Mencari natal yg hilang


Mencari Natal yang Hilang adalah judul sebuah buku kecil karya Eka Darmaputera. Melalui buki itu . Eka mengajak pembacanya untuk merenungkan makna terdalam dari Natal.

Perenungan ini bertujuan untuk mencari Natal yang hilang di tengah kemajuan dan tradisi zaman ini. Natal tersembunyi di balik tradisi yang seolah-olah Natal, namun justru mengaburkan hakekat Natal itu sendiri.

Dalam tradisi masyarakat yang konsumtif, Natal identik dengan belanja, hadiah, Santa Claus dan berbagai pernak pernik. Boleh jadi pengalaman masa kecil bahwa Natal adalah ketika mendapat pakaian baru telah membentuk pola pikir konsumtif dalam tingkatan yang sederhana.

Gejala semacam ini dengan tegas dijelaskan oleh Andar Ismail dalam bukunya Selamat Natal, bahwa yang paling menjadi sumber bisnis dan rejeki dalam berbagai bentuk dan metode. Dengan gaya bahasa yang menggelitik, Andar mengajak kita merenung, seandainya Yesus datang ke perayaan Natal zaman sekarang, mungkin dengan terheran- heran ia berpikir, “Apa hubungannya barang-barang ini dengan kelahiran-Ku?

Jika demikian, apakah Natal itu sesungguhnya?

Natal adalah peristiwa ketika Allah mendunia: Allah memanusiakan diri-Nya karena tidak ada kemungkinan bagi manusia untuk datang kepada Allah yang Maha Kudus dan Maha Kuasa itu. Manusia dapat berjumpa dengan Allah hanya jika Allah yang mendatangi manusia [bnd. Filipi 2:5-10]. Perjumpaan itu sepenuhnya prakarsa dan tindakan illahi.

Natal adalah ketika Allah mempertaruhkan segala sesuatu termasuk diri-Nya sendiri untuk mendatangkan kesukaan bagi dunia. Itulah Natal.

Natal adalah tanda solidaritas atau keberpihakan Allah kepada manusia. Walaupun manusia telah memberontak terhadap Allah, namun karena Allah begitu mengasihi manusia, maka Ia datang untuk menyelamatkan manusia.

Hal ini senada dengan Rasul Yohanes ketika ia menulis, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” [Yohanes 3:16]. Itulah Natal.

Natal adalah ketika kita, yang telah mengalami solidaritas Allah, mau solider dengan sesama yang sungguh-sungguh membutuhkan kita. Solidaritas ini bukanlah aksi musiman menjelang Natal di bulan Desember, namun menjadi gaya hidup sepanjang masa. Semua dilakukan dalam pemahaman luhur bahwa apapun yang d ilakukan kepada sesama nilainya seperti yang dilakukan untuk Tuhan [Kolese 3:23]

Bagaimana hal itu terjadi? Penulis Injil Matius menulis, “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku …

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudra-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku [Matius 25:35-40].

Natal membuktikan bahwa Allah ‘tersedia’ (available) bagi manusia. Itu berarti, Natal senantiasa mengingatkan kita untuk tersedia bagi Tuhan melalui sesama. Itulah Natal.

Natal adalah waktu untuk merenung. Perenungan tentang Tuhan, sesama ciptaan dan diri sendiri. Jika para gembala di padang Efrata kembali sambil memuliakan Allah, maka Natal menjadi sebuah waktu introspeksi untuk melihat ke dalam diri dan secara jujur menilai sampai sejauh mana hidup kita telah memuliakan-Nya? Itulah Natal. Ia tidak berakhir di permukaan, tetapi menerobos sampai ke kedalaman makna. Ia tidak terjebak dalam kemeriahan tradisi konsumerisme, tetapi menyebar dalam tindakan kasih yang tepat.

Ia tidak berhenti pada sebuah perayaan, tetapi terus bergerak dalam denyut nadi iman yang hidup dalam perbuatan. Maka Natal itu terjadi setiap hari sepanjang hidup dan sesungguhnya ia terletak dalam bahagimana cara kita memperlakukan orang satu terhadap yang lain.

Semoga tidak ada lagi orang yang kehilangan Natalnya…

Semoga!

Selamat Natal

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s