27/09/15 => 1 Sam 16:1-13 Jangan Karena—Pandangan pertama awal berjumpa


” 16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, i  tetapi TUHAN melihat hati.

Pandangan pertama awal aku berjumpa ach!..Hey!Pandangan pertama awal aku berjumpa ach!..
Seolah-olahnya impian yg berlalu sungguh tak kusangka dan rasa tak percaya Cowok setampan dia hmm..mm.. datang menghampiriku Hampir-hampir aku tak sadar dibuatnya’— Tentu yang seumuran dengan saya masih ingat penyanyi dangdut yang juga  sangat fenomenal, Alm. A. RafiQ dengan lagunya yg berjudul Pandangan  pertama.

Hal ini juga terjadi pada  Samuel Cuma bedanya Samuel adalah Nabi yang harusnya melihat hati bukan pada pandangan pertama. Kalau alm.  A. RafiQ penyanyi dangdut yang  bersyair cinta. Samuel sangat terkesan pada pandangan pertama mungkin dibuat  klepek-klepek melihat ketampanan Eliab, kakak tertua Daud .

Beda dengan Daud, ayahnya saja meragukan Daud untuk menjadi Raja menggantikan Saul. Ia masih kekanakan dan sangat muda  bahkan penampilannya saja tidak meyakinkan dibanding saudara-saudara kandungnya, itu Ayahnya apalagi orang-orang di   sekitarnya ?

Samuel yang notabene seorang nabi  saja bisa salah karena dia  melihat dari sisi manusiawinya ia terkesan pada pandangan pertama,  tidak bertanya sama Tuhan. Dan Tuhan menegurnya.  karena apa yang di lihat manusia berbeda dengan apa yang dilihat Tuhan. Tuhan melihat  jauh ke dalam HATI .

Mugkin bukan hanya Samuel dan Ayah Daud, bahkan orang di sekitarnya memandang hanya dengan ‘sebelah mata’  dan tidak menutup kemungkinan ada calon-calon lain.

Tuhan ingin hati yang menghamba,  siap diajar dan mendengar-Nya. Israel telah mengalami hidup di bawah pimpinan  Saul sebagai  pemuda berwajah paling gagah  dan bertubuh atletis di atas rata-rata orang  di Israel. Saul sosok yang sempurna di mata bangsa Israel. Tetapi itulah kekuasaan  yang  dipercayakan disalah gunakan. Saul menjadi  raja yang egois .

Melalui Daud , Tuhan memimpin Israel ,  karena yang Tuhan inginkan ada dalam diri Daud yaitu hati yang menghamba .

Dalam mengikut Tuhan, baiklah kesalahan yang dibuat Saul dan kriteria pemilihan Daud menjadi pelajaran yang serius bagi kita. .Daud dijadikan alat oleh Tuhan , bahwa seorang pemimpin hendaknya mempunyai ‘”ensiklopedis” (dimensi) batin dan kemampuan mengendalikan ego. Mampu mengobati, menghibur dan memberi kekuatan bagi  mereka yang bermasalah.

Melalui Daud Tuhan mengajarkan jadilah pemimpin yang melayani, menghamba dan  memiliki patron yang sahih tanpa batas seperti luasnya bentangan langit yang sanggup menahan teriknya matahari. Kepemimpinan yang melayani sanggup mencapai tujuan , mampu membimbing setiap orang  menuju visi dan misi  yang di perjuangkan bersama dengan penuh kasih tanpa menuntut balas budi.

Melalui Daud Tuhan mengajarkan  bahwa seorang harus membuat orang lain terkesima sehingga mempengaruhi mereka mengikuti dia dan memberikan apa yang terbaik dari diri mereka untuk orang lain. Dan yang terutama rela berkorban.  Ada kualitas natural dan spiritualitas yang dari Tuhan. Menjadi pemimpin  itu perlu proses, dibentuk seperti  bejana dari tanah liat yang diproses berulang-ulang sampai menjadi sempurna dan layak “dijual” karena bernilai tinggi. Pemimpin yang melayani, sejatinya tidak mengekor tetapi ia bekerja atas kehendak tuannya.

Mendekati PS dalam minggu ini renungan SGDK & SBU banyak membicarakan tentang kepemimpinan, dan ini di sengaja.  Yang menjadi pertanyaan renungan-renungan yang ada di SGDK & SBU  seolah menunjukkan bahwa kepemimpinan  yang lalu gagal karena PS memilih karena apa yang di depan mata sosok yang gagah, nampak berwibawa ?,  padahal di dalam PS diawali dan diakhiri dengan ibadah ? dan kita semua pesrta PS pasti menberharap Tuhan turut campur di dalamnya ? tetapi dengan berjalannya waktu pemimpin kita seperti Raja Saul , sosok yang EGO . Tidak mau menerima saran dan kritik, siapa yang harus di salahkan ?, apakah kita yang telah memilihnya ?—TIDAK. Tuhan memberi kebebasan manusia untuk memilih, Roh Kudus ada di dalam diri setiap manusia tetapi manusia tidak mampu mengalahkan kedagingannya. Sehingga Roh Kudus yg berdiam dalam diri kita tersingkirkan.

Di PS 20, Tuhan ingin sosok pemimpin yang mau mendengar agar  berpengetahuan , berakal, dam mampu menceritakan kemuliaan Tuhan dan memberitakan pekerjaan tangan-Nya. karena akal adalah karunia Tuhan yang dijadikan alat, organ dan piranti bertafakurnya (perenungan) manusia  , sedangkan pengetahuan tanpa akal seperti rumah tanpa pintu. seorang pemimpin tidak dapat mengamalkan yang baik dan adil jika tak berakal. Pengetahuan adalah subtansi atau aset produktif yang Tuhan beri. Pengetahuan merupakan kegairahan aktivitas yang menjadikan sebuah topik  berkomunikasi menjadi enerjik.

Tuhan menginginkan seorang pemimpin tidak melulu menonjolkan skill (bukan berarti tidak penting), hidup dalam kerendahan hati, tidak memmentingkan diri sendiri .Pemimpin Kristen  wajib hukumnya “menggunakan lututnya” (berdoa) untuk memimpin (mentaati kehendak-Nya),  Kerena dengan demikian hidup pribadinya yang terus menerus diperbaharui Roh Kudus dan karunia yang dianugrahkan Roh Kudus tidak akan telepas walaupun “seribu” masalah datang menerpa. “kursi singgasana” bukanlah alternatif  bagi pemimpin kristen, karena tujuannya adalah pelayanan bukan status. Menjadi garam dan terang di sekitarnya.

Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D. mangatakan bahwa : Pemimpin adalah seorang pendamping, itu harus penyembuh yang terluka ( manusia nuklir ) maksudnya;  kemampuan si pandamping untuk melihat penderitaan orang lain sebagai sesuatu yang sedang terjadi juga pada diri sendiri, bahwa kerinduan orang lain akan terjadi juga pada diri sendiri dan bahwa kerinduan orang lain akan kemungkinan alternatif hidup merupakan sekaligus kerinduannya pula.

Kata beliau, Sesuatu hal yang paling penting dalam hidup kita, terutama bagi orang yang memiliki kerinduan akan berperan sebagai pemimpin oraganisasi  haruslah merenungkan dan menjalankan apa yang tertulis dalam Alkitab. Sebab hanya dalam Alkitablah ada pengajaran yang tepat dalam kepimimpinan yang benar, kepemimpinan itu merupakan suatu pelayanan ( suatu kesempatan dalam menjalankan tugas pelayan yang benar dan sebagai bukti bahwa kita sudah menjadi anak-anak Allah ) yang harus di pertanggungjawabkan, oleh karena itu maka tugas ini harus dikerjakan dengan tanggung-jawab  dan penuh pengorbanan.

kepemimpinan bukanlah suatu jabatan, kedudukan, atau  prestise. Pemimpin kristen itu panggilan  untuk menjadi pemimpin yang melayani. Kesanggupan dan kapabel dalam memimpin dan   berasal dari Tuhan.

Saudara-saudara pilihlah para pemimpin GPIB bukan karena pandangan pertama awal  kita berjumpa tetapi pilihlah dan mintalah pada Tuhan agar kita sanggup melihat HATI.

“Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada  Kalian yang di utus ke PS 20 : “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata,   tetapi TUHAN melihat hati. “

MBT 25 September 2015

hatituhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s