KRITIK = Semakin dikritik semakin menggelitik



Dalam hidup ini kita memang tidak akan pernah bisa melepas diri dari yang namanya kritikan. Setiap orang dari berbagai macam profesi—anak, suami ,istri, mahasiswa, pembantu, supir taksi, karyawan kantoran, tukang bakmi ayam bahkan seorang pemimpin—pasti pernah dikritik. Begitu pula dengan penulis. So, enjoy aja, begitu kata iklan rokok yang sering kita lihat di televisi.

Berang, geram ,muak, dongkol , yang berujung sakit hati dan dendan terhadap para pengkritiknya… Hal tersebut adalah sesuatu yang alamiah, lumrah dan proporsional.

Kritik adalah Apresiasi, catatan, celaan, iktirad, kecaman, komentar, penilaian, pertimbangan, sanggahan, siasat, sura miring terhadap hasil atau pandangan suatu perbuatan atau karya seseorang. Kritikan berarti salah satu sikap seseorang yang tidak setuju dengan suatu hal yang dianggap melenceng dari aturan atau keluar dari batas kebijakan suatu masalah

Kritikan ada 2 macam yaitu :

1. Kritik Membangun : Yaitu kritik yang memberi masukan, tips, mendukung upaya perbaikan dengan tujuan baik yaitu agar orang tersebut bisa memperbaiki kesalahan atau kelemahannya tanpa menyudutkan atau menekan mereka.

2. Kritik berbau Iri : Yaitu kritik yang menjatuhkan karena tidak suka akan keberhasilan orang lain dan tidak menilai secara obyektif terhadap orang yang di kritiknya

Dan yang sering menerima atau menuai banyak kritikan adalah pemimpin. Kenapa? Karena pakaian pemimpin adalah kritikan. Pemimpin, ada padanya harapan, tumpuan mereka yang dipimpinnya, Bagi seorang pemimpin adalah merupakan suatu keharusan menentramkan anggota yang dipimpinnya itu. Ini merupakan konsekuensi sensibel/ membumi bagi pemimpin. Jika tidak siap memenuhi kewajiban sebagai pemimpin, tak siap dikrtitik maka mundur atau tingalkan singgasana kepemimpinanya. Demikian terminologi yang fair.
Kritik muncul dari adanya disimilaritas, distingsi, divergensi, kesenjangandan ketimpangan antara harapan yang diinginkan dan kenyataan yang didapat. Kritik bisa dikonversikan/transfigurasikan dalam beragam varian bentuk. Melalui sebuah tulisan, yang keren di era orde baru kita kenal Widji Tukul, seorang kritikus keras yang menyampaikan kritiknya dalam bentuk puisi, kritik yang sarkas untuk pemerintah ia dedikasikan dalam sebuah karya sastra yang harum hingga kini.

Tak heran para pemimpin begitu membenci para pengkritik. Mungkin krtikan adalah sesuatu step yang destruktif, ‘omdo’, omong doang, nihil aksi dan hasil. Tapi jangan pernah lupa bahwa kritik jua merupakan sebuah aksi.
Sebuah sejarah, Bagaimana pemimpin diktator negeri ini jatuh, itu pun tak lepas dari kritik. Semakin keras push dan diktatorianisme yang diberikan oleh pemimpin maka semakin keras dan panas pulalah kritik yang akan muncul.
Ada pula mereka yang mengambil jalan memutar. Memilih untuk tidak melepaskan diri dari comfort zone-nya. Memilih untuk menjauh dari kritikus yang siap menusukkan panah-panah kritik. Maka ia hanya diam pada status quonya. Diam, dan entah tenggelam atau mati dari peradaban .

Bagaimana dengan kita? Semoga kita tidak anti kritik, tidak pula hanya mengritik. Pemimpin yang memasang anti bodi terhadap kritik dengan memberi hukuman pada pengkritiknya justru hanya akan membuahkan kehancuran padanya. Ia tidak pernah akan dewasa oleh tempaan dan tidak pernah komprehensif dengan pemikiran untuk berbenah.
index

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s