Janji setia


Tentu kita para presbiter baik sebagai pendeta maupun majelis  masih ingat pada saat kita ditahbiskan sebagai seorang pelayan.  Dalam Penahbisan ada proses perjanjian dengan segenap hati berjanji akan menjalankan tugas jabatan sebagai pelayan dan memelihara serta mengembangkan pelayanan yang dipercayakan dengan segala kemampuan yang dimiliki. Dan jemaatpun berjanji  mendukung tugas kita. Bahkan kita  menerima penumpngan tangan yang merupakan berkat Tuhan bagi kita untuk menjalankan tugasnya.

untuk menuju suatu penahbisan merupakan proses yang tidak mudah, ada pergumulan bahkan dengan menjawab  “Ya . dengan segenap hatiku”  kita telah mengadakan perjanjian dengan Tuhan untuk setia menjalankan tugas pelayanan kita.

Disinilah diri kita diuji , apakah kita setia dengan janji kita?

Janji ialah ucapan yg menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat . Tetapi ada janji            yg tidak ditepati; janji kosong; janji palsu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi kata “setia” adalah antara lain: berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); patuh, taat (bagaimanapun berat tugas yang harus dijalankannya);

Manusia yang adalah makhluk konsumerisme sudah semakin terpedaya dan tidak ada filter/kontrol dalam diri sehingga mereka lebih baik mengingkari janji  daripada tidak memberoleh kenyamanan. Mengingkari janji sudah hal yang biasa.   Janji pernikahan yang diingkari dengan perselingkuhan. Janji untuk setia melayani  diabaikan dengan mencari kenyamanan dan materi, Bahkan janji untuk mengikut Tuhan diabaikan dengan menduakan-Nya.

Bahkan sebagai presbiter sering kita tidak setia dengan janji kita, banya pelanggaran yang kita lakukan. Kita yg aktif di media soaial banyak membaca berita/cerita-cerita yang membuat kita kecewa, marah bahkan kata2 umpatan terhadap seorang pelayan Tuhan sudah menjadi “santapan harian”

Kesetiaan sangat susah di cari dalam diri manusia. Dalam persekutuan dan pelayanan  kita kepada Tuhan, seringkali kita tidak setia.  Hati kita mudah berubah.   Sepertinya kesetiaan kita keapda Tuhan tergantung musim.

Kita perlu belajar dari janji setia Daud, bahkan dia bersumpah dan berkata: “demi Tuhan yang hidup…” – Bahwa Salomo  yang menggantikan dia.

Tuhan tidak ingin kita hanya diam atau doing nothing sambil menunggu janji Tuhan itu turun dari langit.  Tuhan menghendaki adanya tindakan, yaitu kita mau melangkah dengan iman dan untuk meraih janji itu.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”  (Lukas 16:10a).  Kesetiaan juga tidak dapat dipisahkan dari ketekunan dan kesabaran.  Tanpa kesetiaan mustahil bagi kita untuk meraih janji-janji Tuhan!

Berbahagialah setiap orang yang mau membaca, merenungkan, terlebih yang bisa melakukan firman Tuhan dalam kehidupannya sehari hari.-Amin

“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. … Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (1 Petrus 5:2-3,5b)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s