Peranan ibadah dalam meningkatkan moralitas kaum muda


Peranan ibadah dalam meningkatkan moralitas kaum muda

Gereja  selalu dan wajib menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil. Demikianlah Gereja.

Paparan  tentang peresapan hidup bergereja di Indonesia dalam era globalisasi, terutama yang menyangkut “tantang gumul”, dan harapan-harapan yang menentukan kiblat pelayanan gereja saat ini khususnya dalam meningkatkan moralitas kaum muda .

Era globalisasi – mau atau tidak  gereja harus menggunakannya sebagai  kerangka yang di dalamnya mengandung suatu penghayatan  panggilan pelayanan – Pembicaraan tentang era globalisasi – terutama tentang globalisasi – sebagai kerangka  yang di dalamnya gereja-gereja di Indonesia hidup adalah sangat penting jika tidak ingin dikatakan gereja yang “primitif”

Berkembangnya budaya manusia dewasa ini telah mencapai taraf yang luar biasa, yang di dalamnya manusia bergerak menuju ke arah terwujudnya satu masyarakat manusia yang mencakup seluruh dunia; satu masyarakat global. Bagaimana Gereja meningkatkan pelayanan atau ibadah dalam meningkatkan moralitas kaum muda yang sangat mungkin  terpengaruh dengan perkembangan dunia cyberspace di mana terjadi  perubahan-perubahan yang signifikan , pesat, dan meluas ke seluruh penjuru dunia ? Perubahan-perubahan itu timbul dari kecerdasan dan usaha kreatif manusia, dari manusia untuk manusia. Demikianlah kita sudah dapat berbicara tentang perombakan sosial dan budaya yang sesungguhnya, serta berdampak juga atas hidup keagamaan.

Gereja, idealnya adalah orang-orang  yang seharusnya memiliki komitmen penuh, tapi kreatif dan inovatif dan   menjadi media atau agen untuk menjalankan misi Allah (Missio Dei), yaitu menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di muka bumi ini di tengah-tengah era globalisasi ini. Apa tanda-tanda kerajaan Allah itu? Dalam refleksi iman, tanda-tanda kerajaan Allah itu berupa keadilan, kebenaran dan panggilan kemanusiaan. Itulah yang kita sebut-sebut dengan ’syalom”, damai sejahtera.

Berbagai ketidak-seimbangan dalam dunia sekarang

Gereja harus siap  dengan perubahan  yang sering berlangsung secara tidak teratur, bahkan juga kesadaran semakin tajam akan perbedaan-perbedaan yang terdapat di dunia, menimbulkan atau malahan menambah pertentangan-pertentangan dan ketidak-seimbangan. Kususnya gereja harus mempersiapkan diri untuk membimbing generasi muda  untuk meningkatkan moralitasnya.

Gereja  harus siap akibat pengaruh globalisasi akan muncul ketidak-seimbangan antara fokus pada kedayagunaan praktisi dan tuntutan-tuntutan suara hati, lagi pula sering kali antara norma  kehidupan bersama dan tuntutan pemikiran pribadi, bahkan juga kontemplasi. Akhirnya muncullah ketidak-seimbangan antara focus kegiatan manusia dan visi menyeluruh tentang norma kehiupan.

Dampak Positif

Terciptanya kehidupan bersama yang meliputi seluruh umat manusia pada dirinya akan memungkinkan keterbukaan, penghargaan, dan penghormatan satu terhadap yang lain: orang yang satu terhadap orang yang lain, suku bangsa yang satu terhadap suku bangsa yang lain, bangsa yang satu terhadap bangsa yang lain. Pada gilirannya keadaan yang demikian dapat menjadi landasan bahwa kemanusiaan manusia semakin dijunjung tinggi. Dampak positif lainnya agaknya dapat disebut yaitu bahwa globalisasi dapat memungkinkan terjadinya perubahan besar pada pola hidup manusia, misalnya pada cara kerja manusia: manusia akan semakin aktif dalam memanfaatkan, menanam, dan memperdalam kapasitas individunya manusia semakin ingin menampilkan nilai-nilai manusiawi dan jati diri budayanya.

Dampak negatif

Globalisasi informasi itu sendiri dapat menyebabkan pemerkosaan dan imperialisme budaya negara maju atas negara berkembang (dalam hal ini negara yang lebih lamban dalam perkembangan modernisasinya). Hal sedemikian hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan kenyataan bahwa perbedaan laju perkembangan dalam modernisasi akan menyebabkan terjadinya pemaksaan budaya oleh masyarakat yang satu; masyarakat di negara maju, atas masyarakat yang lain, masyarakat di negara berkembang. Akhirnya globalisasi mungkin dapat menyebabkan terjadinya masyarakat yang individualistis dan yang tidak agamawi

Tantangan dan Harapan

Kemudian bagaimanakah tantangan dan harapan Gereja-gereja itu dalam menghayati hidupnya dalam konteks seperti itu? … bahwa geraja  harus menghadapi dan mensiasati proses globalisasi itu, dalam arti harus terlibat di dalamnya dan memanfaatkan hasil-hasil positif yang dicapainya serta menghindari hasil-hasil negatif yang dibawanya. Bila tidak demikian, maka mereka – seperti telah dikatakan di atas – bukan saja akan tertinggal melainkan juga akan terhempas sehingga globalisasi tidak hanya tidak bermanfaat tetapi juga akan menghancurkan .

Bagaimanakah penghayatan iman   gereja di era globalisasi (dan yang sering disebut era informasi) yang ditulangpunggungi oleh komunikasi dan telekomunikasi itu? Sebelum menjawabnya agaknya perlu dikemukakan kenyataan ini: karena globalisasi, maka dunia masa kini telah menjadi semacam “global village”, yang di dalamnya batas antar negara menjadi semakin pudar.

Bahkan globalisasi sudah menembus “dinding-dinding Gereja”, yang berupa dinding-dinding denominasi dan bahkan dinding-dinding umat, ahkan generasi mudanya . Maksudnya adalah bahwa globalisasi memungkinkan penyebaran modernisasi yang menembusi kehidupan Gereja tanpa dapat dicegah atau dibendung.

Dalam menghadapi budaya modern ini Gereja  jangan  tinggal diam, tetapi harus menghadapinya secara aktif,  bahwa Gereja secara aktif memanfaatkan hal-hal yang positif yang dibawa oleh globalisasi, tetapi sebaliknya secara aktif pula menghindari hal-hal yang negatifnya.

Gereja pada hakikatnya merupakan pengejawantahan dari tanggung jawabnya dalam mengaktualisasikan misinya terhadap umat manusia dan sekaligus terhadap dunia, bahkan lebih khusus lagi meningkatkan moralitas generasi muda agar tidak terpengaruh “isu-isu negative globalisasi”.  Untuk itulah maka Gereja di era globalisasi tidak boleh menjadi kelompok-kelompok manusia yang eksklusif dan hanya menjadi “raksasa dalam tempurung” , menghindar dari tantangan-tantangan yang muncul dari globalisasi. Gereja dalam hal ini dituntut untuk tidak mempedulikan kepentingannya sendiri, melainkan juga kepentingan pihak-pihak lain Jikalau “amanat” seperti itu tidak dipenuhi, maka gereja pada hakikatnya mengingkari eksistensinya,  misinya sebagai yang berada di dunia dan sekaligus diutus ke dalam dunia.

Sangat jelas visi Alkitab yang diberikan kepada Gereja dalam penataan kehidupan yang holistik, seutuhnya, sepenuhnya dan seluruhnya. Relasi manusia, alam dan seluruh ciptaan berjalan dalam interaksi yang saling menghidupkan, menumbuhkan dan mensejahterakan. Suatu tatanan kehidupan yang diidealkan menjadi embanan bagi Gereja di setiap ruang dan waktu.

Konsep dasar meningkatkan Moralitas  generasi muda

2 Kor. 4:1-6,  menceritakan permasalahan-permasalahan  yang dihadapi oleh Rasul Paulus ketika melayani jemaat di Korintus. Ketika itu jemaat Korintus diliputi oleh keributan atau pertikaian . Banyak diantara para pemimpin menggunakan kekuasaan  mereka untuk kepentingan pribadi dan pemenuhan hawa nafsu mereka, dan bukan untuk melayani dan memberitakan Injil Yesus. Rasul Paulus mengajarkan bagaimana seharusnya memiliki pola kepemimpinan yang benar sebagai pemimpin jemaat dan sekaligus hamba Kristus.

Konsep dasar meningkatkan Moralitas  generasi muda

Membangun Motivasi pelayanan  menuntut banyak interaksi dalam keragaman dan perbedaan dari perilaku, persepsi, harapan, kebutuhan, dan logika berpikir manusia. Hal ini menimbulkan tantangan yang sangat besar untuk menghasilkan pelayanan yang konsisten. Konsep dasar  adalah belajar dari berbagai skenario yang betul-betul terjadi dalam berbagai situasi pelayanan di dunia nyata pelayanan. Untuk membangun motivasi pelayanan kita  didorong untuk menjadi kreatif dan mampu muncul dengan solusi sendiri tanpa mengabaikan prinsip dan standar pelayanan Alkitabiah.

Bagaimana motivasi pelayanan kita yang benar?

KEHIDUPAN ORANG KRISTEN IBARAT SEBUAH JENDELA YANG MELALUINYA ORANG LAIN DAPAT MELIHAT YESUS

Kehidupan para hamba Tuhan memerlukan “transformasi karakter” ; yang  bukan Cuma seseorang yang berprilaku seperti KRISTUS secara eksternal ( kelihatan luarnya saja ), Transformasi karakter adalah seseorang yang mengalami perubahan “ pembentukan hati seorang hamba yang sejati “, maka cermin hidupnya dengan sendirinya akan berubah , itulah Transformasi yang menghasilkan karakter KRISTUS !

Tujuan pembentukan karakter ialah supaya kita sebagai orang percaya bisa mempunyai karakter hati yang menghamba. Dan ini semua tergantung sampai sejauh mana kita secara intens mencari dan menghamba pada-Nya .

Jika itu telah terpenuhi maka kita akan menuju ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati akan meningkatkan moralitas manusia termasuk meningkatkat moralitas generasi muda. Karena Roh Kudus turut bekerja di dalamnya

Karakter yang dimiliki oleh Kristus terdapat dalam Galatia 5:22-23 yang dijelaskan tentang buah-buah roh yang juga menggambarkan sifat atau karakter dari Roh Kudus atau Tuhan Yesus itu sendiri yaitu Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.

Sumber Motivasi

(a) Biogenesis – yaitu keberadaan orang itu sendiri. Sejak awal orang seperti ini memang sudah aktif dan agresif. Ia mampu membangun motivasi diri dengan baik. Orang seperti ini memiliki prinsip hidup yang amat kuat, dan rasa percaya diri yang amat besar.

(b) Sosiogenetis – yaitu lingkungan sekitar. Seorang anak akan makan lebih banyak jika ia diletakkan di tengah-tengah lingkungan orang lain yang juga sedang makan dnegan lahapnya. Orang yang tidak mampu berbahasa Inggris “dipaksa” untuk bisa mengguna-kan bahasa itu jika ia diterjunkan di tengah lingkungan yang berbahasa Inggris.

(c) Teogenesis – yaitu dari Tuhan, sifatnya supranatural. Contoh yang sangat jelas adalah motivasi Rasul Paulus dalam memberitakan Injil (Kisah 26:19)

Motivasi Alkitabiah

Setelah kita memahami hakekat pelayanan, pertanyaan berikutnya adalah “apa yang bisa membuat seseorang mau melayani?”

ada 4 hal yang dapat memotivasi kita melayani Tuhan.

(a) Motivasi Ketaatan

(b) Motivasi Kasih

(c) Motivasi Keteladanan

(d) Motivasi Regeneratif, yaitu melihat ke depan, dimana masa depan gereja  ada di tangan orang-orang yang kita layani sekarang.

Kata bijak

“Membangun motivasi pelayanan  hanya bisa diraih jika Anda memiliki motivasi yang kuat dalam diri Anda untuk memilik hati yang menghamba. Tanpa motivasi , sulit sekali Anda menggapai apa yang di inginkan. Karena memiliki hati yang menghamba diperlukan transformasi karakter” – Donny Corneles

 Penulisan sabda

SBU:

Minggu,1 September 2013- Minggu XV Ssdh, Pentakosta ;  Renungan Hari Minggu Malam : Galatia 6:4-6

Kj:

JADILAH DIRI SENDIRI

6:4    Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.

“Kita tidak akan pernah bersyukur jika kita selalu membandingkan hidup kita dengan orang lain”

Masih banyak diantara kita membanding-bandingkan  hidupnya dengan orang lain; sibuk melihat orang lain dari kulit luarnya, dan merasa dirinya penuh dengan kekurangan. Padahal seharusnya kita lebih banyak memfokuskan diri pada apa yang ada dalam diri kita.

Berhentilah membandingkan hidup kita dengan orang lain. Kita lahir di dunia tidak untuk menjadi seperti orang lain. Tuhan menciptakan dan membentuk kita sesuai harapan-Nya, sebab itu Dia telah mengenal kita sejak dalam kandungan. Kita harus menempuh jalan kita sendiri. Kita tidak akan bergerak maju  jika selalu membandingkan kehidupan kita dengan orang lain.

Sebagai anak-anak Tuhan kita harus memiliki intgritas yang sehati , bahwa  kita  lebih dari seorang pemenang. Kita harus membangun mental seorang pemenang dengan menyatakan  bahwa Tuhan memberi hak untuk sebuah hidup yang luar biasa. Para pemenang mengatur jalan hidupnya sesuai rencana Tuhan, yaitu berpikir positif, bertindak positif, dan berkata positif tentang diri dan hidupnya.

Tuhan adalah sang kreator, dan Ia juga sang maestro.  Setiap kita diberikan Tuhan talenta, kecakapan, dan kesanggupan untuk mengerjakan sesuatu.  Tuhan adalah  yang memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu, maka Ia juga yang akan memberikan kesanggupan untuk mengerjakannya.  Tidak ada alasan bagi kita untuk iri terhadap orang lain karena yang menilai pekerjaan kita bukanlah kita sendiri, tetapi Tuhan.

Tuhan ingin kita memaksimalkan potensi kita di bidang yang seharusnya. Bersyukurlah selalu dan bertumbuhlah setiap saat dan bermegahlah atas jerih payah yang kita kerjakan. Dengan  itu kita telah berbagi kebahagiaan  dan syukur  pada Tuhan .

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s