Peranan Perempuan dalam Pelayanan


Perempuan sebagai makhluk religius tentu mempunyai status dan hak di tengah masyarakat. Namun faktor keperempuanannya sering menyebabkan hak dan status itu tidak diakui oleh masyarakat. Masyarakat sering melihat perempuan sebagai makhluk kelas dua, makhluk yang disubordinasikan, sehingga meninimbulkan  stereotipe-stereotipe seperti perempuan itu lemah,pasif dan sebagainya. Namun yang justru membuat masalah adalah perempuan sendiri. Mereka menjetujui kedudukan semacam itu. Tentu saja hal-hal tersebut mempengaruhi hak dan status perempuan dalam rangka memperoleh peran di tengah masyarakat.

Menurut Anne Hommes dalam bukunya,  “Perubahan Peran laki-laki dan Perempuan dalam Gereja dan Masyarakat”, dari segi sosiologis, hubungan laki-laki dan perempuan adalah salah satu bentuk interaksi sosial. Memang, interaksi sosial ini adalah kunci kehidupan bersama. Pola pengawasan ditentukan oleh peranan yang mengatur kelakuan seseorang. Di dalama pergaulan hidup, seseorang senantiasa berhubungan dengan pihak lain, maka biasanya setiap individu mempunyai kesimpulan peranan tertentu atau “set of role”

Pentingnya peranan ada 3 macam menurut Anne Hommes, yaitu:

1.     *Mengatur cara pergaulan .  Sering peranan berbentuk pasangan suami- istri, orang tua-anak, guru-murid. Dengan kata lain hubungan di antara peranan masing-masing bersifat dialektis.

2.   * Mengantar anggota masyarakat dalam proses menyesuaikan diri dengan norma-norma yang pantas’

3.     *Meramalkan perbuatan dari orang lain dan peranan diri sendiri pada masa depan.

Sistem peranan tersebut menjamin kehidupan masyarakat yang teratur dan harmonis. Tetapi interaksi sosial yang berjalan dengan baik bagi pasangan suami-istri yang  “tradisional”  akan kalau si istri turut dalam peranan tersebut dalam memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dari suami. Secara tidak langsung, hal ini menyebabkan suami merasa rendah diri, karena peran  dan kedudukan istri lebih tinggi.

Dalam hal pendidikan pun kalau suami dan istri tidak ada saling pengertian, hal ini bisa berakibat buruk bagi kehidupan rumah tangga mereka. Di sampan pola pergaulan ditentukan oleh  peranan, kedudukan juga punya posisi dalam masyarakat. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan karena yang satu tergantung pada yang lain, begitu juga sebaliknya.

Setiap peranan dalam pegaulan hidup telah dinilai, telah diberikan posisi, atau status yang lebih tinggi daripada peranan sebagai anggota jemaat. Dengan kata lain, sitem kedudukan   disusun secara hierarkis dengan akibat bahwa ada peranan yang dianggap lebih bergengsi dari pada yang lain.

Peranan laki-laki dan perempuan sangat berkaitan  dengan ciri atau personalitas setiap individu yang ditentukan oleh faktor  genetika dan faktor lingkungan.

Dari segi psikologis, konstitusi biologis hubungan laki-laki dan perempuan mengakibatkan perbedaan. Dan perempuan punya dua garis yang dominan, pertama sudah menjadi kodrat perempuan untuk menjadi lemah dank arena bergantung pada laki-laki dalam banyak hal hidupnya, yang kedua perbedaan antara peran laki-laki dan perempuan tercapai melalui proses sosialisasi dan lingkungan.

Dalam theologia pengaruh Alkitab sangat dominan di mana Allah digambarkan sebagai Pencipta, Tuhan, Bapa, Raja, Hakim, dan lain-lain. Semua gambaran berjenis laki-laki. Sering Allah disebut Bapa.

Para teolog perempuan acap kali mengajukan kritik yang serupa. Para penulis perempuan seperti Susan Nelson Dunfee (Beyond Servanthood, 1989), Jacquelyn Grant (“The Sin of Servanthood,” 1993) dan Ada María Isasi-Díaz (“Un Poquito de Justicia-a Little Bit of Justice,” 1996) menkritisi  bahwa konsep pelayanan selama ini dipergunakan dalam komunitas Kristen untuk menindas kaum perempuan dan berlawanan dengan semangat pemberdayaan dan kebebasan yang

Jelas sekali suasana patriakhat Alkitab mengesampingkan kaum perempuan, khususnya dalam PL. Allah sebagai jenis  laki-laki merupakan suatu proyeksi dari bapak yang berkuasa dalam sistem keluarga patriakhat dan metafora ini ditolak oleh kaum feminis.

Dengan sadar akan hak-hak manusia atas ketidakadilan yang ditimpakan atas diri mereka, perempuan bekerja bersama dan mengorganisasi berbagai gerakan untuk membantu mereka sendiri. Beberapa gerakan dari pergerakan ini dimotivasi perempuan Kristen. Perempuan sadar bahwa pembebasan  adalah untuk semua orang  tertindas yang termuat dalam Alkitab.

Perempuan selalu menjadi kaum yang teraniaya di tengah berbagai masyarakat sepanjang sejarah. Ini terjadi karena kebodohan manusia. Watak manusia bodoh cenderung mengarah kepada praktik penindasan pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah selagi mereka tidak terkover oleh daya penekan, baik yang bersifat internal seperti kekuatan iman yang ada dalam jiwa manusia dan ini sedikit sekali terjadi maupun yang bersifat eksternal seperti penerapan hukum dan undang-undang. Praktik penindasan yang terjadi secara begitu naif sepanjang sejarah umumnya terjadi akibat ketidaktahuan terhadap martabat dan kedudukan perempuan. Perempuan sendiri harus menemukan kedudukannya yang sejati dan jangan sampai merasa patut dizalimi hanya lantaran statusnya sebagai perempuan. Banyak kezaliman terhadap perempuan diakui sebagai kezaliman. Sayangnya, banyak pula kezaliman terhadap perempuan yang ternyata tidak terekspos sebagai kezaliman. Contohnya adalah praktik penggiringan kaum perempuan ke lubang konsumerisme, kosmetisme, hedonisme dan trend yang menempatkan perempuan sebagai barang konsumsi, padahal ini merupakan kezaliman besar yang bahkan bisa jadi paling fatal dan tragis terhadap perempuan. Sebab, dengan kezaliman ini perempuan sengaja dipalingkan secara total dari jalur perfeksinya yang sejati agar terjebak pada kecenderungan yang sepele dan absurd.

Manusia sampai sekarang tidak menemukan konsep yang benar mengenai persoalan gender perempuan, yang pada gilirannya juga berimplikasi pada persoalan gender laki-laki. Hingga kini sikap ekstrim, kesewenang-wenangan dan salah persepsi yang mengakibatkan terjadinya kezaliman, kekacauan mental, dilema rumah tangga dan problematika pergaulan antara kedua jenis masih bertahan sebagai bagian dari problema kemanusiaan yang tak terpecahkan. Padahal, manusia sudah sedemikian maju hingga merambah luar angkasa, kedalaman laut, menghasilkan banyak penemuan, juga mencapai kemajuan di bidang psikologi, sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Namun terkait masalah perempuan umat manusia belum punya pemecahan yang jitu

Ada suatu penegasan, seolah-olah Alkitab mendiskriditkan atau menetapkan satu jenis kelamin  yang  “ top markotop” dan jenis kelamin yang  kurang bermutu atau ada penekanan bahwa tugas-tugas perempuan atau pengaruhnya kurang penting. Harusnya ada suatu penilainan yang positif bahwa perempuan di dalam rumah tangga “posisi dan pengaruh” yang di lukiskan dengan damai, adem ayem, akur,  bahagia, , harmoni, , nyaman, rukun, sakinah,  sejahtera, sentosa, syahdu, tenang, dan tenteram, bahkan cinta. Sebagai istri dan ibu, mereka melayani keluarga dan masyarakat dengan cara berbeda. Laki-laki menggunakan kekuatan fisik untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan, sedangkan perempuan mempengaruhi sekitarnya dengan kelembutannya.

Oleh sebab itu diperlukan  pemahaman yang berbeda terhadap isi Alkitab tentang peranan seorang perempuan. Sebab ada suatu kejanggalan di mana bias maskulin dari penafsiran Alkitab berperan dalam dalam merendahkan kaum perempuan.

Antoinette Brown salah satu perempuan di antara perempuan-perempuan pertama yang kuliah theologi di Obelin College, menegaskan ;  bahwa Rasul Paulus menunjukkan akan datangnnya  karunia-karunia Roh yang baru bagi laki-laki maupun perempuan. Ia mengabaikan cercaan Rasul Paulus kepada perempuan dan mengutip surat Galatia “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Yesus kristus” (Galatia 3: 28).

Sebagai perempuan kita harus menyadari  bahwa perlu ada suatu tindakan untuk merubah stigma atau pandangan yang salah  melalui strategi kelangsungan hidup. Perempuan harus berjuang untuk menyingkirkan unsur-unsur negatif yang merendahkan perempuan, baik melalui kebudayaan tradisional.   Mencari atau menata hubungan persaudaraan perempuan dan komunitas yang manusiawi dalam memerangi ketidakadilan  dalam bidang politik,ekonomi, seksual, dan moralitas (baca:agama).

dicita-citakan oleh perempuan Kristen. Laki-laki Kristen dengan mudah menuntut perempuan untuk mematuhi suami mereka atas nama pelayanan.

Berbagai kenyataan hidup dalam beberapa pengalaman hidup perempuan memberi bukti bahwa ada semacam konsep yang mempercayai kodrat perempuan adalah sebagai penyambung keturunan, lemah lembut, lebih emosional, dan fisiknya kurang kuat.

Kaum wanita dipandang rendah nilai martabatnya sebagai manusia. Sementara pria berperan sebagai penguasa segala sesuatu, sedangkan wanita dianggap pasif dan hanya bisa mendengar saja. Karena itu wanita bisa diatur, bahkan dipakai sebagai “pemuas” seksual. Lebih parah lagi, wanita dianggap lebih pantas bekerja di sektor domestik, atau dalam istilah “3 M” (melahirkan, memasak, dan menghias diri)

Dalam kehidupan gereja dewasa ini memang sudah ada perkembangan dalam hal peran wanita menjadi Majelis atau pemangku jabatan gerejawi, namun tidak sebanding dengan jumlah wanita yang sebenarnya memiliki potensi untuk duduk dalam posisi pemimpin (Evang Darmaputra: 1992, 12)

Dengan banyaknya peristiwa-peristiwa yang terjadi karena kitidakpuasan perempuan dalam tuntutannya untuk sederajat dengan laki-laki. Maka  untuk bisa mengerti masalah ini dengan baik, perlunya suatu tinjauan secara menyeluruh terhadap keberadaan perempuan, baik secara sosiologis,historis, psikologis, maupun teologis Alkitabiah dan mencoba mengklarifikasikan serta memberikan solusi mengenai perananan perempuan dalam berteologia.

Beberapa kalangan gereja hingga kini masih mempermasalahkan peranan perempuan di dalam bertheologia dan pelayanan mereka. Setiap gereja memiliki pendapat yang berbeda tentang peranan perempuan. Sehingga perlu adanya pengetahuan yang memadai mengenai peranan perempuan dalam bertheologia.

DT

Bersambung6490_102586559754302_100000088755934_73110_1619656_n.jpg

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s