GITU AJA KOK REPOT (Menakar Konflik Pejambon dan Solusinya)


Dalam kehidupan sering terjadi dalam kehidupan sosial terjadi konflik, bahkan dalam institusi gereja (Kasus Pejambon) — Orang-orang yang tadinya saling mengasihi satu sama lain kini menjadi musuh, saling membenci bahkan tidak jarang berakhir di pengadilan.  Mengapa ini bisa terjadi ? karena kita gagal menangani konflik yang terjadi. Kegagalan itu mengakibatkan hidup  kita kehilangan arah dan damai. konflik  terjadi karena EGO yang pada akhirnya  menimbulkan friksi antara dua pihak atau lebih.

GPIB  sebagai institusi bisa dikatakan gagal dalam menangani permasahan yang ada kususnya masalah Pejambon yang semakin berlarut-larut dan mengakibatkan hilangnya rasa damai dan rasa saling mengasihi.  Ini semua karena EGO.

Apakah ini harus terjadi ? Apakah ini sebuah warna dalam kehidupan bergerja yang dampaknya akan member I gesekan positif ?  Tentu akan positif jika konflik yang terjadi  dikelola dengan baik. Jika konflik dikelola dengan baik akan memberikan pembelajaran jika suatu saat menghadapi konflik yang mungkin lebih berat. Akan tetapi, di sisi lain, ia dapat memberi efek negatif apabila tidak diselesaikan dengan baik. Sebab akan menghasilkan terganggunya hubungan dengan sesama, menimbulkan kebencian dan sikap permusuhan…Apakah ini yang terjadi saat ini ?

Oleh karena itu, penanganan terhadap konflik merupakan skala prioritas. Itu sebabnya, konflik perlu dipahami, dipelajari dan dicarikan solusinya.

Penyebab Konflik

1.        Pergeseran menuju pemberdayaan (Struktur Organisasi)

2.       Tidak adanya transparansi

Setiap organisasi saat ini selalu berusaha mengadakan pembenahan ke arah yang lebih baik.

3.        Psikologis manusia

Ketidakmatangan emosi sang leader dan para stakeholder akan menimbulkan berbagai macam konflik . Sikap dan perilaku tidak dewasa, kurang berpikir panjang, emosional, kekanak-kanakan (childish), merupakan sebab-sebab yang kerap memicu konflik .

Sebaliknya kematangan emosi akan membuat suatu pribadi menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi masalah maupun konflik yang terjadi.  Itu sebabnya, latar belakang seseorang/sang pemimpin akan sangat menentukan bagaimana ia bersikap, menilai sesuatu dan bertingkah laku.

4.       Komunikasi

Seperti salah pengertian berkenaan dengan bahasa atau kalimat yang digunakan, bahasa yang sulit dimengerti, informasi yang tidak lengkap maupun gaya pimpinan yang tidak konsisten.

5.       Hubungan

Meliputi ketidaksesuaian antara tujuan-tujuan organisasi serta adanya perbedaan persepsi.

Langkah-Langkah Keliru Dalam Penyelesaian Konflik yang terjadi

·         Menekan

·         Ego

·         Merasa berkuasa

·         Bertele-tele

Solusi

·         Harus berdamai

·         Harus melakukan mediasi

·         Harus berinisiatif

·         Agar tidak terjadi konflik berkepanjangan , masing-masing pihak harus mengendalikan diri.

·         Libatkan diri pada semua pihak sebagai pimpinan yang netral (bila dlm kapasitas sbg leader).

·         Bersikap bijaksana…Jika salah mengaku salah

·         Jadilah pendengar yang baik.

·         Cari solusi dan jalan keluar  menuju  win-win solution.

Terlepas dari semua itu libatkan dan andalkan Tuhan sebagai kepala Gereja

GITU AJA KOK REPOT

 

MBT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s