Minggu 25 Okt 15- Mazmur 127 THE TRUE ARCHITEC


127:1 Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun   rumah  , sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal   kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. 127:2 Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti a  yang diperoleh dengan susah payah–sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya  pada waktu tidur   127:3 Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN  , dan buah kandungan adalah suatu upah.   127:4 Seperti anak-anak panah   di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. 127:5 Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu.  Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh  di pintu gerbang.

INTERMEZO

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Nyanyian Ziarah dalam bahasa Ibrani dan Inggris di tembok dekat gerbang ke Kota DaudYerusalemIsrael.

Nyanyian Ziarah adalah sebutan untuk 15 Mazmur 120134 (119–133 dalam Septuaginta dan Vulgata), yang dimulai dengan catatan “Nyanyian Ziarah” (bahasa Ibrani: שיר המעלות Shir Hama’aloth, artinya “nyanyian pendakian”). Dalam bahasa Inggris disebut Songs of Ascent, Gradual Psalms, Songs of Degrees, Songs of Steps atau Pilgrim Songs.

Nyanyian ziarah  berasal dari kebiasaan menyanyikan sejumlah mazmur ini ketika orang-orang mendaki ke Yerusalem dari berbagai tempat untuk berziarah dan beribadah pada tiga Hari Raya Agung sesuai aturan Taurat (Ulangan 16:16) atau nyanyian para imam ketika mereka menapaki 15 tangga naik untuk melayani di Bait Allah.[1]

Mazmur 127 adalah Mazmur keluarga.  Mazmur 127 ini digubah oleh Daud untuk anaknya Salomo.

15 Th perjalanan pelayanan saya, khususnya di jemaat GPIB Sion Nunukan yang mayoritas jemaatnya adalah suku Toraja. 4 Th pelayanan saya  di jemaat tersebut ada salah satu yang rutinitas dilakukukan oleh jemaat di sana sebelum mereka membangun atau peletakan batu pertama  saya selalu diundang untuk mendoakan rencana pembagunan rumah merka . Itu berarti mereka  menyerahkan rencana pembangunan rumah mereka kepada Tuhan dan mereka yakin  dan percaya bahwa penyertaan Tuhan tidak sia-sia.

Tuhan itu itu perancang atau sang arsitektur  dan perencana “bangunan” yang sesuai dengan kehendaknya bukan kehendak manusia.

Demikian juga di saat kita sebagai orang kristes dalam membangun rumah tangga kita harus memahami  rumah tangga yang diinginkan Tuhan

begitu juga dalam proses membangun pertumbuhan iman kita butuh Tuhan. Semua aspek kehidupan dan ruang gerak kita sebagai orang yang beriman kita tidak dapat memisahkan diri dari-Nya, baik  rumah, pekerjaan, pendidikan, usaha dlsb karena Tuhan bertanggung jawab atas ciptaan-Nya. Dia ingin kita sebagai anak-anaknya selalu berpengharapan pada-Nya.

Begitu juga dalam menciptakan dan  membangun alam semesta ini sehingga semuanya elok dipandang mata, termasuk manusia diciptakan sesudah segala sesuatu ciptakan dan disediakan Tuhan  bagi manusia untuk mengelolahnya.

TUHAN berkuasa atas segala yang diciptakan-Nya. Ia berkuasa mengatur semua hasil rancangan-Nya . Karena itu kita harus menyadari, dan jangan meninggalkan Tuhan dan melepaskan segala sesuatu yang kita peroleh dalam dunia ini dari TUHAN, itu berarti kita melawan dan mendukakan-Nya.

Kesia-siaan yang dimaksud Pemazmur adalah kesia-siaan  jika kita melakukan sebuah rencana tidak dilandaskan akan pemahaman yang diajarkan Tuhan

Firman Tuhan ini pada dasarnya mengingatkan kita, jikalau manusia berusaha sendiri tanpa mengingat pertolongan, campur-tangan dan berkat dari Tuhan; maka segala yang dilakukan yang dilakukan sia-sia.

KONTEMPLATIF

Saya yakin , banyak diantara kita melakukan doa bersama saat hendak memulai pembangunan rumahnya, saat membeli  rumah telah digumuli dalam doa,  saat memasuki rumah baru kita  melakukan ibadah Tetapi mengapa pada kenyataannya keindahan “bangunan” rumah tersebut tidak diikuti dengan keindahan isi hati penghuninya ?

” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” menjadi tindakan iman yang kita nyatakan setiap hari,  bukan hanya formalitas .

”Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah–sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”. Pahami, bahwa TUHAN  memberikan berkat-Nya kepada yang dicintai pada waktu mereka tidur , mengapa? Karena mereka bekerja dengan bijak. TUHAN  tidak akan memberikan berkat kepada mereka yang gemar tidur dengan nyenyak. Rumah yang dibangun dirancang  Tuhan  ada kedamaian, keamanan, dan kebahagiaan

Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan “Jika TUHAN  menghendakinya ,   kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

Kata-kata ini bertujuan mengkritik orang -orang yang memiliki konstruk berpikir yang overconfidence. Dalam membuat perencanaan, faktor-faktor diatas memang sangat diperlukan, tetapi kita sering sok tau dan mampu melakukannya tanpa mengingat sedikit pun pada TUHAN  yang memberikan hikmat kepada kita  untuk berpikir. Overconfidence, menggambarkan kecenderungan orang untuk berperilaku seolah-olah mereka mungkin memiliki kendali padahal sebenarnya mereka tidak punya, mereka merasa mampu mengontrol dirinya.

Efek terlalu percaya diri akan bias dan tidak mapan, di mana kepercayaan subjektif seseorang dalam kepercayaan diri lebih besar dari akurasi tujuan mereka, terutama ketika kepercayaan diri yang relatif tinggi.

RENUNGKAN

Hidup ini ibarat melukis pada sebuah kanvas yang awalnya putih bersih, maka akan menjadi beraneka warna setelah kita melukisnya dan yang mendominansi warna hidup kita adalah warna hitam dan putih. Tak bisa kita pungkiri terkadang kita salah dalam mewarnai hingga kita menghapusnya walaupun kanvas itu tak sebersih seperti awalnya tetapi itulah usaha kita agar kita bisa memperbaiki dan memberi warna yang lain. Walaupun goresan itu tidak dapat dihapus. Gambaran di atas mengambarkan bahwa kita manusia tidak berarti dan tidak pernah mensyukuri, setelah Tuhan menegor kita dengan keras baru kita sadari.

TUHAN adalah perancang hidup dan  Ia sang ARSITEK SEJATI. Ia sandingkan keindahan pada tatanan kehidupan agar kita dapat bersenda gurau dalam menikmati hidup sebagai makna anugerah, namun sering  kita tidak menyadari dan keliru untuk melakoni hidup. Bahkan kadang kita sering salah dalam ber-Tuhan namun kita tidak sadar akan kesalahan tersebut. Kita hanya mampu memandang, namun tak melihat secara utuh pada setiap falsafah hidup yang kita lalui, kita hanya bisa bicara namun tak mampu membahasakan dengan sempurna akan makna terdalam yang mengalir di balik jiwa.

Seperti yang tertulis dalam Yakobus 4 : 14-15 dijelaskan bahwa hidup manusia itu singkat, seperti uap yang sebentar akan lenyap. Jadilah apalah arti hidupmu yang singkat ini? Sebagai manusia yang lemah haruslah kita dalam berencana ataupun bertindak tidak mencongkakkan diri sendiri namun menyerahkan segala sesuatunya sesuai dengan kehendak Allah. Sebab sesungguhnya Tuhan mengetahui setiap rancangan manusia

GPIB-KU

Hari Senin PS GPIB 20 akan dimulai. Kita akan mempersiapkan diri kembali  berziarah dalam gerak layan yang dinahkodai nahkoda baru.   GPIB memiliki ARSITEK SEJATI dan kita harus mengundang-Nya dan membuka pintu bagi-Nya. Selama ini kita menggunakan arsitek-arsitek  yang overconvidence dan elupakan ARSITEK kita yang justru lebih tau awal rumah kita dibangun dan yang merancangnya adalah DIA.

  1. GPIB adalah rumah kita bersama

Sebagai rumah bersama, kita harus selalu  bersihkan bersama dan meminta “Arsitek” yang merancang rumah kita ini untuk melihat apa-apa yang sudah harus diperbaiki, tentu sesuai kehendak-Nya.

  1. GPIB adalah tempat kita bersekutu

GPIB adalah tempat kita bersekutu, mintalah arsitek untuk melihat dasar rumah tempat kita beresekutu, masih kah layak dipakai untuk kita bersekutu? Kalau tidak layak,  kita harus meminta “Arsitek” untuk   ganti dengan yg baru, semua bahan dari-Nya.

  1. GPIB adalah Bahtera.

GPIB juga diibaratkan Bahtera yang seharusnya  dinahkodai oleh NAHKODA  SEJATI yang mampu menenangkan badai. Tetapi NAHKODA SEJATI ini menyerahkan dan mempercayai salah satu  nahkoda didikannya  tidak berhasil  menahkodai bahteranya  dengan benar dan tidak  mampu  meredakan badai yang menerpa Bahtera GPIB karena terlalu overconvidence. Sudah waktunya nahkoda ini diganti oleh utusan-utusan yg diharapkan mendengar dan mematuhi apa yg telah diajarkan sang GURU NAHKODA agar bahtera dapat melawan dan menerjang badai…

Untuk itulah marilah kita terus berdoa dengan segenap hati dan mengandalkan Tuhan dalam setiap perencanaan yang kita lakukan. Segala sesuatu pasti indah pada waktuNya.

Images : GPIB Sion Nunukan

dsc084442

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s