Minggu, 26/01/14=>Aplikasi Mazmur 119: 1-8


Mazmur 119:1-8

Dalam kesibukan manusia yang seperti setrikaan , apa yang kita cari sebenarnya tidak ada bedanya. Semuanya mencari sebuah arti hidup. Di balik apa yang kita lakukan , kita  upayakan , apa yang kita dambakan sebenarnya adalah KEBAHAGIAAN.

Ada  yang memperoleh kebahagiaan yang mereka cari , ada orang pernah mendapatkan  kebahagiaan, tapi akhirnya kebahagiaan itu lenyap dari dirinya, Ada orang sampai mati tak bertemu bahagia,  ada manusia yang melakukan bunuh diri  karena tidak memperoleh kebahagiaan…

Benarkah, Kebahagian memiliki definisi yang berbeda-beda  di lingkungan manusia ?

 Ada yang menganggap bahagia itu apabila banyaknya harta,  ada yang menganggap bahagia itu apabila berada di puncak kekuasaan, dsb.

Kita harus tau, jika ingin  mencari bahagia, kita sama sekali takkan menemukannya  selagi kita tidak memahami  kebahagiaan itu dengan benar.

Bahagia, adalah suatu anugerah Allah. Sehebat dan sekaya apapun manusia, mereka bukan pemilik kebahagiaan.

 “Kebahagiaan sejati hanya diberi  kepada orang yang DIA pilih”

KUNCI KEBAHAGIAAN dapat diperoleh jika  ada ketaatan kepada Allah.

KEBAHAGIAAN  ITU LETAKNYA DI HATI

Mana mungkin kita  memperoleh kebahagiaan, sedangkan hatimu kotor penuh dosa, sedangkan jiwa kita  mengingkar dan jauh daripada-Nya. TIDAK ADA kebahagiaan buat mereka yang mengingkari Allah.

Dosa adalah virus.

Ia menggrogoti kebaikan dalam jiwa manusia yang akhirnya  menjadi  gelap dan kabur, semuanya kerana dosa. Dosa mencemarkan firasat hati manusia yang tulus, menjadikannya kelam dan hitam.

Carilah kebahagiaan dengan menjadi pelaku firman-Nya. Carilah kebahagiaan, selagi nyawa masih ada di kandung-badan.

Jika kita mencari kebahagiaan  dari  Tuhan, hidup kita  di dunia akan lebih bermakna, kerana visi misinya-Nya tidak terhenti sesaat .

Bila seseorang sudah menganggap dan memahami hidup itu diatur oleh-Nya, maka seseorang akan menerima dengan iklas bahagia, sengsara, kaya ataupun miskin, atau juga warna-warni kehidupan.  “tidak ada sesuatupun di atas bumi dan di kolong langit yang pantas untuk dikehendaki dan dicari, atau sebaliknya ditolak secara berlebihan”. Artinya dalam kehidupan ini sifat “narima ing pandum” menerima bahagian hidup kita dengan iklas.

Hidup itu mesti tak dijalani dengan puja uang, puja kekuasaan dan puja kemahsyuran. semua itu berarti belum menemukan “aku” yang sejati . Hidup itu mesti dijalani dengan enam “sa”. sebutuhnya, seperlunya, secukupnya,  sebenarnya, semestinya dan sepantasnya. Dengan menjalani kehidupan yang enam “sa” tadi, diharapkan manusia itu tidak berlebihan, dan senantiasa menyikapi bagian dari hidup ini dengan sewajarnya dan waspada. terkadang harus diterima dengan dada yang lapang, kadang kita cukup, kadang kita mengalami kekurangan.

Bila orang sudah memiliki “rasa” aku mengawasi keinginan, aku senang, aku bahagia. Maka dalam mengawasi keinginannya sendiri dan perjalanan hidupnya sendiri ia merasa itu bukan aku. Begitu juga dengan menanggapi dunia seisinya dan semua kejadian-kejadian orang pun akan merasa “itu bukan-aku”.

“ Aku bukan aku” yang artinya bahwa kehidupan kita tak lain adalah bagian dari kehidupan orang lain. Adanya rasa kasih sayang dan tidak mementingkan diri sendiri , itulah kebahagiaan sejati.

Dan aku adalah  salah seorang pencari kebahagiaan…AKU BUKAN AKU

DSC08588

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s