Kontemplasi:Kata “Setajam Silet”


Setiap Pemimpin pasti  ingin pendapatnya dihargai bawahannya, itu adalah hal yang wajar. Tetapi ketika seorang bawahan  mengkritik/ berbeda pendapat dengan pemimpinnya, lalu sang pemimpin sakit hati, marah dan merasa tidak dihargai. Hal itu menunjukkan sang pemimpin dalam posisi mental yang belum siap dikritik. “Pakaian seorang pemimpin adalah kritikan”

Jika terjadi perbedaan pendapat dengan bawahan , maka sebaiknya sang pemimpin berusaha meyakinkan dengan argumentasi yang masuk akal. Kalau bisa disertai contoh, bukti atau referensi.

Pemimpin yang belum siap dikritik pasti akan mengalami dirinya tidak dihormati dan merasa ditelanjangi. Mungkin seminggu atau lebih mata sulit terpejam. Pemimpin tersebut merasa disepelekan ,dianggap goblok dan sangat tersinggung. Seorang pemimpin harusnya berpikir logis dan memahami bahwa tidak mungkin semua orang punya pendapat yang sama. Karena setiap orang memiliki pandangan yang bisa saja berbeda. Yang dikritik memiliki pandangan yang berbeda , demikian juga mereka yang mengkritik.

Kalau dikritik, maka sang pemimpin justru harus memperkuat argumentasinya. Kalau seorang pemimpin tidak mau menerima kritik Copernicus (heliosentris), maka dia akan terpasung pada pendapatnya Galileo-Galilei (Geosentris) yang ternyata salah itu

Pasti ada tanggapan yang positi/negatif diantara yang mengritik dan yang dikritik. Tetapi ada sesuatu yang berbeda; pengritik tidak dapat hadiah atau penghargaan apapun, malah mungkin dimusuhi dan tidak disenangi…tetapi bagi yang dikritik, jika ia mau menerima dengan lapang dada dan mau belajar melihat kelemahan-kelemahannya pasti ia akan bertumbuh dan akan menjadi lebih bijaksana. Sedangkan bagi si pengkritik sendiri, ia tidak justru berbangga atau memegahkan diri tapi juga terus mengintrospeksi diri sendiri agar apa yang dikritiknya tidak ia lakukan. Justru dalam hal inilah akan terjadi sinergi, yaitu membangun kesadaran akan tugas tanggung jawab masing-masing sesuai dengan bagiannya, agar apa yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik dan benar.

Cercaan dan umpatan pasti juga diterima oleh si pengkritik dari orang lain, dengan pemahaman bahwa si pengkritik juga pasti punya kelemahan dan kekurangan. Memang benar bahwa tidak ada seorang manusiapun yang tidak memiliki kekurangan dan kelemahan. Tapi ketika si pengkritik berani bersikap tentang sesuatu yang hal yang perlu dikritiknya, tentu harus yakin sepenuhnya bahwa untuk hal yang diktitisinya ia memiliki kekuatan  yang lebih. Sebab itu seorang pengkritik harus memahami persoalan, pendapatnya didukung fakta, ada alasan yang kuat, obyektif dan memiliki tujuan yang murni untuk membangun bukan untuk menjatuhkan.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s