Markus 3:20-30 Kendalikan emosimu=> Minggu 22 Juni 2014


Mengapa kita harus marah ?; Mengapa kita harus menangis? ;Mengapa kita harus cemas? Mengapa kita merasakan cinta? ; Mengapa kita malu? ; Mengapa kita bergembira ?… Kejadian-kejadian tersebut dikarenakan faktor emosi. Emosi adalah suatu perasaan untuk mendorong seseorang melakukan respon atau reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri kita (perubahan suasana hati) .

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran dalam diri seseorang . Emosi merupakan salah satu hal yang urgen dalam tingkah laku manusia, karena emosi dapat merupakan respon terhadap stimulus yg ada yang dapat menjadi motivator perilaku dalam arti meningkatkan (positif), tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia (negatif).

Kita makhluk sosial yang “simbiosis mutualisme” …saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Jika kita ingin hidup bersosialisasi dengan baik terhadap sesama, salah satu tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita degan cerdas dan bijak dalam artian ada keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan.

Seseorang yang emosional (marah) pasti tak terkendali, dibutuhkan jalan keluar /suatu usaha keras untuk mampu mengendalikan emosi. Karena emosi seseorang dapat menjelma menjadi pemuasan diri bukan meningkatkan martabat hidupnya jika tidak terkendali dapat berakibat fatal di dalam komunikasi interpersonal.

Kegagalan mengendalikan emosi dapat merugikan orang-orang di sekitar kita di samping diri sendiri. Ada banyak berita di media sosial yang saat ini terjadi , misalnya dalam kampanye PILPRES yang saling menghujat dan saling menjatuhkan (black campaign) dan tindakan anarkis yang merugikan orang-orang di sekitar kita dan merugikan diri sendiri.

Mengapa di dalam Ayt. 29 Yesus katakan; apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

Tuhan Yesus memahami bahwa emosi mereka tak terkendali dan membabi buta bahkan keluarga-Nya mengganggap Yesus tidak waras Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.” Emosi mereka membuat tidak mengenal siapa Yesus yang adalah Anak Allah yang maha tinggi. Yesus yang adalah Allah, justru dituduh telah memakai kuasa dari penghulu setan dalam melakukan berbagai mujizat-Nya.

Yesus menjawab setiap tuduhan-tuduhan mereka yang tidak logis itu dengan suatu perumpamaan dan itu membuat ahli-ahli taurat speechless . Yesus mencounter tuduhan mereka dengan logika yang tidak dapat disanggah mereka dan ada pengendalian emosi yang luar biasa.

Emosi sudah berakar dalam diri manusia dan itu sah-sah saja. Emosi mendorong kita untuk bertindak. Tetapi akan jadi masalah besar jika kita tidak mampu mengendalikannya. Emosi yang tidak terkendali dapat menimbulkan berbagai penyakit bahkan kematian karena ketidakmampuan kita untuk mengendalikannya dan memanfaatkannya secara konstruktif.

Kunci yang paling efektif untuk mengendalikan emosi kita adalah membaca dan merenungkan siang dan malam serta melakukannya:
KASIH
1 Korintus 13:4-8
13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

Kata bijak
Budha pernah mengatakan: Hatred does not cease by hatred, but only by love; this is the eternal rule. (Kebencian tidak berhenti oleh kebencian, tetapi hanya dengan kasih, ini adalah aturan yang kekal).
Tidak ada hukum dunia yang menentang “KASIH”, tetapi banyak sekali orang yang mengaku dirinya “KRISTEN” tetapi tidak memiliki “Kasih”, bahkan menghakimi.

“ Jangan simpan amarah kita sampai matahari terbenam”

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s