Mggu 2/2/14=> 1Kor 8:1-13 OnLy OnE (1#2)


 

1 Korintus 8:1-13

“Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Karena itu aku berkata kepadamu : Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir akan pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian.

Jemaat pada abad pertama, khususnya jemaat di Korintus, juga menghadapi permasalahan yang sama. Kebanyakan orang percaya di Korintus berlatar belakang penyembahan berhala. Masih banyak sanak keluarga dan teman-teman mereka yang belum percaya kepada Tuhan Yesus dan masih mengadakan penyembahan kepada berhala. Di samping itu, daging yang diperjual-belikan di pasar-pasar di kota Korintus (dan kota-kota lain yang penduduknya menyembah berhala) kebanyakan berasal dari binatang korban persembahan di kuil-kuil berhala.   Sebab dagingnya bagus tetapi harganya lebih murah.

Ada juga  tradisi turun-temurun, pada tanggal 1 dan 15menurut Kalender Tionghwa (Che It dan Cap Go ), makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala  dimakan oleh mereka yang menganut tradisi tersebut .

Dalam kondisi seperti itu,   Apakah orang Kristen boleh menerima undangan makan dari sanak keluarga yang menganut tradisi tersebut ?   Nggak mungkinkah kita mengadakan pemeriksaan atas makanan yang dihidangkan?

Dalam kehidupan rumah tanggapun  makanan dapat menjadi  biang keladi pertikaian yang sengit, apalagi jika suami/istri berbeda suku dan budaya, kita dituntut untuk saling mengerti.  Dalam masyarakat kebudayaan tidak sedikit mereka sangat menghargai makanan sebagai tanda menghargai suku dan budaya mereka. Di tempat lain, makanan tertentu yang dimakan orang lain dapat menimbulkan prasangka negatif bahkan dikait-kaitkan dengan dosa/haram.

Paulus mungkin dibuat pusing tujuh keliling menghadapi persoalan yang sama di jemaat Korintus. Bagaimana Paulus harus menjelaskan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala, apakah dapat dimakan ?  Ada jemaat yang berpendapat  makan daging persembahan berhala berarti menyembah berhala. Namun, jemaat lain memiliki ‘pengetahuan’ bahwa berhala itu mati. Jadi, tidak ada masalah memakan makanan tersebut. Di sisi lain lingkungan yang penuh penyembahan berhala menyebabkan situasi yang sulit bagi rasul Paulus.

Tetapi dengan tegas Paulus menasihati jemaat Korintus untuk menjauhi penyembahan berhala .  Mereka  seharusnya dapat belajar dari nenek moyang Israel yang mendua hati dengan menyembah Allah sekaligus berhala, yang mengakibatkan Allah murka dan menghukum mereka .

Saya berpikir, jawaban Paulus bersifat dialektis. Jikalau makanan tersebut benar-benar sebagai alat untuk penyembahan berhala, maka Paulus melarang keras untuk menikmatinya karena sama saja dengan mengakui keberadaan roh jahat di balik berhala . Akan tetapi, jikalau makanan tersebut tidak berkaitan dengan penyembahan berhala maka dapat dimakan untuk kebutuhan jasmani …Atau; ” 8:9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan  bagi mereka yang lemah.   8:10 Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai “pengetahuan”, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala?  —-  Boleh makan segala makanan dengan pemahaman iman yang benar kepada Allah dan pengucapan syukur. Semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh Firman Allah dan oleh doa. Tetapi jika di dalam hatinya masih ada keraguan atas makanan itu, maka sebaiknya ia tidak makan agar hati nuraninya tidak dinodai.

Jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah itu dengan terlebih dahulu mempertimbangkan:

 Apakah itu berguna?  (1 Kor. 10:23a);

 Apakah itu membangun? (1 Kor. 10:23b);

 Apakah dengan itu engkau hanya memperhatikan kepentingan sendiri, atau memperhatikan kepentingan orang lain juga? (1 Kor. 10:24);

 Apakah itu memuliakan Allah?  (1 Kor. 10:31).

Pertama, kita  sebgai makhluk sosial, yang hidup berdampingan dengan orang-orang di sekitar kita harus mawas diri dan menghargai  mereka agar  tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain ;

 Kedua, Hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian. Menjadi saluran berkat bagi orang lain jauh lebih mulia.

Ketiga, semuanya dipergunakan hanya untuk kemuliaan Tuhan.

Prinsip Paulus pada  pasal 8, yaitu ujung dari semua perbuatan kita haruslah demi kemuliaan Tuhan dan demi kebaikan orang lain.

Firman Tuhan menjadi sumber pengetahuan untuk menimbang benar dan salah. Gunakan pengetahuan itu untuk membangun iman sesama. Itu bukti kita mengasihi mereka. Kesombongan menjadikan kita batu sandungan bagi orang lain. Mintalah hikmat Tuhan agar dapat menggunakan pengetahuan kita dengan benar.

Iklan

Satu pemikiran pada “Mggu 2/2/14=> 1Kor 8:1-13 OnLy OnE (1#2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s