Minggu 16-Agst 2015 – Roma 15 : 1-13 Kemuliaan-Nya Dinyatakan Dalam SolidaritasNya yang Memerdekakan


Roma 15:1-13

15:1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat u  dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. 15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya v  untuk membangunnya. w  15:3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri 1 , x  tetapi seperti ada tertulis: “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku. y 

Hari gini kita masih menulis judul  Solidaritas Nasiona(SGDK) …  Bagaimana solidaritas kita di dalam jemaat  maupun lembaga GPIB ? ZERO ZOOM . Bukan rahasia lagi saya  dan para rekan-rekan  selalu bertanya dan mengkritisi para stakeholder GPIB di MEDSOS  yang hanya berdiam diri, cari aman, nggak mau tau dengan masalah yang terjadi dalam lembaga kita, dsb. Tidak ada solidaritas dalam lembaga gereja kita, mungkin yang ada adalah RIVALITAS.

Kesalahan yang paling pokok dan paling fatal dalam lingkungan gereja kita adalah SOLIDARITAS BUTA yang berakibat ketidakmampuan mendengarkan kritik dan ketidak mampuan melakukan koreksi. Akibatnya para penggereja menjadi  ahli dan terampil  menggalang dan memberi dukungan secara artifisial.

SOLIDARITAS BUTA menutup kritikan korektif, memberi dukungan untuk membungkam koreksi. Semua yang mengkritisi di recaaling bahkan dipecat. Ketika kritikan korektif dibiarkan, maka yang tersingkir adalah kejujuran,dan yang terbenam adalah kebenaran. Dan yang menang adalah ego dan arogansi.

Muncul  penjilat-penjilat, kaum oportunis dan para vested-interest. Mereka yang hari ini berteriak “Hosana”, dan besok dengan sama lantangnya berteriak “Salibkan Dia”, virus-virus penyakit KKN. SOLIDARITAS buta  memelihara tikus-tikus untuk menggerogoti “rumah sendiri”.  

(tulisan di atas terinspirasi dari surat  terbuka eka darmaputra kepada Presiden Habibie-; APA-APA YANG TAK BOLEH TERULANG LAGI Oleh: Eka Darmaputera , Suara Pembaruan, 25 Mei 1998.)

Saat PS tinggal beberapa bulan  muncul  kepentingan kepentingan yang dipolitisasi , ada juga  faktor ketidak-adilan  yang seharusnya menuntut rasa soliditas & solidaritas yang lebih. Saya lebih cenderung dalam lingkungan gereja kita  terjadi rivalitas  yang cenderung dominan daripada solidaritas . karena banyak di antara kita memburu  kesuksesan (materi)  bagi pementingan diri maupun kelompok.  Ini terjadi persaingan   di berbagai aspek kehidupan yang dijiwai materi. Ada yang melakukannya secara halus (kasat mata)  ada juga yang melakukannya secara kasar . Itulah kecenderungan rivalitas yang lahir dari pementingan diri dan hal ini sudah banyak terjadi di lingkungan gereja tanpa kita sadari.

Lain dengan solidaritas. Ia lahir dari kepentingan demi kebersamaan  , melihat orang lain / kelompok lain adalah  saudaranya. Solidaritas bisa kita setarakan dengan kesetiakawanan. Solidaritas itu berbicara kebersamaan (hubungan sosial) , kepentingan yang sama, rasa simpati dalam lingkungan sosial  yang dirancang untuk kepentingan bersama.   Istilah ini umumnya digunakan dalam sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Surat Paulus pada jemaat di Roma mengatakan:

Ayat 1-> Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat  dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.

Ayat 2 -> Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 

Ayat 3 -> Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri ,  tetapi seperti ada tertulis: “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku. 

Ke tiga ayat di atas jelas berbicara  nila-nilai solidaritas,  bagaimana kita dapat berkontribusi pada mereka yg lemah, kekurangan,  yang dicerca, di zolimi dengan sesama dan  dapat merancang , menumbuhkan  kehidupan bersama yang indah. Bersama menikmati kebaikan Tuhan dari kehadiran bersama yang saling berbagi ruang, ilmu dan bahkan materi.

Ayat 3… : “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku. Ayat ini menunjukkan pada kita  bahwa Tuhan ada bersama mereka yang di cerca, dizolimi, dsb.

Dalam arus modern  saat ini, manusia kristen sama .   Serba ingin   instan, praktis dan ekonomis. Pada akhirnya kita   tidak mau repot, tidak mau rugi , dan yang paling menonjol adalah KETIDAKPEDULIAN  yang telah menodai iman dan komitmen hidup kekristenan.

Gereja pun rentan terhadap    konflik  jika tidak dikelola dengan bijak akan muncul perbedaan pendapat dan perpecahan yang membentuk SOLIDARITAS BUTA . Pada akhirnya tidak  melihat masalah dengan bijak yang berlandaskan kebenaran Firman Tuhan.  SOLIDARITAS BUTA mengakibatkan perpecahan . Jangan sampai hanya demi solidaritas, kita lalu mengabaikan kebenaran.

Kita harus memahami bahwa Tuhan kita adalah  Tuhan yang solider , kita dapat hiudp saat ini  adalah wujud solidaritas Tuhan pada kita, Ia mengasihi kita dalam karya penyelamatanNya yang turun menjadi manusia dalam diri Yesus. Solidaritas-Nya ada dalam keseharian kita  ,  masuk dalam persoalan-persoalan, kebingungan, ketidakberdayaan. Ia  berbagi rasa dalam  suka maupun duka  , Ia berbelarasa dalam kerapuhan dan keringkihan manusia. Sebab itu  kita harus menjadi pelaku solidaritas  untuk membela kebenaran, bukan bersolidaritas untuk kepentingan kelompok tanpa alasan yg jelas, apakah yang  kita solideri itu benar atau salah . Jika itu terjadi kita akan terjebak dalam SOLIDARITAS  YANG BUTA.

Hari  kemerdekaan Indonesia yang ke 70. Sudah menjadi tradisi menjelang HUT kemerdekaan bangsa Indonesia diisi dengan berbagai lomba, mulai dari makan kerupuk,lari kelereng, lompat karung, panjat pinang, dan lain-lain. Kita juga melakukan kerja bakti di kampung, di desa, di halaman rumah , gereja bahkan di kantor-kantor. memasang bendera, umbul-umbul dan gapura diujung-ujung gang (lorong) . Warna merah putih menghiasi, mendomonasi  jalan-jalan dan perkampungan.

Tuhan memanggil kita sebagai warga GPIB  untuk menjadi agen SOLIDARITAS SEJATI  yang membawa dampak di dalam maupun di luar GPIB…Masih banyak kaum papa yang  terbelenggu oleh  problema hidup.

GPIB BERDOA, agar bangsa Indonesia yang menghirup udara kemerdekaan  tujuh puluh  tahun ini mengalami kemerdekaan sejati dan sepenuhnya.GPIB harus juga berkomitmen untuk terus mengembangkan solidaritas kemanusiaan yang memerdekakan orang miskin dari cengkeraman kemiskinan dan peminggiran.

GPIB adalah living organism;  sebagai jemaat yang hidup, tidak lepas dari karakteristik “hidup” itu sendiri yang sangat berharga, bukan karena harta, melainkan karena  kelemahan  yang  perlu perhatian dan kebergantungan pada Tuhan. Apakah kesadaran ini benar-benar secara konkret telah dilaksanakan oleh GPIB ? apakah bentuk-bentuk solidaritas sudah terdengar “keluar” ? Apakah GPIB memerlukan “Solidarity Community Center” yang diharapkan dapat menjadi wadah perwujudan kepedulian sosial ?

Solidaritas adalah Kepedulian sejati . Kepedulian sosial seperti yang diteladankan Yesus adalah suatu penyerahan diri mutlak kepada pelayanan terhadap sesama manusia, tanpa bertanya.

GPIB  sudah  waktunya memperlihatkan kehadirannya yang tidak introver, tetapi sebaliknya mengarah ke “luar” sehingga dapat berperan aktif atau berpartisipasi aktif dalam pembangunan karakter bangsa yang saat ini sedang terus­menerus digaungkan,.

Tuhan memberkati pelayanan kita bersama.

solider

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s