Minggu 12/01/14 “siap disenti(lan)-senti(lun)”===Lukas 4:16-20


Lukas 4:16-20

Nubuat dari nabi Yesaya itulah yang dibaca Yesus ketika Ia mengawali karya misi-Nya di Galilea, tepatrnya di rumah ibadat di Nazaret, tempat Ia dibesarkan. Yang menarik ialah bahwa setelah membacakan nas dari kitab Yesaya itu, Yesus menyampaikan bahwa “pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Dengan mengatakan itu, Yesus mau menunjuk pada diri-Nya. Nubuat nabi Yesaya itu terpenuhi “pada hari ini” yaitu pada saat Yesus mengawali karya misi-Nya dan diperuntukkan bagi orang-orang yang sungguh mau mendengarkan kabar baik yang dibawa-Nya.

Nubuat Yesaya itulah yang menjadi misi Yesus datang ke tengah manusia. Nas itu diawali dengan penegasan “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku…”

Yesus datang membawa misi religiusNya, yaitu misi Allah. Tujuannya, menghadirkan suasana “Kerajaan Allah” di dunia. Wujudnya, damai sejahtera yang bercirikan kebenaran dan keadilan menjadi suatu kenyataan dalam hidup sehari-hari. Tetapi Dia ditolak.

Banyak di antara manusia yang tidak ingin suatu kebenaran itu dikatakan benar dan yang jujur itu benar jujur, adil dikatakan adil. Sebaliknya, banyak orang merasa lebih aman jika yang benar itu dibuat salah-yang salah itu dibenarkan dan yang tidak adil itu menjadi kebanggaan, sebaliknya yang adil itu menjadi korban, yang jujur disingkirkan. Manusia zaman sekarang telah tertutup mata dan hati mereka untuk menghidupi kebenaran, keadilan dan kejujuran. Sebaliknya mereka memilih lebih baik diam dan tidak mencampuri urusan seperti itu, bahkan sebagian merasa aman karena menikmati ketidakadilan dan kebohongan yang terjadi dalam masyarakat kita.

Tuhan kita Yesus Kristus mengalami hal seperti di atas jauh sebelumnya. Bahkan di kota tempat tinggalnya sendiri, Ia pun ditolak dan bahkan lebih tragis lagi mereka ingin membunuh-Nya. Hanya untuk menegakkan sebuah nilai keadilan, kejujuran dan kebenaran semasa hidup-Nya, maka Ia telah menjadi musuh utama masyarakat dan bangsa-Nya sendiri. Tentunya, bukan hanya dalam penegakan nilai-nilai kemanusiaan itu, Yesus ditantang dan dikritik tetapi lebih dari itu karena Ia memproklamirkan DiriNya sebagai Mesias yang dijanjikan oleh Allah kepada bangsa Israel dan umat manusia.

Kita pun hidup di sebuah negara, sebuah masrayakat, komunitas bahkan lingkungan terkecil dalam masyarakat yang sepertinya sulit bagi kita untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Sebaliknya kita dikondisikan untuk ikut mengiyakan yang salah itu benar dan yang benar itu salah. Banyak orang telah menjadi korban untuk perjuangan  menegakkan kebenaran, keadilan dan kejujuran di tengah masyarakat dan bangsa kita. Akibatnya, kadang secara sadar atau tidak sadar, demi rasa aman atau masa bodoh, kita pun terjerat dalam sikap diam yang berkepanjangan.

Virus ini rupanya terjangkit di dalam gereja,  SULIT & TAKUT  bersuara tentang kebenaran,kejujuran dan keadilan.  Gereja/Pelayan sengaja mengkondisikan diri dan mengangguk , SEOLAH mengiyakan yang salah menjadi benar…YANG PENTING AMAN. Misalnya masalah yang akhir-akhir ini “maknyos” dibicarakan di dunia maya seperti acara SENTILAN SENTILUN…Para pemimpin yang tidak siap disentil cenderung mencari aman…”diam itu emas”

Bahkan di gereja dan keluarga pun kadang kita berlaku seperti orang-orang Nazareth yang menutup mata dan telinga untuk melihat dan mendengar serta ikut memperjuangkan keadilan, kebenaran dan kejujuran di dalam hidup kita, dan di lain pihak, bila kita berani sekali untuk menjadi pembawa kebenaran, keadilan dan kekudusan, maka bersiaplah untuk menjadi musuh bersama dan bahkan bisa saja terjadi bahwa Anda akan menjadi korban dari semua perjuanganmu.

Menikmati keadilan itu indah, menemukan kebenaran itu membahagiakan dan hidup di lingkungan di mana orang-orangnya jujur selalu menjadi pengalaman yang mengagumkan, namun sayangnya, banyak orang hanya ingin menikmatinya daripada ikut memperjuangkannya. Bagaikan mau mencapai sebuah puncak, sebagian besar orang lebih memilih mengendarai kendaraan daripada berjalan kaki, walaupun aturannya adalah mendaki dengan kaki sendiri.

kualitas hidup diukur dari apa yang kita bisa buat untuk orang di sekitar kita selama hidup terberi kepada mereka. Apa pun yang terjadi, kita harus berani bahwa berkorban demi kebenaran, keadilan dan kejujuran adalah inti dan hakekat panggilan sebagai orang Kristen.

“Siapa saja mampu menjadi pengasih tapi ketika hal itu  menuntut korban, maka pasti kita  berpikir ulang dulu sebelum mengambil keputusan. Banyak orang ingin menikmati sesuatu yang membawa kebahagiaan dan kesenabgan tapi mereka tidak mau terlibat dalam perjuangannya.”

images (55)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s