Minggu 20 Juli 2014 => 2 Tim 1:3-5 Mengobarkan karunia Allah (HUT GP)


1:3
Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.
1:4
Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.
1:5
Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Timotius adalah salah satu didikan Rasul yang “top markotop”. Ia memiliki kapabilitas, talenta, integritas dan spiritualitas yang luar biasa. Why , sosok Timotius memiliki hati nurani yang murni dan Hal apakah yang membuat Tomotius bisa memiliki karakteristik atau atribut hidup yang baik ? walaupun Rasul paulus turut berperan di dalam membangun spritualitas Timotius tetapi peran yang terbesar adalah nenek dan ibunya yaitu Neneknya Lois dan ibundanya yaitu Eunike.

Ini bukti bahwa peran keluarga sangat mempengaruhi keturunannya. Keluarga adalah pilar-pilar yang kokok jika sejak awal menanamkan kehidupan yang rohani yang baik. Bila keluarga memberi contoh yang tidak baik maka mungkin dan bisa terjadi atau mempengaruhi kehidupan keluarka mereka (suami, istri dan anak) menjadi rusak.

Mengapa dalam kehidupan keluarga kristen yang notabene rajin beribadah tapi kehidupan keluarganya masih ada masalah?
Apakah keluarga kristen masih ingat atau lupa (kesibukan)…peran apa yang mereka harus mainkan agar kehidupan rohani mereka dapat mengobarkan karunia dari Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya yang mulia?

Apakah yang menjadi preferensi atau prerogatif keluarga kristen hari ini terhadap anak-anaknya?
Tidak bisa kita pungkiri pada umumnya keluarga/atau orang tua memberi skala prioritas/gengsi agar anak-anak tidak mempermalukan orang tuanya. Karena itu banyak anak-anak sekarang dimanja dan dipacu (paksa) untuk menjadi pandai dan multi talenta. Mereka diikutkan berbagai kursus-kursus dan bidang-bidang ekstra kulikuler yang orang tua tidak menyadari bahwa mereka memaksa anak mereka agar tidak mempermalukan mereka.

Ada juga orang-tua ingin memberi warisan kepada anak-anaknya rumah, deposito, perusahaan, emas atau apa hanya karena prestise. Tapi saya yakin, sebagai orang tua, kita tidak mau mewariskan hutang…Hahahaha. Jika hal itu terjadi sungguh malang nasib anak-anak itu. Tapi itulah kenyataan yang terjadi di sekitar kita.

1 diantara 1000 kita sebagai orang tua menyuruh anak-anaknya merenungkan Firman Tuhan siang dan malam. Peran sebagai orang tua yang takut akan Tuhan harusnya kita mainkan dalam kehidupan kita sehari-hari.Bertanggung-jawab kepada anak-anak, mendeliveri sesuatu yang berguna bagi masa depan mereka.

Kita sebagai keluarga terlena dengan kehidupan dunia yang semu dan hanya sementara. Sadarkah , Tuhan menginginkan kita sebagai keluarga yang mendeliveri seperti yang diterima oleh Paulus dan Timotius. Yaitu warisan “mengobarkan karunia Allah”. Suatu warisan yang jauh lebih berharga dari harta benda duniawi, yakni “iman percaya pada Tuhan”.
Mengobarkan Karunia Allah adalah sebuah kata kerja (verb) dan juga sebuah aksi (an action). Jadi iman itu harus disharingkan dan dipraktekkan. Ini berarti kita sebagai orang tua harus menjadi contoh.

Salah satu kunci penting keluarga kristen untuk menjadikan keturunannya menjadi “pengobar karunia Allah” , kita harus mengembangkan potensi/karunia dari-Nya dan memaksimalkan yang terbaik dalam diri kita dengan menjejakkan kaki kita di area yang membuat kita untuk bertumbuh dan berkembang menjadi “pengobar Karunia Allah” yang pada akhirnya menjadi panutan bagi generasi penerus kita. Ada berkat dan jaminan jika kita menjadi “Pengobar karunia Allah”.

Untuk menjadi “pengobar karunia Allah” kita harus keluar dari lingkungan yang salah baru kita mampu masuk pada area kemuliaan yang memotivasi diri kita menjadi “pengobar Karunia Allah”.

Di Hut ke -64 PELKAT GP

kita berharap GP sebagai “tonggak gereja” harus menjadi generasi yang “mengobarkan karunia Allah” . Ini berarti GP harus memiliki misi karena Visi tidak ada artinya jika tidak ada misi untuk mencapainya.

Visi tidak akan berhasil jika tidak ditopang oleh misi yang jelas untuk mencapainya. GP dilahirkan (HUT GP) di dunia bukan tanpa maksud yang jelas, melainkan untuk sebuah misi yang harus dijalankan, yaitu misi generasi penerus “Mengobarkan Karunia Allah” (KASIH).
GP tanpa visi sama dengan “orang buta menuntun orang buta” (pasti nginjak gituan ) dan GP tanpa misi adalah segerombolan anak muda yang membisu dan merasa ada beban berat untuk melangkah karena tidak pernah merekognisi/mengenal dengan jelas langkah apa yang harus dambil.

GP harus memiliki atensi, animo, dan minat untuk menjadi generasi yang memiliki misi yang MENGOBARKAN.
Kita dikaruniakan dua telinga dan satu mulut, ini berarti Anda sebagai generasi muda (GP) diharapkan banyak belajar dengan mendengarkan orang lain. Terkadang kita lebih banyak bicara dan lupa mendengarkan tuturan orang lain. Belajar tidak selamanya di bangku kuliah atau di buku saja, tetapi juga langsung dari pengalaman hidup orang-orang di sekitar

“GP Jangan jadi generasi muda yang tidak tahu harus melakukan apa karena generasi muda seperti ini akan tertinggal oleh waktu” MBTGP HUTpanah

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s