Peranan Perempuan dalam Alkitab


Perempuan dalam  bahasa Ibrani Isysya dalam bahasa Yunani Gune. Perempuan dan lelaki  sama-sama merupakan “gambar Allah” ;  Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (kej 1:27) dan perempuan adalah penolong yang sepadan atau rekan kerja bagi laki-laki ;  Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. (Kej 2:20).
wanita diciptakan menjadi “penolong” bagi pria. Istilah “penolong. Lebih jelas diterjemahkan dengan “ penolong yang sepadan” (Kej. 2:18). Dalam pengertian ini peran wanita sebagai penolong sangat menentukan, karena tanpa wanita, pria tidak dapat mewujudkan dirinya sepenuhnya.
Dalam hukum Ibrani perempuan/ibu harus dihormati ; Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Kel 20:12), disegani; Setiap orang di antara kamu haruslah menyegani ibunya dan ayahnya dan memelihara hari-hari sabat-Ku; Akulah TUHAN, Allahmu. (Imamat 19:3) . Perempuan bertanggung jawab dan memegang peranan penting dalam kehidupan keluarga mereka.Dalam hal pertalian, baik laki-laki maupun perempuan, korban yang diberikan sama. Perempuan/ibu menghadiri pertemuan agamawi untuk ibadah, dan membawa persembahan korbannya. Dan juga perempuan pada hari sabat dibebaskan dari pekerjaannya ; tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. (Kel 20:10)
Jadi sejak dari permulaan manusia sudah diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan, keduanya sama-sama ahli waris baik sebagai citra ilahi maupun pengasa atas bumi.
 Peranan perempuan dalam keluarga
18      Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
19      Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
20      Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.
21      Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
22      Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.
23      Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
24      Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.
25        Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.
Nasehat rasul Paulus perlu telusuri pada latar belakang tradisi dan budayanya. Surat Paulus ditujukan pada jemaat Kolose yang masih menekankan budaya  patriarkhat, di mana bapak selalu bertindak sebagai kepala rumah tangga.
Di sini Paulus sedang membantu kaum bapak untuk menegakkan kewibawaan mereka yang hilang. Surat Paulus kepada jemaat di Kolose ini berintikan: Kaum lelaki melalaikan tugas dan tanggung-jawabnya sebagai pemimpin dalam keluarga. Di pihak lain,  Misalnya: Istri tidak lagi mau tunduk kepada mereka , atau anak-anak mulai kurang ajar kepada mereka. Karena kewibawaan yang “melempem” seperti kerupuk yang masuk angin , tentu bisa menimbulkan berbagai “traumatik” dalam kehidupan  rumah tangga.
Rasul Paulus tidak ingin melihat rumah tangga Kristen itu hancur berantakkan. Karena dia melihat banyak persoalan muncul dimasyarakat yang sedang melanda kehidupan rumah tangga Kristen. Maka dia mengambil inisiatif dan memohon bimbingan Tuhan untuk memberikan petunjuk dan nasehat kepada mereka. Paulus sangat mengharapkan masing-masing anggota keluarga di jemaat Kolose dapat menjalankan hak dan kewajibannya sesuai kehendak Tuhan (rumah tangga Kristen yang diharapkan)  supaya nama Tuhan dimuliakan. Paulus ingin agar kehidupan keluarga Kristen di jemaat kolose menjadikan ; “Kristus harus menjadi Tuan dalam keluarga dan seluruh anggota keluarga adalah hamba-Nya”.
Ketika seluruh anggota keluarga memahami posisi ini maka akan terbentuklah sebuah keluarga yang sehat, kuat dan memiliki relasi yang indah dengan Tuhan dan sesama anggota. Pasangan ideal dari kata keluarga adalah bahagia, sehingga idiomnya menjadi keluarga bahagia. Maknanya, tujuan dari setiap orang yang membina rumah tangga adalah mencari kebahagiaan hidup.
Hampir seluruh budaya bangsa menempatkan kehidupan keluarga sebagai ukuran kebahagiaan yang sebenarnya.   Hidup berkeluarga Secara psikologis, kehidupan berkeluarga, baik bagi suami, isteri, anak-anak, cucu-cicit atau bahkan mertua merupakan pelabuhan perasaan, ketenteraman, kerinduan,keharuan, semangat dan pengorbanan,semuanya berlabuh di lembaga yang bernama keluarga.   Sacara natural, hidup berumah tangga  memiliki “kesakralan”.
Menikah merupakan hal yang sangat GUAMPANG, tetapi membangun keluarga bahagia bukan semudah “membalik badan”.   Pekerjaan membangun, pertama harus didahului dengan adanya gambar yang merupakan konsep dari bangunan yang diinginkan. Gambar bangunan (maket) bisa didiskusikan dan diubah sesuai dengan konsep pikiran yang akan dituangkan dalam wujud bangunan itu.   Demikian juga membangun keluarga bahagia, terlebih dahulu orang harus memiliki konsep tentang keluarga bahagia.
Banyak kriteria yang disusun orang untuk menggambarkan sebuah keluarga yang bahagia, bergantung ketinggian budaya masing-masing orang, misalnya paling rendah orang mengukur kebahagiaan keluarga dengan tercukupinya sandang, pangan dan papan. Bagi orang yang pendidikannya tinggi atau tingkat sosialnya tinggi, maka konsep sandang bukan sekedar pakaian penutup badan, tetapi juga simbol dari suatu makna. Demikian juga pangan bukan sekedar kenyang atau standar gizi, tetapi ada selera non gizi yang menjadi konsepnya. Demikian seterusnya tempat tinggal (papan) , kendaraan, perabotan bahkan hiasan, kesemuanya itu bagi orang tertentu mempunyai kandungan makna budaya. Secara sosiologis psikologis, kehadiran anak dalam keluarga juga dipandang sebagai parameter kebahagiaan. Isteri bukan sekedar perempuan teman ngobrol dan ibu dari anak-anak, suami bukan sekedar lelaki, teman dikala sepi, ada konsep aktualisasi diri yang berdimensi horizontal dan vertikal.
keluarga Kristen
Pembangunan sebuah keluarga yang mengalami perubahan, sehat, kuat, dan memiliki relasi indah dengan Tuhan dan sesama. Tuhan Harus menjadi pondasi dalam membangun keluarga yang sehat.  Pondasi adalah penentu besar dan kuatnya sebuah bangunan (keluarga).
Pondasi keluarga yang kuat dan sehat adalah harus memakai Batu karang yang kokoh  (Tuhan Yesus Kristus) Jangan materi, kepopuleran dan  kukuasaan menjadi fondasi dalam kehidupan rumah tangga Anda…pasti Rumah tangga Anda akan ambruk akibat selalu ada rasa ketidak puasan
Bangunlah keluarga di dalam pertalian yang benar ! –kata “Tunduklah, kasihilah dan Taatilah” (ay 18 -20) • Pertalian  sesama anggota keluarga sangat menentukan harmonisnya sebuah keluarga. Jika pertalian antar anggota keluarga berjalan damai sajahtera, maka mengasihi dan ketaatan bukan menjadi suatu beban yang berat untuk dilakukan, tetapi dipandang sebagai sesuatu panggilan yang indah di dalam Tuhan (ayat 20 b).
 Di dalam Relasi yang baik, ada suatu kerinduan untuk bersekutu, saling mendoakan, saling membangun, saling menghargai, saling mendahulukan & saling mengasihi Bangunlah keluarga diatas MOTIVASI yang benar. Ayat 23 – “Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”
Disini Paulus ingin mengingatkan kita semua, secara khusus keluarga, yaitu; melakukan hak dan kewajiban dalam keluarga motifnya hanya satu yaitu Tuhan dimuliakan, bukan mencari pujian, keuntungan secara pribadi. Ketika istri tunduk, ketika suami mengasihi dan ketika anak-anak taat dan hormat kepada orang tua, semuanya harus dikerjakan seperti untuk Tuhan. Ada ketulusan, kejujuran, dan motivasi yang benar – Jangan seperti pepatah “ada udang dibalik batu”
Sejatinya prilaku seseorang yang diperlihatkan adalah cerminan bagaimana keluarga membentuknya. Disinilah peran penting sebuah keluarga dalam pengkarakteran seseorang,  karena pohon yang baik akan menumbuhkan buah yang baik, begitupula sebaliknya pohon yang buruk akan memiliki buah yang buruk. Selain pendidikan formal yang diberikan, baiknya keluarga juga menanamkan dengan kuat pendidikan agama dan sosial kemasyarakatan.
“Kekuatan  kristen  berasal dari integritas keluarga”.  Artinya kalau keluarga memiliki pondasi yang  kokoh maka kekristenan  pasti  kuat. Karena itu penting bagi  kita menjadikan  keluarga yang memiliki pertalian yang terjalin kuat , membangun serta memilik pondasi yang kokoh  yaitu Tuhan Yesus  dan sesama anggota keluarga.
Kejadian 1:26-28
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita  menjadikan manusia   menurut gambar   dan rupa   Kita, supaya mereka berkuasa   atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara   dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan u  manusia   itu menurut gambar-Nya,  menurut gambar Allah  diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan   diciptakan-Nya mereka.    Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:  “Beranakcuculah dan bertambah   banyak  ; penuhilah bumi   dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas d  ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. “
Dalam kisah kejadian jelas bahwa mulai dari pasal pertama Alkitab ada kesamaan fundamental antara laki-laki dan perempuan sudah dinyatakan dengan tegas. Apa sajapun yang esensial manusiawi atau atau yang intinya bersifat manusiawi dalam diri laki-laki maupun perempuan itu adalah refleksi dari gambaran ilahi yang sama, yang di letakkan Allah dalam diri kita. Ini berarti laki-laki dan perempuan sama-sama terpanggil untuk menguasai bumi dan bekerja sama dengan Allah mengelola kekayaan-Nya demi kepentingan bersama umat manusia.
Namun kesepadanan yang asali itu menjadi rusak oleh kejatuhan manusia dala dosa. Sebagian hukuman yang dijatuhkan Allah atas ketidak taatan leluhur kita, ialah firman-Nya kepada perempuan: “Engkau akan birahi kepada suami dan ia akan berkuasa atasmu”. (Kej 3:16b)
Dan kenyataan inilah yang dimanfaatkan lelaki dalam menindas perempuan.
         Ester adalah perempuan yang menyelamatkan bangsa Israel dari kebinasaan
         Miryam perempuan sebagai nabi (Kel. 15:20), Debora (Hakim-hakim 4)
         Sifra dan Pua  adalah bidan yang dipakai Allah menyelamatkan anak-anak (Kel 1:25-21)
         Perempuan sebagai pemimpin dan hakim, seperti Miryam (Kel. 15:21) dam Debora (Hakim-akim 4-5)
         Rut adalah perempuan yang berani mengambil suatu keputusan (Rut 1:16)
         Hana adalah perempuan yang gigih (1 Sam. 1 :1-2 )
Dalam Perjanjian Baru, kembali kesepadanan antara laki-laki dan perempuan  dipulihkan. Sebab Allah akan mencurahkan Roh-Nya ke dalam diri Anak-Nya dan tidak ada lagi pendiskualifikasian berdasarkan gander/jenis kelamin.
      Perempuan dipakai  oleh Allah sebagai sarana kedatangan jru selamat, yaitu melalui maria (Mat. 1:18-25 ; Luk. 2:1-7)
         Perempuan dan laki-laki disebut yang benar di hadapan Allah (Luk. 1:5-6)
         Perempuan sebagai pelayan, sibuk melayani makanan dan minuman seperti Martha (Luk. 10:40)
   Perempuan beroleh kesempatan untuk mendengarkan pengajaran Yesus sebagaimana layaknya murid-murid Yesus yang semuanya laki-laki. Yesus menyebut tindakan Maria dari Baitani (Luk. 10: 39,42) sebagai  yang telah memilih bagian terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.
         Perempuan yang melayani seperti Maria Magdalena, Yohana, dan Susana (Luk. 8: 1-3)
         Perempuan yang turut hadir di ruang atas, setelah kenaikan Tuhan yesus ke surge (Kis. 1:14)
      Perempuan sebagai saksi utama atas kebangkitan tuhan yesus, dan yang pertama meneruskan berita itu. Mreka itu adalah Maria Magdalena, Yohana, dan Maria ibu Yakobus (Mat. 28:1-8, Luk. 24:1-12, Yoh. 20:1-10)
         Perempuan yang bekerja untuk pelayanan, dialah Maria (Rm. 16: 6)
         Perempuan sebagai pemimpin jemaat rumah, seperti Priskila (1 Kor. 16-19)
         Perempuan yang beribadat kepada Allah dan yang membantu tugas-tugas Paulus, dialah Lidia (Kis. 16: 14-25)
         Perempuan yang bekerja keras  dengan bersaksi,berdoa, mengajar, dan menolong mereka adalah Trifena dan Trifosa (Rm. 16:12)
         Perempuan sebagai nabi,dialah Hana (Luk. 2:36-38)
         Perempuan yang banyak berbuat baik dan member sedekah, dialah Dorkas atau Tabita (Kis 9:36)
         Perempuan sebagai pengusaha, seperti Lidia. (Kis. 16:14)

bersambung

6490_102586559754302_100000088755934_73110_1619656_n.jpg

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s