Refleksi: Jangan Takut (Rabu 4 juni 2014)


Apa sih yang paling akrab dalam kehidupan kita di masa kini? Sesungguhnya, ungkapan yang paling akrab dan reliabel dalam kehidupan kita sehari-hari adalah “ketakutan”.

Benar, setiap orang tanpa kecuali pasti pernah mengalami ketakutan. Entah takut menghadapi sakit dan kematian, takut menghadapi ulangan, takut cintanya ditolak, takut kelaparan, takut tidak bahagia, takut tidak diterima, takut terhadak ke anarkisan dan bejibun ketakutan-ketakutan yang lain.

Saat-saat ini banyak orang kristen hidup dalam ketakutan yang sangat mendalam, sehingga kita “dibutakan” untuk mampu melihat kehidupan secara wajar. Itu sebabnya kita telah kehilangan kemampuan untuk memandang dan berkomunikasi dengan sesama secara wajar. Kita kini tanpa sadar memandang sesama dengan sikap curiga dan takut, khususnya dengan sesama yang tidak seiman, tidak sepaham, tidak satu etnis, kita dipertontonkan tindakan anarkis (kekerasan) orang-orang yang mengatas namakan agama, seperti yang baru terjadi sleman-Yogyakarta. Bayang-bayang ketakutan menjadi realitas hidup.

Dalam kisah tentang “mite gua”, Plato menuturkan bahwa umat manusia digambarkan seperti orang-orang tawanan yang berderet-deret dibelenggu (tawanan) di dalam gua. Di tengah-tengah gua tersebut terdapat api unggun yang terus menyala. Itu sebabnya mereka senantiasa melihat bayangan diri mereka dan orang-orang yang bergerak di dalam gua tersebut. Karena mereka telah terbiasa melihat bayangan di dinding gua, maka mereka menganggap bayangan tersebut sebagai suatu kenyataan hidup. Pada suatu waktu ada seseorang yang berani melepaskan belenggu tersebut dan berhasil keluar dari gua dan melihat kehidupan yang lebih luas tan batas, indah dan nyata. Ia kembali ke gua tersebut dan menceritakan apa yang baru dilihatnya di luar gua dan mengajak rekan-rekannya ke luar dari dari gua untuk melihat realitas. (sumber:om google)

Dengan kisah dari Plato tersebut, kita harus merenung ulang, apakah hidup kita telah terbiasa dan menyatu dengan bayang-bayang ketakutan yang selama ini telah membayangi hidup kita?

Yen Wani aja Wedi-Wedi, Yen Wedi aja Wani-Wani

Bima
Sebuah filsafat Jawa yang penuh sarat dan makna untuk mengarungi kehidupan di alam fana ini, Yen Wani aja wedi-wedi, yen wedi aja wani-wani dalam terjemahan bahasa Indonesia sebagai berikut; Kalau berani jangan takut, Kalau takut jangan sekali-kali berani. Filsafat ini merupakan pelajaran hidup untuk kita bagaimana kita melangkah dalam memilih jalan hidup kita.
Filsafat ini mengajarkan kita untuk tidak ragu-ragu dalam memilih jalan kehidupan kita, keragu-raguan akan membuat diri kita gagal dalam kehidupan ini. Banyak contoh yang bisa kita dapat dalam menerapkan filsafat jawa yang satu ini. Dalam segala bidang kita memerlukan fisafat ini untuk selalu kita pegang teguh, dengan harapan apa yang akan kita ambil benar-benar mempunyai tekad yang bulat.
Keragu-raguan atau kebimbangan sering kali membuat kita terombang-ambing untuk mengambil keputusan. Tdak ada salahnya kalau kita bisa mengejawantahkan filsafat ini untuk selalu mendampingi setiap langkah yang kita tempuh dalam kehidupan ini.
Semoga sedikit gambaran ini bisa membuat diri kita semakin mantap dalam mengambil langkah / keputusan dalam menjalani kehidupan ini.
Post Tagged with Filsafat, Hidup, Jawa

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s