Kumpulan kotbah natal


Kumpulan Khotbah natal

ANTARA IBADAH NATAL DAN PESTA NATAL 
Pdt. Israel H S Milala. STh.

Tulisan ini bisa jadi tidak enak untuk dibaca karena memang sifatnya menyoal terhadap perayan besar yang sering kita agungkan di bulan Desember. Mungkin sahabat akan berikir saya terlalu banyak berbicara yang bukan – bukan dan mungkin akan menyoal kembali maksud tulisan ini dengan berbagai argumen atau barangkali menyebabkan tidak suka kepada saya atau barangkai tidak mengucapkan lagi selamat natal. Tapi inilah pandangan saya tentang perayaan natal kita. Dan jika Tulisan ini tidak berkenan bagi Tuhan sang pemilik natal, semoga Ia mengampuni saya sebagai hamba-Nya.

 

PERLUKAH PERAYAAN PESTA SEPERTI INI ?
Natal … Memang sudah tak terasa dan semakin dekat perayannya. Kesibukan akan dimulai panitia natal mulai bekerja, gereja, rumah, mall, pasar – pasar mulai dihiasi pernak – pernik natal dan seperti biasanya pesta natal itu diharapkan dapat terlaksana dengan meriah hingga bahkan bisa saja sangat duniawi.

Terkadang saya berpikir ; Perlukan perayaan dan Pesta natal dimana nuansa duniawinya sangat terasa ?. Kenapa saya berkata Perlukah perayaan seperti ini ? lihatlah sekarang bagaimana gereja – gereja yang hanya mengandalkan ibadah spektakuler yang didalamnya orang – orang kristiani bersorak – sorai memuja hadirat Tuhan, tetapi lihat juga adakah perubahan yang mendalam yang membaharui setelah perayaan natal tersebut ?

MELIHAT NATAL BERSAMA NABI YESAYA.
Mari melihatlah bersama nabi Yesaya, ketika ia berkata dalam pasal 2 tentang : “apa yang terjadi di surga dan yang terjadi di bumi”. Yerusalem beria – ria dengan persembahan domba dan lembu mahal, perayaan – perayaan rutin yang sangat fantastis ? tapi ironis ! melihat semuanya itu. Yesaya mengatakan, Yang Mahakudus mencela karena jijik ; “Aku benci melihatnya! Tanganmu penuh dengan darah!” bahkan Allah bahkan menyetarakan Yehuda dengan manusia Sodom dan Gomora ! “Inilah kesalahan Sodom … kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin” (Yehezkiel 16:49). Yesaya mengatakan Allah tak terkesan dengan ibadah, perayaan atau persembahan memang sangat hebat namun penuh kemunafikan, meski ada kemegahan di dalam tembok rumah ibadah, kesengsaraan dan kemiskinan masih bercokol di luar tembok Yerusalaem.

Dalam hal ini aku hendak mengatakan, lihatlah ! Sekian tahun gereja bertumbuh, bukankah pertumbuhan iman jemaat hanya jalan ditempat, bukankah semakin lama kita bersama di dalam gereja semakin banyak perseteruan, kecongkakan, keangkuhan, yang miskin tetap miskin dan yang kaya semakin kaya dan kondisi orang-orang di jalanan (masyarakat) tak banyak berubah ? Bukankah ini yang dikatakan Yesus tentang “Garam” yang tak lagi asin dan “terang” yang sudah redup nyalanya ? Atau barangkalai dengan sengaja kita melupakan pesan nabi Yesaya dalam setiap perayaan gerejawi, tidakkah kita melihat Tuhan menghardik umat-Nya yang merasa diri tengah baik – baik saja ? Jikalau bisa dan tulisan ini memberi makna kepada kita, mungkin aku juga akan berkata, marilah “Singkirkan perayaan yang penuh kemunafikan itu, mari beribadah dan merayakan natal dengan kesederhanaan, hikmad dan lebih kepada memaknai akan kehadiran Yesus di dunia. Cukup sudah kita kita berbicara tema natal yang sentralnya hanya kepada :

  • Berapa biayanya ?
  • Dari mana sumber dananya ?
  • Dimana tempatnya di hotel atau di gereja?
  • Siapa pengkhotbahnya kelas atas atau kelas bawah ?
  • Siapa artisnya lokal atau ibu kota ?
  • Apa makanannya Prasmanan atau kotak ?
  • Bagaimana dan apa kado natalnya ?
  • Apa hiburannya, band atau keyboard ?
  • Siapa yang di undang Pejabat atau pimpinan gereja ?
  • Siapa yang menjadi sponsor calon Bupati, Gubernur atau caleg ?
  • Dsb … ?

 

SEDIKIT TENTANG AKU DAN MAKNA NATAL
Kenapa kita sangat menghilangkan makna natal yang sesungguhnya yang berbicara berbicara tentang penebusan, tentang kesederhanaan dan kerendahan hati ? Saya masih mengingat ketika saya dulu diundang beberapa tahun lalu awal pelayanan saya dengan jadwal yang padat sekali bisa sampai 40 X dalam sebulan, tapi itu dulu … hehehe … sekarang jadwalnya semakin sedikit tapi saya senang dan sangat jujur dengan sengaja memang menolak beberapa tawaran berkhotbah yang hanya memuaskan pendengar, karena bagiku menjadi pengkhotbah terkenal bukan lagi sebagai yang utama, tapi bagaimana menyamapaikan kebenaranNya yang sesungguhnya bukan sebagai hanya lelucon. Bagi pengkhotbah begini akan beresiko tidak akan di undang dalam banyak perhelatan …. hehehehe … dan mikirlah jika ada yang mau melakukan itu.

Kembali kepada perayaan natal tadi. Dalam banyak perayaan natal, saya memperhatikan bahwa memang acara natal yang saya hadiri, bahwa perayaan itu lbih banyak kepada nuansa duniawinya, mulai dari acara natal yang penuh dengan entertaiment, spanduk dan sponsor yang beragam, ucapan selamat dari petinggi – petinggi negeri, ada juga pajangan product makanan dan minuman dan lebih heran lagi tata acara ibadah bisa jadi ada 10 lembar tetapi 6 lembar terakhir penuh foto calon – calon pejabat serta iklan … hehehehe.

Terkadang saya juga mendengar, beberapa sanjungan yang dilontarkan oleh panitia natal, majelis jemaat atau jemaat sendiri yang berkata ; “Puji Tuhan, acara Natal kita sangat meriah. Megah, mewah, paduan suaranya mantap, penampilan operanya memukau, pengkhotbahnya luar biasa, dsb”. Sebenarnya, saat mendengar perkataan itu, saya terharu dan tertunduk, jangan – jangan Tuhan malah sedih dan menangis melihat kemewahan dan kemeriahan semuanya ini yang penuh dengan selebrasi. Jangan – jangan semua yang kami lakukan di Natal ini hanya menyenangkan hati kami, bukan untuk Tuhan.

Sahabat kita telah melupakan, bukankah dalam perayaan natal seharusnya kita lebih memikirkan tentang kedatangan-Nya nanti ? karena natal bukanlah lagi berbicara tentang bayi, tentang gembala, tentang palungan. Itu dulu ketika Ia datang menjadi bayi manusia. Dan Sang Bayi Manusia itu segera akan datang lagi. Tapi bukan bayi lagi, tapi dengan segala KemuliaanNya. Mengapakah makna Natal kehilangan maknanya mengingat akan KedatanganNya nanti ? bandingaknlah dengan apa yang dikatakan dalam Matius 24 : 29 – 30 ini : “Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak tanda ANAK MANUSIA di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat ANAK MANUSIA itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dengan firman yang tertulis dalam Matius 24 : 29 – 30 ini, masihkah kita tidak mau merenung untuk mempersiapkan diri menyongsong kedatanganNya nanti ? masihkah dalam masa penantian itu, tetap kita rayakan dengan pesta makan dan minum yang dipenuhi dengan roh konsumerisme ? Saya rasa bukan itu caranya. Roma 14 : 17 mengatakan : “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”.

Saya mengingat beberapa hari yang lalu Nora (istriku) berkata, Pa dalam tahun – tahun natal kita tidak pernah lo memajang pohon natal dan menghias rumah kita dengan pernak – pernik natal ? saya hanya berkata kepadanya, mama, mungkin tahun ini, kita juga tidak akan memasang pohon natal dirumah dan pernak – perniknya dan kita pun tidak akan merayakan natal dengan baju baru tapi mari kita bernatal dan merayakannya dengan hati bersyukur.

Entah kenapa memang, beberapa tahun ini, jiwaku gundah gulana dan bertanya – tanya, mengapa orang – orang berlomba sibuk menyukseskan acara natal, sementara Kristus yang dirayakan kelahiranNya itu dilupakan ? Jika boleh sekali lagi saya berkata, bukankah ketika ibadah natal itu dibangun dari kelebihan, pesta mewah, makanan mahal, harta, pakaian, jabatan, dengan acara glamour, dsb, yang ketika dibawa kedalam ibadah bahwa itu telah mencuri kemuliaan Tuhan ?

RENUNGAN MEMAHAMI NATAL YANG SESUNGGUHNYA
Bacalah ini renungan yang saya copy paste dari salah satu gereja tetangngga, yang sangat baik dalam memahami natal, semoga dapat memberikan kesadaran kepada kita yang merayakan natal tahun ini :

Yesus lahir dalam kesederhanaan. Dia adalah Raja, jadi sebenarnya Dia dapat memilih tempat dimana Dia akan dilahirkan. Dia bisa saja memilih istana yang megah dan penuh keindahan, tetapi sebaliknya Dia memilih kandang dengan bau yang mungkin saja menyengat. Dia bisa saja memilih untuk diletakkan di pembaringan yang empuk, tapi Dia justru memilih palungan. Dia bisa saja memilih sutra termahal untuk menyelimuti-Nya – ingat, Dia Raja dan Tuhan – tetapi Dia membiarkan kain lampin yang kasar dan sederhana membungkus-Nya. Saat Dia lahir, bisa saja Dia mengundang pembesar dan golongan bangsawan untuk datang melihat-Nya, tetapi Dia justru memilih para gembala sebagai tamu kehormatan!

Kelahiran Kristus itu sederhana, bahkan sangat sederhana. Namun anehnya Natal sekarang ini sudah identik dengan kemewahan. Kalau tidak mewah, bukan Natal namanya. Jika anggaran dana Natal tidak membengkak sampai berpuluh-puluh juta, Natal yang kita peringati serasa kurang afdol. Dengan dalih rohani, kita selalu berkata bahwa kita sedang menyambut kelahiran Raja di atas segala raja, sehingga segala pemborosan yang kita berikan tidak berarti sama sekali. Memang tidak pantas jika kita membuat perhitungan finansial terhadap Tuhan. Namun, apakah benar semua kemewahan itu untuk Tuhan, ataukah sebaliknya untuk memuaskan keinginan kita sendiri ? Bukankah sejujurnya kita sungkan dengan tamu undangan yang datang dalam acara Natal kita itu, sehingga mau tidak mau kita akan menyiapkan acara itu semewah mungkin ? Padahal bisa saja kita merayakan Natal dalam kesederhanaan tanpa mengurangi esensi Natal itu sendiri.

Seandainya waktu bisa diputar ulang, saya ingin kembali ke Natal yang pertama untuk menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana suasana di Betlehem. Sementara semua penduduk desa kecil itu sudah tertidur pulas, di suatu tempat, tepatnya di sebuah kandang sederhana, terlihat Yusuf dengan Maria yang sedang menggendong Sang Mesias. Serombongan gembala datang dengan ekspresi yang belum pernah terlihat sebelumnya. Suasana di sana begitu hangat, tenang, teduh dan dipenuhi kedamaian yang tak terkatakan. Natal pertama memang diwarnai dengan kedamaian.

Dua puluh abad kemudian, Natal masih diperingati. Kisahnya masih terus diceritakan. Bahkan cerita Natal itu tampaknya tidak pernah usang. Hanya sayang, kedamaian yang menyelimuti Natal pertama berangsur-angsur hilang. Kini kita memperingati Natal, tapi tak pernah merasa damai. Sebaliknya, Natal tidak lebih dari kegiatan tahunan yang membuat kita letih. Bahkan kadang kala kita memperingati dengan kegelisahan dan kegalauan dalam hati. Kehadiran Sang Mesias tidak cukup memberi rasa tenang dan rasa aman. Berita kelahiran Juruselamat tidak sanggup menghembuskan rasa damai di hati kita. Tak heran jika Natal tidak begitu berkesan dalam hidup kita. Sama sekali tidak membekas. Bahkan berlalu begitu saja.

Jika kita mau merenungkan lebih jauh, bukankah benar bahwa makna Natal dalam pengertian yang sebenarnya telah bergeser begitu jauh ? Makna Natal yang sebenarnya diganti dengan hal – hal lahiriah. Digantikan dengan pesta pora, hura-hura, dan kemewahan yang sia-sia. Dilewatkan begitu saja, bahkan sebelum kita bisa mengambil waktu sejenak untuk berefleksi. Alangkah indahnya jika kita bisa kembali ke Natal yang pertama. Merasakan Kristus dalam kesunyian, membuat jiwa kita lebih peka terhadap suara-Nya. Merasakan Kristus dalam kesederhanaan, menggugah empati kita terhadap sesama yang hidup dalam kekurangan, yang dilanda bencana atau yang sedang dirundung kesedihan. Merasakan Kristus dalam embusan damai, mengusir jiwa yang gelisah dan galau.

Amin.

 

Refleksi Natal: Ruangan Hati Untuk Yesus

Desember 21, 2010 1 Komentar 226 Views

Apa yang Anda rayakan pada Natal tahun ini? Melihat tanggal 25 Desember di kalender membuat sebagian orang senang karena bisa berkumpul dengan sanak keluarga dari luar kota atau luar negeri. Kaum muda yang bekerja, menantikan THR atau bonus Natal. Mahasiswa dan pelajar menikmati liburan yang panjang di hari Natal dan Tahun Baru.

Tanggal 25 Desember sering menjadi patokan pergantian tahun yang melambangkan keberhasilan atau kegagalan yang telah dijalani selama setahun. Namun, bulan Desember bisa menjadi bulan tumpukan tugas yang tidak mendamaikan hati. Para pegiat sibuk menyiapkan acara Natal, mendekorasi ruangan, latihan drama Natal, paduan suara, dan musik. Para keluarga pun sibuk berbelanja hadiah, menyiapkan dan mengirimkan kartu ucapan, membersihkan dan menghiasi rumah, memasang pohon dan lampu Natal.

Mungkin sebagian besar umat Kristen menyadari bahwa tanggal 25 Desember adalah hari perayaan kelahiran Yesus. Tapi, berapa banyak yang meluangkan waktu untuk menghayati dan menikmati makna Natal? Masihkah ada Yesus di ruang hati kita tatkala merayakan hari Natal?

Natal adalah peristiwa yang memiliki kekayaan makna. Tersimpan harta karun yang indah di hari Natal. Sebab itu, kita perlu menggali kembali harta karun itu sebagaimana yang dicatat dalam Alkitab sehingga kita dapat mengerti, menghayati, dan menghidupi kembali makna Natal pada tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang.

Ribuan tahun yang lalu, ketika malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Maria dan Yusuf, ia memberitahukan mereka bahwa anak yang dikandung oleh Maria berasal dari Roh Kudus dan harus diberi nama Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Mat.1:21). Jadi, kado kasih terindah di hari Natal ialah lahirnya sang Juru Selamat sejati di dunia ini. Bahkan, Dia akan dinamakan Imanuel, yang artinya ‘Allah menyertai kita’ (Mat.1:23). Luar biasa! Penghayatan inilah yang harus bergema di ruang hati kita. Bukan hanya menjelang dan ketika merayakan Natal; tetapi juga dalam kehidupan kita setiap hari.

Kita patut bersyukur bahwa hari Natal ditetapkan pada tanggal 25 Desember, karena dekat dengan akhir dan pergantian tahun yang baru. Hal itu dapat membuat kita merenungkan hidup yang telah kita jalani dari awal hingga akhir tahun. Bahkan juga menantang kita untuk berani memberikan kado terindah di hari Natal kepada Yesus. Sungguhkah Yesus menjadi Pribadi yang hidup di ruang hati kita setiap hari? Apakah Yesus benar-benar menjadi satu-satunya Juru Selamat yang hidup di hati dan kehidupan kita? Berapa banyak janji perubahan hidup yang kita ikrarkan namun belum kita tepati bahkan kita langgar?

Menerima Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat berarti menjadikan-Nya sebagai Pribadi yang bertahta di hati dan kehidupan kita. Dia menjadi Junjungan hidup yang berjalan di depan kita, dan kita mengikuti-Nya dari belakang. Mengikuti apa? Mengikuti teladan kasih-Nya dalam melayani dan mengasihi sesama; mendengarkan dan menaati apa yang diajarkan-Nya; berjuang untuk semakin serupa dengan-Nya dalam karakter, sifat, dan perilaku sehari-hari.

Sesungguhnya, Natal menjadi alarm yang mengingatkan sejauh mana kita mengasihi Allah dan mempersembahkan hidup kita kepada-Nya. Sejauh mana kita menghargai kasih pengorbanan Kristus. Yesus tidak menyerukan “Aku mengasihimu” melalui suara dari surga. Ia merendahkan diri. Ia datang dengan mengambil rupa sebagai manusia untuk menyatakan betapa Ia sangat mengasihi kita. Puncak pernyataan kasih Kristus terbukti melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Melalui salib yang hina, Ia menanggung murka Allah. Bahkan, Ia membuktikan kemurahan hati dan kasih Allah kepada manusia berdosa. Karena itu, Natal menjadi alarm yang terus mengingatkan kita tentang keajaiban kasih Allah; mulai dari palungan menuju palang yang hina.

Biarlah hati kita menjadi telinga yang mendengar alarm Natal. Alarm yang mengingatkan siapakah kita sebagai manusia. Alarm yang menyelidiki ruang hati kita. Masih adakah Yesus sebagai Raja di ruang hati kita? Masih adakah ungkapan syukur atas pengorbanan Kristus di kayu salib? Masih adakah kesadaran untuk menghargai kasih karunia Allah di ruang hati kita?

Natal akan berlalu. Tahun baru pun akan dilewati. Namun, alarm dari palungan hingga palang terus berbunyi di ruang hati kita. Mari, kita beri yang terbaik kepada Tuhan dengan menyediakan ruang hati kita diisi oleh kasih karunia Allah; mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang harum di hadapan Allah; melayani Tuhan dengan semangat kasih Kristus; membuka diri untuk mengalami pertobatan setiap hari sehingga semakin serupa dengan Kristus. Bahkan menghidupi kasih Kristus dengan menjadi pelaku kasih yang sejati bagi sesama; seperti syair lagu berikut ini:

Natal ‘tak berarti tanpa Yesus di hati

Natal tak’kan indah tanpa damai di hati

Persembahkan hidupmu serahkan pada Yesus

dan kau akan mengalami NATAL

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru!

 

 

Kelahiran Yesus,Tonggak Penegakan Kerajaan Allah Bagi Seluruh Ciptaan

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Pertama-tama,kita patut bersyukur jika tahun ini kita masih diberi kesempatan untuk merayakan Natal.Sebagai salah satu hari raya Kristen,Natal memiliki arti yang penting bagi perjalanan iman umat Kristiani.Kelahiran Yesus Kristus yang menjadi pusat dari Natal membuktikan kehadiran Allah dalam dunia (Imanuel).Dengan hadirnya Allah dalam dunia maka kita tahu bahwa Allah tidak sekadar mencipta lalu membiarkan ciptaan-Nya berjalan dengan sendirinya.Allah berkenan untuk terlibat dalam urusan ciptaan-Nya.Tetapi keterlibatan Allah itu bukanlah sebuah keterlibatan yang menyingkirkan peran ciptaan-Nya.Allah tidak ingin memperlakukan ciptaan-Nya seperti mesin-mesin yang mati.Allah menghargai ciptaan-Nya dengan memberikan kemandirian.Justru dengan adanya kemandirian itu Allah dapat mengajak ciptaan-Nya untuk bekerjasama.

 

Kehadiran Allah di dunia patut kita pahami dalam kerangka kerjasama.Sebagaimana kehidupan di dunia ini terus berlangsung maka Allah pun terus menerus bekerja.Tetapi dalam menjalankan pekerjaan-Nya, Allah berkenan mengikut sertakan ciptaan-Nya.Memang tidak selalu kebebasan yang diberikan Allah dan kehendak Allah untuk bekerjasama dengan ciptaan-Nya berakhir dengan hasil yang baik.Ciptaan Allah tetaplah ciptaan yang di sana sini mudah jatuh dalam berbagai kesalahan. Mereka bukanlah makhluk yang begitu cerdas untuk mengerti kehendak Allah.Mereka juga bukan makhluk yang dapat bertahan dalam segala keadaan.Sehingga kelakuan mereka mudah berubah.Bukan karena mereka ciptaan yang buruk, namun karena mereka tidak dapat selalu menampilkan kebaikan.Allah bukan tidak tahu keadaan ciptaan-Nya itu, namun Allah tetap bersedia untuk mengajak ciptaan-Nya bekerjasama.Allah ingin mengajak ciptaan-Nya menata dan mengisi kehidupan di dunia agar setiap kali menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

 

Kelahiran Yesus Kristus dalam dunia memperlihatkan kepercayaan Allah kepada manusia bahwa di tengah semua kemungkinan untuk berbuat salah, manusia masih bisa diajak bekerjasama dalam menjaga dan mengembangkan kehidupan.Tetapi kepercayaan Allah itu tidak hanya terbatas pada manusia saja.Kita tahu bahwa hidup di dunia ini tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan ciptaan Tuhan lainnya.Bukan manusia saja yang memungkinkan hidup ini terus berlangsung, makhluk-makhluk bukan manusia juga memiliki peranan di dalamnya.

Kisah kelahiran Yesus dalam Injil Matius menyebut tentang bintang di Timur yang dilihat oleh para sarjana (Majus) dari Timur.Bintang yang adalah benda alam ternyata memberikan petunjuk.Allah berkenan memakai sebuah benda alam untuk menjadi petunjuk dari kehadiran-Nya sebagai manusia di dunia.Sementara itu, Injil Lukas mengisahkan bahwa kelahiran Yesus disambut oleh para gembala yang dalam menjalankan tugas-tugasnya berada dekat dengan alam.Bahkan bayi Yesus sendiri juga diletakkan dalam sebuah palungan di sebuah kandang.Bukankah itu semua dengan jelas menunjukkan penghargaan Allah kepada makhluk-makhluk bukan manusia?Semua yang ada di alam merayakan kelahiran Allah di dunia.

Dalam surat Efesus1.22  dikatakan, “dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Kata “segala sesuatu” dan “segala yang ada” memperlihatkan sebuah cakupan yang sangat luas.Penempatan Kristus yang demikian membuat-Nya tidak terpisahkan dari semua yang ada di dunia ini.Kristus tidak hanya menjadi kepala bagi manusia, namun bagi semua makhluk yang ada di dunia ini.Pengakuan iman yang tertulis dalam Kolose 1.16-17 mengatakan “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.” Pengakuan iman ini mengaitkan Kristus dengan penciptaan.Karena penciptaan bersifat menyeluruh maka Kristus yang di dalam-Nya segala sesuatu diciptakan juga berada dalam keseluruhan ciptaan.

Mendapati kesaksian Alkitab tentang Yesus Kristus itu sudah seharusnya kita menyadari bahwa hubungan antara Tuhan dan ciptaan-Nya tidaklah terbagi-bagi.Tuhan adalah Tuhan bagi seluruh ciptaan.Kasih Tuhan tertuju bagi semua makhluk.Kepedulian Tuhan adalah kepedulian kepada semua yang Ia ciptakan agar semuanya tetap hidup dan berkembang. Jikalau demikian baiklah kita membangun kesadaran,

 

Kita hanyalah salah satu ciptaan Tuhan. Maka baiklah kita selalu membuka mata-hati kita kepada semua makhluk karena mereka adalah sesama ciptaan Tuhan bagi kita.

  1. Sikap kita kepada ciptaan Tuhan sudah seharusnya mengikuti sikap Tuhan yang dalam kepedulian-Nya menghendaki semua makhluk terpelihara.
  2. Ketika sekarang ini kita merayakan Natal, baiklah kita merayakan-Nya bersama seluruh makhluk karena Dia lahir bagi semua yang diciptakan-Nya.
  3. Hubungan kita dengan ciptaan lainnya adalah hubungan kerjasama dimana Tuhan juga ikut terlibat di dalamnya. Kerjasama ini memiliki tujuan utama memelihara dan mengembangkan segala yang ada.

Dalam kesadaran di atas kiranya kita menghindari sikap,

  1. Memperlakukan ciptaan Tuhan lainnya dengan semena-mena. Perasaan bahwa kita boleh melakukan apapun kepada makhluk lain bertentangan dengan kesadaran bahwa mereka adalah ciptaan yang dipedulikan juga oleh Tuhan, Sang Pencipta.
  2. Merusak,mengeksploitasi dan membinasakan alam. Seperti alam memberikan sumbangannya bagi kehidupan, kita pun harus memberikan sumbangan bagi kehidupan, bukan sumbangan bagi kematian.

Konfesi GKI 2014, yang sudah ditetapkan dalam Persidangan XVIII Majelis Sinode GKI 3-5 Desember 2014, melukiskan kepedulian Allah terhadap ciptaan-Nya demikian,

Kami percaya kepada Allah, yang dipanggil Bapa oleh Yesus Kristus,

Yang memelihara dan mengelola dengan baik lingkungan alam, seperti pemilik taman,

Yang merawat dan menjaga anak-anak-Nya seperti ibu atau bapa, [Konfesi GKI 2014, #2,4,5]

Selanjutnya dikatakan juga tentang keterbukaan Allah terhadap peranserta ciptaan-Nya demikian,  yang mengundang kami untuk berperan serta dalam pekerjaan-pekerjaan baik bagi seluruh ciptaan-Nya. [Konfesi GKI 2014 #6]

Dalam bagian pengakuan tentang Yesus Kristus dinyatakan pula bahwa

dengan naiknya Yesus ke surga maka sebagai gereja, kita sebagai GKI terdorong untuk menjalankan kesaksian kepada seluruh ciptaan. [Konfesi GKI 2014 #12]

Pada bagian pengakuan tentang Roh Kudus dinyatakan hal yang senada yaitu bahwa

Roh Kudus adalah “sumber kekuatan yang melibatkan kami dalam misi Kerajaan Allah.” [Konfesi GKI 2014 #12]

Gereja hadir di dunia untukmengerjakan misi Kerajaan Allah.Gereja adalah rekan sekerja Allah dalam meneruskan pekerjaan-pekerjaan-Nya yang baik bagi seluruh ciptaan. [Penjelasan Konfesi GKI 2014 #17.b]

Kesaksian kita tersebut jelas merupakan konsekuensi dari kesadaran kita tentang Allah Tritunggal yang dalam pergerakan-Nya selalu menyentuh segala sesuatu yang diciptakan-Nya.

Kiranya renungan tentang kehadiran Allah yang menyeluruh itu menjadikan Natal di tahun 2014 ini mempunyai makna tersendiri. Makna itu kiranya mewujud dalam suatu tekad untuk menyatakan kabar baik kepada seluruh ciptaan dengan berbagai cara yang mungkin kita lakukan.Akhirnya,kamiucapkan kepada seluruh anggota jemaat GKI, “Selamat Natal Tahun 2014 dan Tahun Baru 2015”. Tuhan memberkati.

 

Teriring salam dan doa

Badan Pekerja Majelis Sinode

Gereja Kristen Indonesia

 

 

Makna Natal Bagi Iman Kristen

 

Bagi sebagian orang bulan Desember adalah salah satu momen yang paling dinantikan, karena seluruh umat Kristiani merayakan Natal; hari di mana seluruh umat Tuhan memperingati kelahiran Yesus Kristus. Ada banyak perayaan Ibadah Natal di mana-mana, bahkan sebelum bulan Desember pun, di sepanjang jalan sudah banyak para pedagang yang menjual pernak-pernik Natal yang dijual di pinggir jalan, dan semuanya itu adalah untuk menyambut hari Natal yang bahagia itu, bahkan nyanyian Natal telah berkumandang di pusat-pusat  perbelanjaan dan pusat kota pada umumnya.

Namun, pada orang-orang tertentu bulan Desember bisa saja menjadi masa yang suram. Kemeriahan Natal bisa saja tidak bisa merubah berbagai situasi yang dihadapi orang-orang tertentu. Sebab ada banyak orang juga yang tidak bisa merayakan hari Natal tersebut, apalagi untuk berkumpul dengan keluarga. Pada keluarga tertentu Natal tidak dirasakan menjadi sebuah kebahagiaan bagi mereka yang masih dalam kemiskinan. Yang lebih menyedihkan lagi apabila ada seseorang yang pada bulan ini sedang menantikan vonis hukuman atas perbuatannya,  atau karena keadaan-keadaan lainnya yang memprihatinkan.

Dengan berbagai kondisi tersebut di atas apakah sebenarnya makna Natal akan berubah dengan atau tanpa perayaan yang besar? Apakah makna Natal akan berubah jika kita tidak dapat merayakannya bersama keluarga kita? Seandainya hal-hal di atas tidak ditemui dalam Natal kita tahun ini, masihkah iman kita tetap ada di dalam Kristus? Masih adakah sukacita di dalam hati kita? Masihkah kita bersekutu dengan Tuhan dan bertumbuh dalam Tuhan di dalam Natal ini? Sebab Natal akan sangat berdampak bagi iman kita apabila seseorang telah mengerti apa sebenarnya makna Natal yang sesungguhnya.

Sebagai orang-orang Kristen yang sejati kita mengetahui bahwa perayaan Natal adalah sebagai tanda hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus yang datang ke dalam dunia untuk membawa Keselamatan dan hidup yang sejati. Orang yang percaya kepada Kristus adalah orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus. Oleh sebab itu, maka kelahiran Kristus ke dunia ini juga harus kita maknai dengan penuh iman kepada-Nya (Matius 1:21). Ada beberapa alasan yang mengapa perayaan Natal harus menjadi iman bagi orang percaya, sehingga peristiwa kelahiran Kristus yang kita rayakan sebagai perayaan Natal menjadi sebuah peristiwa penting dalam iman kita kepada Yesus Kristus.

1. Natal Adalah Bukti Cinta Kasih Tuhan Atas Umat-Nya
Kelahiran Yesus Kristus adalah bukti cinta kasih Tuhan kepada umat-Nya (Yohanes 3:16). Ayat tersebut mengungkapkan isi hati dan tujuan Allah bahwa Kasih Allah cukup luas untuk menjangkau semua orang, yaitu “dunia ini.” Allah“mengaruniakan” Anak-Nya sebagai korban penghapus dosa di atas kayu salib. Langkah pendamaian yang mengalir dari hati Allah sendiri yang penuh kasih dan korban Kristus itu bukanlah suatu tindakan yang terpaksa dilakukan oleh Allah. Tuhan Yesus Kristus lahir ke dunia untuk melepaskan manusia dari belenggu apapun yang sedang menjerat hidupnya.

Dosa telah di tanggung-Nya demi manusia, agar kita hidup menjadi orang-orang yang merdeka dan tidak diperhamba oleh dosa. Keselamatan dan hidup kekal merupakan anugerah Allah. Anugerah yang sangat berharga. Anugerah tersebut tidak dapat dibeli dengan apapun, juga tidak dapat dicapai dengan kemampuan manusia. Hidup kekal adalah anugerah Allah dalam Yesus Kristus. Melalui penebusan yang disediakan Allah di dalam Anak-Nya, kita dapat menghampiri-Nya untuk menerima kasih, kemurahan, kasih karunia, dan pertolongan-Nya pada waktunya.

Dengan pengorbanan dan kematian Yesus Kristus mengubah dan membebaskan kita dari dosa. Karena Allah telah menetapkan kasih-Nya sejak semula, yaitu untuk membentuk dan memperbaiki hubungan dengan umat-Nya melalui korban Yesus Kristus yang telah menebus dosa kita di atas kayu salib (Roma 3:24-26).

2. Natal Membawa Sukacita Besar
Sepanjang sejarah ke-Kristenan peristiwa kelahiran Tuhan Yesus Kristus adalah sukacita terbesar dan    selalu menjadi momen yang abadi bagi umat manusia. Kelahiran Yesus lebih dari 2000 tahun lalu membawa sukacita bagi para malaikat, para gembala, dan tiga raja dari timur, yang kemudian bergegas menyambut-Nya dengan cara mereka sendiri. Kelahiran Yesus Kristus seharusnya juga menjadi sukacita yang tidak berkesudahan bagi umat Tuhan saat ini.

Mengapa demikian ? Karena kedatangan-Nya telah memberi hidup kekal yang tidak dapat dijamin oleh keyakinan apa pun. Hidup kekal adalah anugerah Allah dalam Yesus Kristus Tuhan kita (Yohanes 3:36). Hal inilah yang seharusnya menjadi dasar agar setiap orang percaya tetap bersuka. Perayaan Natal adalah sukacita abadi yang tak tergantikan oleh apapun.

Memperingati hari Natal bersama keluarga atau orang-orang yang kita kasihi memang adalah suatu momen yang sangat baik jika mampu dirasakan secara bersama-sama, namun sekalipun mungkin kita tidak dapat berkumpul bersama keluarga untuk merayakan Natal, maka hal itu tidak membuat sukacita kita berkurang di hadapan Tuhan, kehadiran Kristus secara pribadi dalam hidup kita adalah sukacita yang sejati. Perayaan Natal akan menjadi lebih berarti bagi Iman Kristen apabila setiap orang percaya mampu mengalami Kristus secara pribadi di dalam hidupnya.

3. Natal Merupakan Persekutuan Dengan Tuhan
Kelahiran Yesus yang kita rayakan saat ini adalah sebuah kabar sukacita di tengah-tengah dunia yang keras dan kejam. Di dalamnya kita merayakan persekutuan dengan Tuhan yang datang kepada kita dan memberi arti bagi hidup kita. Manusia bersekutu dengan Allah dan Dialah sumber hidup kita. Tuhan Yesus menggambarkan hubungan-Nya dengan jemaat seperti pokok anggur dan ranting-rantingnya (Yohanes 15:5).

Orang yang bertumbuh di dalam Tuhan adalah orang yang hidup dengan Allah dan hidup dalam terang (1 Yohanes 1:5-7). Bertumbuh di dalam Tuhan juga berarti bahwa seseorang hidup dalam ketaatan terhadap perintah Allah (1 Yohanes 2:3-7), terutama perintah untuk mengasihi, serta hidup di dalam kebenaran Firman.

Dalam momen Natal yang sangat dinantikan ini, kita memaknai hari Natal untuk merenungkan kembali pertumbuhan iman kita di dalam Tuhan, agar kelak kita dapat untuk melaksanakan amanat Tuhan Yesus Kristus; sebagai pemberita kebenaran akan karya penebusan dan hidup yang kekal (1 Yohanes 2:22-25).

4. Natal Membuat Kita Bertumbuh di Dalam Tuhan
Kelahiran Yesus ke dalam dunia ini adalah sama seperti sebagaimana kelahiran manusia pada umumnya. Dalam peristiwa kelahiran Yesus di dalam hidup manusia juga merupakan momen awal baginya untuk kemudian tumbuh menjadi seorang kristen yang dewasa. Setiap orang yang ingin bertumbuh di dalam Tuhan harus melekat kepada Tuhan. Ranting-ranting harus tetap tinggal di dalam pokoknya kalau mau hidup, bertumbuh dan berbuah (Yohanes15:1-7).

Adanya hubungan itu harus diwujudkan secara nyata dalam perbuatan kasih kepada sesama dan ciptaan Tuhan lainnya. Dengan perayaan Natal yang sangat berharga ini, maka kita sebagai umat Tuhan harus dapat saling mengasihi kepada sesama umat Tuhan. Bentuk-bentuk lahiriah dari kasih harus nyata dalam kehidupan sehari-hari, tanpa membuat perbedaan, dalam keluarga, lingkungan kerja, dan bentuk interaksi sosial lainnya.

Natal adalah momen untuk perubahan dan peneguhan atas komitmen kita sebagai pengikut Kristus untuk mencintai sesama dalam suka dan senang serta peneguhan panggilan kita sebagai orang-orang yang dipercayakan Tuhan mengelola dan merawat ciptaan-Nya. Ia harus menyadari apa sebenarnya panggilan hidup-Nya sebagai utusan Allah. Orang-orang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat harus bertumbuh di dalam Tuhan hingga menjadi orang Kristen yang dewasa.

5. Natal Membawa Hidup Yang Penuh Kelimpahan
Tuhan Yesus dalam kitab Yohanes memberitahukan bahwa kedatangan-Nya ke dunia ini adalah untuk memberi hidup, bahkan hidup yang Ia berikan adalah hidup yang penuh dengan kelimpahan. Ketika kita menyadari bahwa kelahiran Yesus Kristus di dalam hidup kita adalah pemberian anugerah keselamatan dan hidup (hidup yang berkelimpahan). Hidup yang berkelimpahan di dalam Tuhan itu ada di dalam kehidupan orang percaya yang sejalan dengan firman Tuhan. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,”  (Filipi 2:5). 

Jika hati dan pikiran kita dikuasai oleh Roh Kudus dan sesuai dengan pikiran Kristus, maka  “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:7). Sebagai orang percaya kita tidak boleh kehilangan makna Natal yang sesungguhnya. Jangan sampai Natal kita hanya berfokus kepada hal-hal yang sifatnya seremonial semata. Jika kondisi tersebut terjadi dalam hidup orang percaya, maka sesungguhnya kita telah terancam kehilangan makna Natal sehingga Natal bisa menjadi momen yang berlalu begitu saja tanpa ada pesan natal bagi iman dan hidup kita secara pribadi.

Tuhan memang  tidak menghendaki supaya kita mengurangi kebahagiaan di hari Natal, Dia sendiri telah “memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati” (1Timotius 6:17), termasuk merayakan hari Natal dengan bahagia. Akan tetapi Dia juga menghendaki agar makna Natal itu berdampak bagi iman kita, agar kita semakin beriman kepada Kristus sebagai penebus kita, memiliki persekutuan dengan Allah, serta bertumbuh di dalam Tuhan dan  memiliki hidup yang berkelimpahan. Dengan demikian maka perayaan Natal lebih berarti pada tahun ini dan di tahun-tahun mendatang kelak. Selamat merayakan sukacita Natal!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s