Rabu 24 Juli 2014=> Kej 46:5-7 Ku jemput kau dengan kemuliaan


panah
46:5 Lalu berangkatlah Yakub dari Bersyeba, dan anak-anak Israel  membawa Yakub, ayah mereka, beserta anak dan isteri mereka, dan mereka menaiki kereta j yang dikirim Firaun untuk menjemputnya. 46:6 Mereka membawa juga ternaknya dan harta bendanya, k yang telah diperoleh l mereka di tanah Kanaan, lalu tibalah mereka di Mesir, m yakni Yakub dan seluruh keturunannya bersama-sama dengan dia. 46:7 Anak-anak dan cucu-cucunya laki-laki dan perempuan, seluruh keturunannya n dibawanyalah ke Mesir.

Sebagai orang tua sudah seharusnya sikap posesif terhadap anak yang menuju kedewasaan dihindari . Peran orang tua harus memandu, membidikkan,membimbing,mengedit dan menuntun bukan memasung, membelenggu, meredam dan menguasai anak tersebut. Biarkan anak Anda bersosialisasi,bertumbuh, dan berkembang. Jangan bersikap posesif!

Menyanyangi dan memanjakan atau bisa juga dikatakan over protektif terhadap anak dapat menjadi sumbermasalah. Itulah yang terjadi dalam hubungan Yakub dan anaknya Yusuf. Kakak-kakak Yusuf menjadi iri dan dengkit atas sikap yang berlebihan ditunjukkan ayahnya Yakub terhadap adiknya Yusuf. Sehinggak terjadi suatu masalah besar dimana saudara-saudara Yusuf menjualnya sebagai budak. Perilaku Yakub menjadi patah semangat karena dia begitu mengasihi Yusuf . Sebab itu dia menjadi posesif , amat sangat over protektif terhadap Benyamin, adik Yusuf yang seibu.

Pandangan umum

Kita tentu pernah mendengar ; ‘hari bapak, atau Father’s Day’ yang dirayakan di negera barat lainnya. Di mana tercermin bahwa figur seorang ayah dalam kehidupan keluarga tetap dipandang primer, krusial, esensial, dan prinsipil. Kehadiran dan peranannya seorang ayah sebagai sosok pemimpin sangat mendefinisikan dan menggariskan jalannya kehidupan rumah tangga keluarga itu sendiri.

Ketiadaan seorang ayah dalam keluarga sangat mempengaruhi perkembangan hidup anak-anaknya, tidak ada bedanya dengan peranan seorang ibu dalam keluarga. ketidak hadiran seorang ayah dapat membuat anak menjadi sensitif bahkan anak cenderung menjadi ‘introvert’dan pembuat masalah. Kehadiran seorang ayah sangat melindungi . Mereka sering merasakan dan mengalami kehadiran seorang bapak sebagai seorang pahlawan atau ‘hero’ bahkan menerimanya sebagai model dan idola kehidupan mereka.

Di pihak lain seorang ayah ada yang sangat sibuk dan tidak berperan menuntun anak-anaknya, yang penting memberikan fasilitas nafkah kepada keluarga. Sehingga anak-anak tidak merasakan model dan keteladanan seorang ayah. Seorang ayah yang super sibuk cenderung egois atau mementingkan kepentingan diri sendiri bahkan tidak lagi perduli dengan pendidikan iman anak-anak mereka. Bukankah itu yang sekarang terjadi di sekitar kita.

Kita sebagai keluarga kristen kususnya sebagai seorang ayah harus memberi waktu dan perhatian kepada anak-anak. Karena 70% adalah tanggung jawab orang tua, 15% tanggung jawab sekolah dalam memberi bekal pengetahuan dan 15% tanggung jawab gereja menumbuh dan mengembangkan iman mereka dan kelak kepada mereka gereja menyerahkan tongkat estafet dalam menjalankan misi gereja.
Kita harus belajar dari Yusuf yang tidak pendendan terhadap saudara-saudaranya, Sebagai orang yang memiliki jabatan ia tidak sombong. Ia begitu mengasih ayah dan saudara-saudaranya.

Memiliki anak (seperti Yusuf) yang berhikmat, mengabdi , memuliakan, dan sayang kepada orangtua adalah harapan setiap orangtua dimuka bumi ini. Tetapi , terkadang hubungan antara orang tua dan anak gak nyambung..”orang tua mau anaknya harus seprti yang mereka mau dan anaknya mau seperti yang mereka mau”

Beberapa faktor yang mempengaruhi:
– Orang tua (ayah) yang terlalu sibuk mencari materi
– Merasa diri sebagai kepala rumah tangga/pencari nafkah sehingga anak harus taat
– Orang tua yang terlalu posesif/ over protektif
– Lingkungan pergaulan seorang anak yang membuat mereka bisa salah pergaulan
– Orang tua yang merasa dirinya selalu benar

Hal seperti diatas yang membuat hubungan orang tua dana anak-anaknya mengalami disharmoni. Banyak anak-anak lupa akan pengorbanan orang tua mulai dari kandungan hingga sebesar sekarang adalah sebuah pengorbanan yang tidak terbalaskan.
Oleh karena itu, selalu jaga perkataan, sikap kita terhadap orangtua. Jangan sampai menyakiti mereka. Mereka adalah pembawa misi Tuhan yang diestafetkan untuk kita. Kalaupun mereka salah dan penuh kekurangan kita harus menyadari orangtua kita bukanlah manusia sempurna Mereka butuh topangan doa dari anak-anaknya begitu juga sebaliknya.

Sekarang waktunya dan tekad diri kalian sebagai anak untuk selalu berupaya memuliakan orangtua. Jangan pernah bosan untuk memaklumi kesalahan mereka, namun tentu tidak berarti diam tanpa mengingatkan beliau dengan cara terbaik. Selalu renungkan kebaikan mereka kepada kita dan berdoalah senantiasa kepada mereka.

“Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia- nyiakan ajaran ibumu. Tambatkanlah senantiasa semuanya itu pada hatimu, kalungkanlah pada lehermu.” Amsal 6:20-21. Allah memberikan kepada Musa sepuluh perintah, Perintah yang kelima adalah, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.”

Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu , tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Efesus 6:4)
Kebaikan seorang ayah lebih tinggi daripada gunung dan kebaikan seorang ibu lebih dalam dari pada laut. (Japanese Proverb)

“Satu orang ayah lebih berharga daripada ratusan guru.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s