Utak-atik Pendeta sebagai pemimpin


 

Utak-atik tentang pendeta

Apakah sebagai pendeta yang memimpin kita sudah menjadi pelayan/hamba  atau justru menjadi BOS yang minta dilayani seperti seorang raja ?

 Ada banyak kinerja seorang pendeta sebagai  yang menurut penilaian jemaat  tidak mencerminkan profil seorang yang melayani. Semua-semua minta dilayani. Bicara soal etis tetapi tidak menjadi pelakunya, memiliki  attitude yang sama sekali tidak baik, tidak inovatif tetapi banyak menuntut, tidak seimbang dengan hak dan kewajiban. Bagaimana pola kepemimpinan mode seperti ini (BOS) mau membangun  “domba-domba” nya  di masa depan ?

Karya yang terbesar, yang termulia, dan yang terbaik dari yang pernah disampaikan oleh seorang pendeta sebagai pemimpin  adalah melalui contoh hidupnya sendiri. Ralp Waldo Emerson berkata, “Apa yang kamu sampaikan begitu nyaring, saya tidak dapat mendengar apa yang kamu katakan.” Tidak ada seorangpun yang dapat berkotbah lebih tinggi dari suara tangisan terhadap contoh hidupnya sendiri. Untuk menjadi penuh kuasa dan bergerak dengan efektif, dia harus mengejahwantahkan di dalam daging dan tubuhnya sendiri prinsip rohani yang dia anjurkan.Jemaat dapat melihat melihat  jauh lebih mudah daripada apa yang mereka dengar.

Sebuah contoh jauh lebih bernilai daripada kata-kata yang disampaikan dengan baik . Biarlah seorang pendeta sebagai pemimpin menjadi manusia  yang benar taat terhadap Firman Tuhan dan seluruh jemaat dapat digerakkan oleh hidupnya yang “menghamba”.

Paulus  tidak pernah berhenti menyerukan hal itu. Dia menulis kepada jemaat Korintus, “jadilah pengikutku sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (1 Korintus 11:1). Dia menulis kepada jemaat yang ada di Filipi: “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu” (Filipi 4:9).  Dia mendesak Timotius yang merupakan anaknya dalam pelayanan dengan kata-kata ini, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu” (1 Tim. 4:12).

Pendeta sebagai pemimpin adalah seorang yang bukan hanya ketika berada di atas mimbar tetapi akan lebih efektif  juga cerminan didalam kehidupannya sehari-hari yang terlihat di depan mata jemaatnya.

Seorang pendeta sebagai pemimpin   harus meletakkan kepentingan karakter dari pribadi yang baik dan benar. “Pembicara” yang baik haruslah menjadi orang  baik. Santo Fransiskus dari Asisi berkata, “Tidak ada gunanya pergi kesetiap tempat untuk berkotbah kecuali kita berkotbah disaat kita sedang pergi.”

Apa yang dimohon dengan sangat oleh seorang pendeta sebagai pemimpin  di atas mimbar, harus membuat dia menjadi orang pertama yang mendemostrasikannya di dalam kehidupan pribadinya. Jika dia berkotbah tentang doa maka dia harus menjadi pendoa terlebih dahulu, jika  dia berkotbah tentang kasih, dia terlebih dahulu harus mencerminkan kasih. Apapun subjeknya dia harus menjadi orang pertama yang membawa jemaat untuk melihat dan mengikuti dia dalam contoh hidupnya.

Yang pertama dan yang utama  menjadi kekuatan di dalam diri pendeta adalah keyakinannya, jauh di dalam dirinya sendiri bahwa Tuhan  memanggilnya  menjadi seorang pelayan. Jika kepercayaan ini tidak dapat diguncangkan, semua unsur lain di dalam kehidupan pendeta akan jatuh kedalam “zona nyaman”.

Kesalahan dalam hal ini akan membawa akibat yang fatal—fatal bagi pelayanan itu sendiri dan  jemaat dimana dia melayani. Pendeta adalah gembala yang  berani menyatakan kebenaran dan menjadi model dalam kehidupan. Pendeta sebagai pemimpin yang diberkati hidup dalam kemurahan tidak untuk menonjolkan dirinya. Dia ada sebagai wakil Tuhan untuk melayani mereka yang hilang, terhina, dan rendah, bukan untuk jadi BOS. Semakin jelas kehidupan seseorang yang terpanggil melayani Tuhan, kehidupan mereka semakin sederhana dan menghadirkan cinta kasih.

Bukankah seorang pelayan juga harus memiliki sebuah kesalehan  (1 Tim.4:12). Dia merupakan sebuah model bagi jemaat. Dia harus menjadi corong iman  (1 Tim.1:13; Titus 2:1). Dia harus memiliki kapasitas mental yang baik dan terlatih dalam pengetahuan Kitab Suci (2 Tim.2:15). Dia harus cakap mengajar orang (1 Tim.3:2; 2 Tim. 2:2; 2 Tim. 2:24-25).

Dia harus menjadi seseorang yang bijak dalam hal-hal praktisi dan  berkemampuan memimpin. Kesadaran untuk menghadirkan  Kristus,  keistimewaan untuk memperkenalkan kekayaan Tuhan kepada orang-orang yang menderita , menyelamatkan jiwa-jiwa yang tersesat orang-orang , lemah dan putus asa.

Upah seorang pendeta sebagai pemimpin tidak pernah dapat diekspresikan dalam bentuk uang baik itu gaji yang tetap ataupun kompensasi lainnya. Dia dibayar dengan “koin surgawi”, sebuah kompensasi kekayaan yang suci di dalam hidupnya . Cinta dan kasih sayang dari jemaatnya memiliki nilai yang lebih berharga daripada semua emas dan perak yang ada di dunia ini.

“Melayani” dalam pandangan umum, bukanlah suatu pekerjaan yang bergengsi. Sebab itu untuk melakukannya dibutuhkan “kerendahan hati” dan “penyangkalan diri”. kesidiaan jika diperlukan berjongkok di bawah orang yang kita layani, dan membasuh kakinya. Sebab apa yang lebih mulia dari “kerendahan hati”  ? . Dan apa yang lebih luhur dari “penyangkalan diri” ?. Apa yang membuat pendeta itu dalam pelayanannya istimewa ?…kesetiaan dan kredibilitasnya.

Banyak pendeta sebagai pemimpin termasuk penulis merindukan untuk menjadi hamba yang setia dan dapat dipercaya. Yang ucapannya menyatu dengan tindakan,  tidak mengalami kepribadian-belah baik di atas mimbar maupun di segala tempat. Seorang pendeta sebagai pemimpin seharusnya; tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya dengan rendah hati yang seorang menganggap orang lain lebih utama dari dirinya sendiri.

Kita semua harus belajar  kebajikan disamping bijaksana

Semua orang ingin melakukan kebajikan. Semua orang juga ingin mendapatkan kebajikan. tetapi, semua oranga tahu itu tidak mudah. Sebab seoaran yang  melakukan kebajikan dia harus memiliki hikmat/kebijaksanaan. Demikian juga jika sesorang memiliki sikap bijak/berhikmat pasti berbuat kebajikan. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Kebajikan mememiliki arti; arif dan bijaksana, dapat menimbang-nimbang dengan baik, memilik tenggang rasa, panjang pikiran, ada self kontrol. secara teoritis mereka yang memiliki kebajikan mampu mengolah perenungan dan refleksia atas hidup. (Martha Belawati)    

“Orang yang ber KEBAJIKAN terlihat dari jauh bagaikan gunung  yang menjulang tinggi tetapi orang yang JAHAT, tak terlihat walaupun ia berada dekat dengan kita, bagaikan panah dilepaskan pada waktu malam”

Pada dasarnya batin setiap manusia bagaikan selembar kertas putih yang polos, yang bebas dari noda maupun bercakan tinta. Indah kelihatannya tetapi nilainya, tidaklah seberapa. Dan jika kertas putih ini dipenuhi dengan aneka ragam lukisan atau gambar yang indah, maka akan menimbulkan suatu daya tarik dan secara otomatis, nilainya pasti akan muncul seketika. Tetapi jika sebaliknya yg diperbuat, misalnya dicemari dengan segumpal kotoran atau dikotori dengan noda noda yang tak beraturan, maka kehadirannya, pastilah tidak akan berguna lagi. Dan sudah pasti, nilainya pun akan sirna dan tidaklah berbeda dengan sampah. Disisi selanjutnya, jika bathin ini dipenuhi dengan beragam perbuatan terpuji, maka akan menjadikan seseorang terhormat, tersegani, terhargai, dimanapun dia berada.

Hanya dengan bersikap jujur pada diri sendiri dapat kembali ke jati diri yang sejati. Kebajikan Utama adalah berkorban : “Kaya, namun tidak memiliki, Bekerja, namun tidak mengambil upah,Memimpin namun tidak menguasai”

            Menjadi Pendeta sebagai pemimpin yang melayani   adalah menjadi “hamba”, menjadi  “budak” (slaves) atas orang lain. Dan yang terbesar dari seorang pendeta sebagai pemimpin yang melayani  adalah ketika ia berhasil melayani dan mau menjadi “jongos” (baca: budak) bagi orang lain. Itu semua adalah definisi  versi Sang Pemimpin-Hamba Sejati. Dan Dia tidak sekedar mendefinisikan, tetapi juga menjadi model yang nyata bagi definisi kepemimpin/pelayanan-Nya tersebut: ”Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.

Dan itu sangat sulit  karena manusia seringkali membangun sebuah menara piramida yang dibangun atas dasar ”aku,” ”milikku,” dan ”diriku sendiri.”Semangat kesuksesan demi pemujaan diri masih begitu melekat di dalam diri kita. Bahkan diakui atau tidak, disadari atau tidak, jiwa narsistik (memuja diri sendiri) seringkali menjangkiti banyak orang yang mengaku pengikut Kristus.

Apakah ”motivasi pelayanan”  agar  bisa bergaya? Apakah motivasi melayani  untuk menunjukkan atau membuktikan ”Who’s the Boss?”– siapa ”boss”, siapa ”jongos”? Sama sekali salah!” Motivasi pelayanan” adalah justru untuk menyatakan ketaatankepada Tuhan.

Jadi, bagi para pendeta sebagai pemimpin termasuk penulis; Pendeta sebagai pemimpin  itu tidak sinonim dengan menjadi tuan. Panggilan kita adalah untuk melayani, bukan untuk menguasai. Panggilan kita adalah menjadi hamba bukan menjadi raja. Memang benar, kepemimipinan mustahil tanpa otoritas tertentu. Tanpa itu siapapun tak bisa memimpin.   Titik berat yang diletakkan Yesus bukanlah atas otoritas pemimpin-penguasa, melainkan atas kerendahan hati pemimpin-hamba.

 

“Layani domba-domba Anda dengan kasih yang tak kunjung padam dan jangan melihat rupa” – Martha Belawati

images

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s