Minggu 20 Sept 15 => 1 Sam. 10:1-9 “Hai pemimpin Jangan Sok…Gunakan Lututmu”


berlutut“Pemimpin Gunakan Lututmu”

Hidup kita telah lunas dibayar oleh Tuhan. Konsekwensi dari pelunasan yang ditanggung  Tuhan melalui anak-Nya , bahwa kita diminta walaupun tidak ada pemaksaan menjadi sarana bagi-Nya untuk menghadirkan Kerajaan-Nya di tengah dunia. Begitu juga dengan pemimpin-pemimpin lainnya Tuhan pakai mereka karena keselamatan-Nya dan pelunasan-Nya bersifat universal. Kita bisa lihat itu dalam sosok Gus Dur, Mahatma Gandhi, dll yang mendedikasikan hidupnya tanpa mengharapkan sesuatu untuk kepentingan pribadi tanpa menuntut balas jasa. Jadi siapapun  manusianya  adalah alat di tangan Tuhan.

Yang membuat mereka berbeda dengan kita adalah IMAN dan kita adalah AHLI WARIS tetapi tetap dalam pengawasan Tuhan

Begitu juga yang terjadi dengan Saul, dia  diurapi menjadi  raja atas Israel tetapi Tuhan tetap memegang kendali atas dirinya. Why? Karena manusia pada dasarnya tidak pernah puas dan serakah bahkan kekuasaan yang disandang membuat memanusia lupa diri kalau Tuhan selalu mengawasi mereka.

Karena itu WASPADALAH para pemimpin, kalian dipilih dan deberi kuasa bukan untuk dinikmati, bukan duduk duduk di singgasana sambil dikipasi dayang dayang. Apalagi kita sebagai ahli waris, tentu Tuhan memakai kita pasti memiliki tujuan yang harus kita pertanggungjawabkan pada-Nya.

Dalam ayat 2-8 Tuhan memberi janji penyertaan dan janji kekuatan
kepada Saul .  Ayat 10, Roh Tuhan  datang untuk memberi
kekuatan kepada Saul .

Demikian juga dengan kita, Roh Kudus dalam diri kita adalah pelindung, Ini berarti sistem manusia  memiliki  rohani yang harusnya memiliki daya imun untuk mencegah  keinginan dosa disaat seorang manusia-rohani berinteraksi dengan lingkungan. Ketika seorang menembus batas (boundary) sistemnya dan memasuki lingkungan sifat-sifat roh itu muncul sebagai sifat manusiannya. Karena itu sebagai pemimpin rohani  yang bersekutu dengan Tuhan memiliki “sistem online” sehingga Tuhan selalu membantu mereka dalam berbagai hal dalam kehidupannya sebagai seorang pemimpin.

Tapi pada dasarnya roh manusia tidak  konsisten, keinginan daging (dosa) mengalahkan manusia, sehingga jangan heran jika rasul Paulus mengatakan bagaimana dapat lepas dari tubuh yang lemah ini (atau roh adalah baik tetapi keinginan daging lemah). Jangan heran jika ada pendeta atau hamba Tuhan yang jatuh kedalam dosa, itu semua karena keinginan daging (roh-roh lingkungan/energy lingkungan) mengalahkan keinginan jiwa dan roh.

Awal Saul sebagai raja israel yang selalu menunggu/mematuhi perintah Tuhan nampak Saul belajar rendah hati dan memahami
siapa dirinya dan siapa Tuhan yang telah mengurapi dirinya.

Kita perlu belajar memiliki kerendahan hati yang sama , kita harus belajar menolak kedagingan kita, menjadi pemimpin rohani “bukanlah siapakah aku, melainkan siapakah Tuhan.” Kita harus belajar dan belajar untukKita selalu menyangkali diri  dan semakin mengakui Tuhan.

#hanyamerasa—Bagaimana dengan kepemimpinan lembaga GPIB; Apakah masuk dalam kategori Homo homini lupus ? , manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Siapa yang menjadi pelaku dan korban? Karena aksi-aksi dari tindakan itu sangat berkaitan dengan kekuasaan, pelaku adalah pihak yang berada dalam posisi dominan. Pihak yang menjadi korban atau targetnya adalah kalangan lemah.

Ada 10 filosofi hidup Jawa sebagaimana sering diwejangkan oleh para leluhur suku jawa dahulu. Saya cuma mengutip 6 saja  Sebagai sebuah perenungan dan introspeksi diri bagi kita semua dalam menjaga keselarasan hidup.

1.URIP IKU URUP
Hidup itu nyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita
2.SEKTI TANPA AJI-AJI
Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan dan kekayaan
3.AJA KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN
Janganlah terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan, materi dan kepuasan duniawi
4.AJA KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, AJA CIDRA MUNDAK CILAKA
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka
5.AJA MILIK BARANG KANG MELOK, AJA MANGRO MUNDAK KENDHO
Jangan tergiur oleh hal2 yg tampak mewah, cantik, indah dan jangan berfikir gamang/plin-plan agar tidak kendor niat dan kendor semangat
6.AJA ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan sok kuasa, sok besar/kaya, sok sakti

Falsafah ini mengingatkan pada kita sebagai manusia agar kita selalu menjaga  keselarasan dan keseimbangan hidup. Sebagai insan yang  saling membutuhkan antara satu dan yang lainnya dan saling menjaga persaan dalam tutur kata, perbuatan, dan sikap tingkah laku budi pekerti mulia.

Seorang pemimpin harus banyak mendengar, dan tidak boleh asal berasumsi. “Ingat, asumsi adalah ibu dari semua kebingungan” 

“Banyak orang kagum akan ’kebisaan’ orang dalam memimpin, namun tidak banyak yang membangunkan dirinya untuk bisa menjadi pemimpin.”

Tetapi Allah tidak memilih orang berdasarkan pertimbangan manusia; “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam. 16:7) 

“Pemimpin yang efektif berjalan di atas rel Firman Tuhan dan bergaul akrab dengan-Nya.  Agar tidak kehilangan sentuhan dengan kepentingan Tuhan.”

“Kepemimpinan yang mengandalkan Tuhan akan membiaskan cahaya kemulian” 

“Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya,…”  Amsal 10:9

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s