Pemimpin berintegritas akan mengelola konflik dengan bijak


imagesKonflik disinonimkan=> bentrokan, friksi, konfrontasi, percekcokan, pergesekan, perpecahan, perselisihan, pertengkaran,pertikaian, sengketa, rivalitas,  antagonisme, inkompatibilitas, paradoks, pertentangan

Wikipedia :

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Menurut Analisis saya:

Tidak satu orang atau masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggota  atau dengan kelompok masyarakat lainnya,baik dalam suatu organisasi maupun lembaga keagamaan/gereja. Konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan tidak satupun manusia sebagai makhluk sosial  yang tidak pernah mengalami konflik, apalagi dalam kehidupan masyarakat, organisasi, bahkan lembaga keagamaan/gereja.   Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

konflik merupakan peristiwa yang wajar terjadi dalam semua kelompok dan organisasi. Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, karena itu keberadaan konflik harus diterima , dirasionalisasikan, dikelola dengan bijak sedemikian rupa sehingga bermanfaat bagi mereka.  Seperti yang terjadi di GPIB—Masalah penjualan asset di Pejambon menjadi masalah yang serius , membuat jemaat bertanya bahkan menuntut ketransparanan dari pihak MS.  Hingga kini belum satupun pihak MS menjawab keresahan jemaat yang tertuang di dunia maya.

Menurut Analisis Saya

Jika masalah itu tidak segera MS selesaikan maka bisa akan terjadi suatu “konflik”, maka dapat mempengaruhi hubungan anggota jemaat dengan  MS   dan Tuhan. Untuk itu dibutuhkan seorang PEMIMPIN yang bijak  dan berani  dalam mengelola konflik, sehingga konflik yang kita alami dapat berakhir dengan baik dan tidak meninggalkan dampak negatif.

a.       Pemimpin yang tidak mampu mengelola konflik dengan bijak adalah:

b.      Pemimpin yang “diperbudak” oleh orang-orang disekitarnya (Baca: pemimpin boneka)

c.       Pemimpin yang menggunakan “kacamata kuda”

d.      Pemimpin dalam berkomunikasi  cenderung  mengiklankan dirinya sebagai pemimpin yang tidak          ber kharisma. Dan tidak banyak memberi manfaat bagi pertumbuhan gereja.

e.      Pemimpin yang tidak mampu menata komunikasi persuasive.

f.        Pemimpin yang mementingkan diri sendiri (arogan)

g.       Pemimpin yang tidak mampu mengukur dirinya sendiri

h.      Pemimpimpin yang punya rekam jejak yang “bermasalah”

i.        Pemimpin yang mengabaikan kelemahan karakternya

 Gereja/jemaat   tidak ingin  memiliki pemimpin yang merupakan bagian dari masalah. “Apakah menyangkut karakter yang peragu, mencla-mencle (tak dapat dipercaya, red), apalagi tersangkut masalah keuangan .”

pemimpin yang tersangkut dengan masalah adalah sudah pasti pemimpin yang “tidak sehat”. Pemimpin seperti ini tentunya hanya akan merepotkan jemaat/gereja karena selalu minta untuk dilayani, bukan melayani. Akibatnya, urusan gereja/jemaat  sudah tentu pula lebih banyak yang terabaikan.

“Menurut penulis banyak orang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak mengukur dirinya, bahwa dirinya bermasalah. Karena bagaimana mau menyelesaikan masalah anggotanya, jika dirinya sendiri bermasalah. Jadi dirinya dulu yang harus diselesaikan.”

Pemimpin (gereja)  Bermasalah

Menurut Analisis Saya:

Kalau pemimpin mulai menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan terhadapnya, biasanya ia memperlihatkan salah satu atau lebih dari kekurangannya, yang menunjukkan bahwa mereka akan mendapatkan masalah.

1. kurang terbentuk karakter building

2. Mengandalkan “diam itu emas”  untuk melindungi diri/menutup kelemahannya

3. Bertindak menurut kata hati

4. Menyalahgunakan karunia-karunia yang diberikan Allah

Dan masih banyak lagi tanda-tanda pemimpin yang bermasalah lainnya.

Pemimpin tidak mungkin lolos dari siapa mereka sesungguhnya, dan apa yang mereka perbuat dalam “kegelapan”, akan ketahuan. Kalau yang diperbuat itu baik, karakternya maupun kepercayaan orang terhadapnya akan meningkat. Kalau buruk, segalanya yang diperbuat menjadi tidak berarti sedemikian rupa sehingga tiada lagi landasan berpijak baginya.

Dalam kehidupan ini kerap terdengar bagaimana individu, keluarga,  bahkan gereja mengalami kerusakan dan kehancuran karena berbagai masalah dan konflik. Orang-orang yang tadinya saling mengasihi, membantu dan mendukung satu sama lain kini menjadi musuh, saling membenci bahkan tidak jarang berakhir di pengadilan. Dari pengamatan, diketahui bahwa sebagian besar konflik terjadi karena orang-orang gagal menangani konflik yang terjadi. Kegagalan itu mengakibatkan hidup banyak orang menjadi tidak nyaman dan kehilangan damai.

 Konflik menjadi bagian yang memberi warna tersendiri dalam kehidupan setiap orang . Sesungguhnya konflik dapat memberi efek positif yakni, jika konflik tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Pengaruhnya baik, selain memberi pengalaman dalam mengatasi berbagai konflik yang ada, dapat juga meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi situasi bermasalah.

Oleh sebab itu, penanganan terhadap konflik merupakan sesuatu yang harus menjadi prioritas seorang Pemimpin . Itu sebabnya, konflik perlu dipahami, dipelajari dan dicarikan solusinya.

Pemimpin yang memilik  kematangan emosi akan membuat suatu pribadi menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi masalah maupun konflik yang terjadi. Kematangan emosi dipengaruhi oleh berbagai macam hal, diantaranya pendidikan, pengalaman hidup yang terjadi dalam diri seorang pemimpin. Semakin banyak pengalaman yang dilalui dan dirasakan seorang pemimpin  akan turut membentuk kepribadian sang pemimpin.

“Menghadapi konflik besar namun tidak gelisah, itulah keberanian seorang pemimpin yang bijaksana ,yang mampu mengolah konflik dengan bijak”

“Kebaikan dalam kata-kata menciptakan keyakinan, kebaikan dalam berpikir menciptakan kebesaran hati, kebaikan dalam tindakan menciptakan kasih…itulah mereka yang sanggup mengolah konflik dengan bijak”

“Keramah-tamahan dalam perkataan menciptakan keyakinan, keramahtamahan dalam pemikiran menciptakan kedamaian, keramahtamahan dalam memberi menciptakan kasih. Itulah mereka yang dapat mengolah konflik dengan bijak”

“Dengan kasih  mengelola konflik  adalah  bijak”

“Bagaimana sungai dan lautan dapat menjadi tempat berkumpulnya air?

Karena mereka berada ditempat yang rendah.”

Menurut Analisis Saya :

 bila ingin menjadi seorang pemimpin diantara orang banyak,

Seseorang harus berbicara merendah.

Bila ingin menjadi terkenal diantara orang banyak,

Maka seseorang harus berjalan dibelakang banyak orang”

“PEMIMPIN yang hebat mampu mengendalikan orang lain, tetapi lebih hebat lagi kalau dia mampu mengendalikan dirinya sendiri”

By : Martha Belawati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s