Peranan Perempuan pada masa kini


Menurut Anne Hommes, istilah peranan dari drama seorang actor/aktris memainkan peran sebagai lakon/musuh. Untuk menjelaskan lebih lanjut lagi peranan apa yang dimainkan, si pemain memakai topeng, topeng tersebut dinamakan “Persona” berarti pernyataan lahir (social self) ini diwujudkan dalam kumpulan  seseorang di mana ia sebagai obyek harus menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku.

Contoh :  Seorang perempuan yang telah berkeluarga memiliki karir akan timbul      pertentangan di antara peran sebagai perempuan yang berkarir harus diutamakan, tetapi norma yang berlaku mendorong ia harus pulang pada waktunya untuk mengurus keluarga

 

Peranan Perempuan Dalam masyarakat, antara lain:

         Dalam kegiatan pendidikan  kesejahteraan (PKK) dan Dharma Wanita

         Sebagai guru, pegawai negri ,  pegawa swasta, dan pengusaha

         Sebagai petani dan pedagang

         Sebagai ibu rumah tangga

         Sebagai politis,Presiden, dan Perdana Mentri

         Sebagai anggota angkatan bersenjata (ABRI) dan polisi

         Sebagai lurah, kepala desa dan kepala kecamatan

         Sebagai hakim, dokter, perawat, dan bidan

S

Peranan Perempuan dalam keluarga

“Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya” (Titus 2:3,4)

Karena Alkitab mengajarkan istri harus “tunduk kepada suaminya”  dan “bertanggung jawab”, maka kaum perempuan Kristen berusaha keras untuk mematuhi firman Allah, meskipun mereka merasa “tidak suka melakukannya”. Bila mereka tidak menanggapi seperti yang  seharusnya, mereka segera merasa ersalah, yang justru membuat masalah itu menjadi lebih sulit. Para suami tau benar bagaimana menggunakan “ayat-ayat Alkitab” untuk kepentingan mereka sendiri; dengan ayat-ayat itu, mereka menciptakan hal-hal yang menimbulkan kecemasan dan rasa bersalah di pihak istri-istri mereka.

Yang harus dilakukan perempuan agar kehidupan keluarganya sejahtera yaitu tindakan  harus didahulukan  daripada perasaan. Konsep ini sukar diterapkan dalam kebiasaan kita. Kita sukar melakukan yang tidak kita sukai. Namun kehidupan kita menuntut melakukan seperti itu. Kita harus bangun, ketika kita lebih suka tidur. Kita harus memasak , ketika kita lebih suka menonton televise. Kita harus mencuci pakaian ketika kita lebih suka bermain tenis.

Keluarga yang baik menjadi modal seseorang untuk bisa melakukan apapun. Basis keluarga yang kuat akan memberikan ketenangan, sehingga kelak membentuk pribadi yang sukses.

Nah, perempuan punya peran seimbang dan setara dengan laki-laki dalam menciptakan basis keluarga kuat ini.  Peran perempuan harus fleksibel dalam keluarga.  “Perempuan adalah istri, mitra aktif, pendidik, juga profesional di bidangnya,” 

 Perempuan harus memiliki integritas yang tertanam kuat dalam diri jika ingin berperan bersama kaum lelaki, di antaranya memiliki : proteksi, moral, memerhatikan edukasi, peduli pada kecantikan, mampu berkomunikasi, punya visi, merawat anak-anak, dan memerhatikan kesehatan. Untuk mampu melakukannya, perempuan perlu meningkatkan wawasan selain juga percaya diri menampilkan pribadinya.

Banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk mewujudkan pribadi lengkap dan fleksibel ini. “Baca buku untuk menambah wawasan. Yang paling penting dalam diri individu adalah behaviour, lalu brain dan be healthy,” .

Dalam banyak contoh, perasaan-perasaan positif muncul ketika kita sedang mengerjakan sesuatu yang harus kita selesaikan. Inilah bagian dari kehidupan manusia. Kemampuan kita untuk melakukan, menunjukkan kedewasaan kita.

“Cerita tentang Peranan Perempuan”

“Tema tentang perempuan yang kerap kali diangkat melalui film maupun di berbagai forum diskusi selalu menjadi diagnosa yang menarik. Selain memperdebatkan peran dan hak-hak kaum perempuan, tema-tema seperti yang dimunculkan Nia Dinata dalam  film-filmnya yang oleh beberapa kalangan dianggap kontroversial tentulah menjadi kritik tersendiri bagi masyarakat kita” .

Ca Bau Kan (2001), yang diangkat dari novel Remy Silado, berkisah tentang komunitas Tionghoa Indonesia pasca-Reformasi. Film ini mengantarkan Nia pada predikat Sutradara Baru Terbaik yang Menjanjikan di Festival Film Asia Pasifik, Korea (2002), bahkan dinominasikan sebagai kandidat Film Asing Terbaik pada Oscar 2003.

Arisan!, yang dirilis pada tahun 2003, merupakan sebuah film yang menampilkan keunikan kehidupan kaum kosmopolitan di Jakarta. Arisan! berhasil memenangkan kelima penghargaan utama dalam Festival Film Indonesia 2004, yaitu Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik. Selain itu, film ini berhasil diputar di festival film internasional, seperti di New York, Amsterdam, dan Vancouver.

Sementara dalam Berbagi Suami (2006) dan Perempuan Punya Cerita (2008), Nia lebih dalam menyoroti sekaligus mengkritisi peran gender dan budaya patriarki yang kerap menimbulkan gejolak tersendiri bagi kaum perempuan. Melalui dua filmnya tersebut, Nia Dinata yang merupakan lulusan jurusan komunikasi di Boston dan Pennsylvania ini secara gamblang memaparkan kompleksitas dunia perempuan di tengah masyarakat urban Indonesia.

Komplikasi atau kekusutan globalitas  perempuan dan kehidupan sosialnya senantiasa menimbulkan argumentasi  tersendiri manakala peran perempuan tidak lagi semata dianggap sebagai obyek dari budaya patriarki, tetapi di era globalisasi ini  perempuan kerap kali mengambil peran-peran pokok dalam masyarakat. Isu-isu dan persoalan yang melingkupi perempuan era kini, bagaimana peran perempuan di tengah masyarakat urban yang belum sepenuhnya terlepas dari kungkungan budaya patriarki yang kental?

Kesadaran akan hakikat eksistensi manusia menjadi titik tolak awal gerakan feminisme. Kata “feminisme” berasal dari kata Latin “femina”artinya wanita. Dalam pengertian ini, feminisme dipahami dalam hubungan dengan tugas dan tanggung jawab kaum wanita. Maka gerakan feminisme adalah usaha kaum wanita untuk melepaskan system patriarchal dan berjuang menegakkan keadilan, persamaan hak dan martabat antara pria dan wanita, termasuk kesempatan kerja.

Adanya ketimpangan ini muncullah  gerakan feminisme. Antara lain:

Pertama, lahirnya revolusi Prancis dan Amerika pada abad 18 dan 19, membukan kesempatan bagi perjuangan persamaan hak dan martabat antara pria dan wanita.

Kedua, munculnya gerakan anti perbudakan, di mana kaum wanita merupakan bagian terbesar dari masyarakat tertindas.

Ketiga, munculnya figure wanita berkaliber dunia.Mereka adalah kaum terpelajar yang berusaha merumuskan dan berbicara tentang kaumnya.

Sehubungan dengan ini ada perjuangan gerakan feminisme antara lain:

Gerakan feminis Liberal, memperjuangkan kesamaan hak dan martabat antara pria dan wanita;

Gerakan feminis Marxis, memperjuangan keperdulian terhadap otonomi ekonomi dan upah yang adil.

Gerakan Feminisme Romantis (termasuk feminisme radikal) berusaha menghancurkan system patriarchal yang mendewakan realitas seksual supaya nilai pesona wanita yang telah jatuh dalam perbudakan direbut kembali.

Tujuan gerakan feminim ini ingin, agar peran perempuan bagi kelangsungan hidup manusia di dunia sama besarnya dengan peran laki-laki. Secara alamiah, perempuan bahkan mengemban tugas-tugas terbesar bagi kelangsungan hidup manusia, termasuk melahirkan dan mendidik anak. Karena itu, wajar jika tema perempuan sejak dulu ramai didiskusikan oleh para pemikir di bidang etika, budaya dan tradisi masyarakat berbagai bangsa.

 Dengan berbagai adat dan kepercayaan di berbagai wilayah yang berbeda-beda,ini juga masuk dalam cara pandang terhadap kaum perempuan  di mana mereka berada. Semisal dalam adat jawa atau didaerah pedesaan dimana ada mitos atau kepercayaan bahwa “Wong wedok dadi konco wingking” (perempuan hanya jadi teman di belakang) yang dimaksud posisi dan peran seorang perempuan hanya mengurus keperluan dapur di sebuah keluarga.

Dengan era global dengan banyak sosialisasi yang dilakukan melalui media dan ceramah-ceramah,masuk era emansipasi perempuan dan kesetaraan gender sampai saat ini,sedikitnya bisa mulai merubah pola pikir masyarakat pedesaan khususnya kaum perempuan yang tidak hanya dikesampingkan.

Dengan semangat kartini,kesetaraan gender,dan emansipasi perempuan sampai saat ini banyak kaum perempuan yang mulai di ikut sertakan dalam kehidupan luar,sampai bisa juga menduduki tingkatan pemimpin di sebuah forum. Dan masyarakat juga mulai sadar akan peran perempuan dalam sebuah forum diskusi musyawarah dimana quota perempuan harus ada dan terpenuhi.

Berbicara soal kedudukan dimasyarakat untuk kaum perempuan ini sudah tidak perlu dipertanyakan saat ini,mulai dari presiden sampai kepala dusun pastinya ada kaum perempuan yang menjabatnya.  Dengan adanya sebuah kebangkitan kaum perempuan dengan berbagai fakto-faktor tertentu yang mengharuskan dirinya harus mampu,  maka mereka akan menjadi atau tidak jauh beda dengan kaum laki-laki dan hanyalah kodrat yang membedakan antara perempuan dan laki-laki.

6490_102586559754302_100000088755934_73110_1619656_n.jpgSatu-persatu perempuan Indonesia tampil kedepan untuk menjadi pemimpin. Megawati soekarno Putri, Yenny Wahid, Puan Maharani, Khofifah Indar Prawansa dan masih banyak lagi yang lainnya adalah sosok perempuan tangguh yang menghiasi pentas perpolitikan di negeri ini. Mereka berusaha menerobos pentas politik patriarkal yang selama ini dikuasai oleh kaum laki-laki. Inilah dampak postif-konstruktif dari perubahan yang terjadi di era globalisasi ini.

Kehadiran mereka di pentas politik perlu diapresiasi. Semangat kartini untuk berkreasi melayani, mengabdi pada negeri yang tumbuh dalam jiwa mereka perlu diwarisi oleh para perempuan di negeri ini.

Wajah perempuan “Si buruk rupa”

Eksistensi perempuan hari ini sudah melampaui zamannya. Jika tidak ingin mengatakan melampaui kodratnya Perempuan bukan lagi sebagai objek tapi sering kali tampil sebagai subjek untuk membentuk eksistensinya sendiri. Banyaknya perempuan yang masuk bui karena berbagai kasus yang dihadapi adalah bukti, bahwa perempuan tidak lagi bersembunyi dikamar belakang, tapi perempuan selalu tampil di teras depan.

 Era globalisasi yang semakin identik dengan konsumerisme membuat semuanya berubah. Dan perubahan itu selalu berwajah ganda. Ada yang bersifat membangun (konstruktif) ada juga yang menghancurkan (de-konstruktif).

 Adanya perubahan kultur dan struktur dalam politik yang sangat frontal dengan semakin banyaknya politisi perempuan sebenarnya, merupakan angin segar di era demokrasi. Namun sayangnya kesempatan itu tidak digunakan dengan baik. Banyak politisi perempuan yang terjerumus dalam pusaran kasus korupsi.

 Angelina Sondakh, Wa Ode Nurhayati, Miranda Goeltom, Nunun Nurbaeti, Hartati Murdaya, Neneng dan Artalyta Suryani adalah sederet perempuan cantik yang menjalani hari-harinya di balik jeruji besi karena kasus korupsi. Inilah wajah perubahan yang bersifat dekonstruktif itu.

 Perempuan yang selama ini dicitrakan sebagai sosok yang lembut, ramah dan penuh kasih sayang,dalam sosok perempuan yang disebut di atas berubah menjadi sosok yang kejam, licik, penipu, pembohong, tak berperasaan dan harus diwaspadai. Tentunya, Stigmasisasi ini ada pengecualian. Sifat-sifat yang dimaksud tidak berlaku bagi mereka para perempuan yang masih menjaga kehormatan dan kepribadiannya sebagai sosok wanita yang mulia dan beriman.

DT

 Bersambung

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s