Rabu 14/08/13=> Roma 2:29 “CIRCUMCISIO VERUM”


 

Mengapa sunat bukan keharusan atau menjadi seperti sebuah sakramen bagi para pengikutNya? … Sunat atau circumcisio dalam kamus berarti pemotongan kulit penis. Sebenarnya kebiasan circumcisio dimulai oleh orang-orang Mesir dan Etiopia bukan orang Yahudi. Artinya circumcisio dalam agama Yahudi berkembang kemudian.
Di dalam  Perjanjian Lama, Tuhan mengikat Perjanjian dengan Abraham dengan keturunannya dengan tanda circumcisio bagi anak laki-laki yang berusia 8 hari (Kej 17:11). Musa juga merasa bahwa ini adalah tradisi yang bagus maka tetap dipertahankan ( Im 12:3).
Mengapa Yesus disunat? … Dia menjadi hidup dalam sebuah budaya Yahudi yang kental. Maka Yesus memang disun

at karena Dia orang Yahudi, Dia mengikuti dan menghormati budaya dan agama Yahudi. Oleh karena itu wajar saja bahwa Ia disunat tetapi para pengikutNya tidak harus disunat secara fisik karena semuanya bertumbuh dalam budayanya sendiri-sendiri. Lagi pula sunat secara harafiah lebih cocok dengan kaum pria, bagaimana dengan wanita? Artinya dalam pemahaman sempit orang yang layak hanya kaum pria, lalu kemana kaum wanitanya karena tidak bersunat?… Circumcisio bukan dalam arti sunat secara fisik berupa pemotongan kulit penis kaum pria tetapi sikap bathin terdalam untuk meninggalkan hidup lama dan mengenakan hidup baru.

Dalam Gereja purba sudah terdapat pertentangan antara kaum bersunat dan tidak bersunat sehingga dibuatlah Konsili pertama di Yerusalem. Lukas dalam Kisah Para Rasul menulis, “Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan bersunat berselisih pendapat dengan dia.” (Kis 11:2). “Dan beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajar bahwa, “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan” (Kis 15:1). Apakah hal-hal lahiriah ini masih menghalangi umat Allah untuk bersatu dengan Tuhan di dalam Gereja saat ini?
Dalam konteks ini Paulus dengan tepat memahami sunat secara rohani yakni sunat hati yaitu suatu proses perubahan yang radikal di dalam diri para pengikut Kristus. Proses perubahan itu berupa sikap bathin untuk meninggalkan hidup lama yang dikuasai hawa nafsu dan dosa dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus juga menulis, “Dalam Kristus, kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia tetapi dengan sunat Kristus yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa. Karena dengan Dia, kamu telah dikuburkan dalam baptisan dan di dalam Dia kamu juga dibangkitkan oleh iman akan kuasa Allah yang telah membangkitkan Yesus” (Kol 2:11-12).
Sunat rohani atau sunat hati sudah ada dalam dunia Perjanjian Lama. Sunat yang dapat dipahami sebagai pertobatan radikal dari setiap pribadi yang percaya. Misalnya Ul 10:16: “Sebab itu sunatlah hatimu dan jangan lagi kamu tegar tengkuk” atau dalam Ul 30: 6: “Dan Tuhan Allahmu akan menyunat hatimu dan keturunanmu sehingga engkau dapat mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.” Kitab para nabi seperti Yeremia (4:4; 9:25-26) juga mengatakan hal yang mirip tentang pentingnya sunat hati bukan sunat secara fisik.
Berhubungan dengan sunat hati…kitalah orang-orang bersunat, yaitu kita kita yang menyembah Roh Allah yang bermegah di dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh kepercayaan kepada hal-hal lahiriah. Kita semua merupakan umat pilihan Allah yang memiliki sunat secara rohani, karena kita  menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran.
Semangat Paulus ini hendaknya menjadi semangat Gereja/kita  untuk tidak hanya mengobservasi hal-hal lahiriah saja. Hal terdalam yakni jati diri manusia mesti diperhatikan. Hidup lama diubah menjadi baru karena orang berubah dari dalam bukan dari luar.
Pertobatan radikal sempurna karena Tuhan senantiasa mencari dan menyelamatkan manusia yang berdosa, Anda dan saya. Yesus care dengan setiap pribadi yang berdosa dan menghendaki supaya ada pertobatan yang radikal.

Sunat secara rohani berarti ada kehidupan baru yang dihasilkan dan sebaliknya kehidupan lama dibuang dan ditinggalkan.

Paulus mengajarkan bahwa kita yang telah dipilih, ditentukan, dipanggil dan dibenarkan-Nya, maka kita juga dimuliakan-Nya. Inilah yang disebut from glory to glory (dari kemuliaan menuju kepada kemuliaan). Inilah hak istimewa anak-anak Tuhan. Tetapi kita tidak boleh hanya terus memikirkan hak istimewa ini saja, kita juga harus melakukan apa yang Tuhan perintahkan dengan taat dan setia, karena, “kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. ”Tidak ada sukacita yang lebih besar daripada sukacita bersama-sama dengan Kristus yang telah menebus dan menyelamatkan kita !

Ingatlah! , Tuhan tidak bisa tertipu dengan hal-hal fenomenal manusia, Ia lebih mementingkan esensi yaitu mengerti dengan menjalankan Firman dengan bertanggungjawab.

images

MBT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s