa tindak tanduk dan perbutan kita, sehingga dalam segala hal kita dapat saling menghormati dan selalu menghargai orang lain. KASIH merupakan dasar dari pengendalian diri, sikap sopan dan rasa hormat terhadap sesama.”

“Kasih tidak egois, tidak memanipulasi orang lain dan tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan kita. Kasih memperdulikan perasaan dan keinginan orang lain. Mampukan diri kita memberi kasih tanpa mengharapkan imbalan apapun. Kerena kebahagiaan terbesar kita adalah pada saat kita memberi, bukan pada saat kita menerima.”

“Kasih yang sejati tidak mudah tersulut kemarahan. Kasih terpancar melalui sikap , temperamen yang baik, tidak menaruh curiga, dan tidak menyimpan amarah terhadap orang lain. Berusahalah saling mengampuni mengampuni.”

“Berbeda dengan kasih yang dimiliki dunia ini, Kasih yang dari Allah tidak memandang kekurangan, kesalahan, dan kegagalan orang lain, tetapi senantiasa menunjukkan kebaikan yang terus terpancar dalam segala keadaan. Inilah kasih Agape, Kasih yang tulus , dan bersumber dari Allah.”

“Percaya adalah hal yang semakin langka di dunia ini, namun Kasih mengajarkan kepada kita untuk percaya, selalu berpikir positif, tidak mudah menghakimi, tidak mudah berprasangka, dan berusaha melihat yang terbaik pada diri orang lain.”

dsc06190.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s