Rabu,10 feb 16 Lukas 11:37-44—Biarlah kita Saling mendoakan


DSC_0003

Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat

Mendengar berita di MEDSOS Facebook tentang penolakan rencana kegiatan Lokakarya Lintas Warga Jemaat (LWJ) GPIB yang sedianya di adakan di Sekesalam dengan alasan, mupel Jabar 1 tidak mau konsentrasinya terpecah dengan konven dan pst 2016. Saya melihat alasan tersebut terlalu dangkal dan dibuat-buat.

Mengutip tulisan pak Reinier W T, Berbagai pertanyaan dapat dimunculkan dalam kaitan ini. Siapakah pemilik aset tersebut? Siapakah Forkom LWJ GPIB itu? Bukankah kedua-duanya adalah GPIB juga? Apa dan siapakah GPIB itu? Bukankah GPIB itu kita, Forkom juga BP Mupel Jabar-1? Apakah tujuan Lokakarya itu untuk menggusur GPIB? Bukankah Lokakarya yang dilaksanakan oleh Forkom LWJ bertujuan untuk memperlengkapi kapasitas para pegiat pelayanan dalam penatalayanan GPIB? So, kenapa dilarang? Ingin menunjukkan bahwa ada pendekatan kekuasaan dalam pelayanan Gereja khususnya GPIB? —Kenapa penolakan terjadi saat uang muka (DP) telah diterima?

Judul renungan untuk ibadah keluarga ini, “Biarlah kita Saling mendoakan ”  mau menekankan adanya persekutuan yang dibangun berdasarkan spritualitas keugaharian bukan kemunafikkan, ketamakan, dan keegoisan bahkan sakit hati.

Tentunya kita pasti marah dan sakit hati jika kita disamakan dengan Firman Tuhanyang mengatakan :

“Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. f 11:40 Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? 11:41 Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah  dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu  11:42 Tetapi celakalah kamu , hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan j  dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah.   Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.   11:43 Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.  11:44 Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur  yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Saya yakin pasti marah dan sakit hati…

Kesalehan orang Farisi  hanya di depan orang. Ibadah mereka lebih mengutamakan hal lahiriah, agar dilihat baik dan terpuji. . Yesus mengur mereka karena bagi orang Farisi, manusia disucikan oleh perbuatannya, sementara bagi Yesus, kesucian lahir dari hati yang diubahkan, dan mengejawantahkan di dalam tindakan nyata . Hati yang tulus  akan melahirkan perbuatan yang berkenan. Sebaliknya sedangkan perbuatan yang bersih  belum tentu menjamin hati yang bersih.

Bahaya menggenakan topeng   daripada perubahan dalam diri bisa juga terjadi pada kita. Keinginan untuk dipandang baik , dan ingin di like dapat membuat kita bersikap baik di depan orang.

Peringatan Yesus menandakan, Dia mengenal isi hati tiap orang. Perilaku manis kita tak dapat mengelabuinya. Hanya dari hati yang murni dapat lahir perbuatan-perbuatan yang memperkenankan Tuhan.

Terkadang ,  ketika kita mengecam perbuatan orang  di luar, kitapun melakukan hal yang sama di saat ataupun kasus yang berbeda. Kita marah dengan ke tidakadilan, kita marah dengan orang2 yg sombong, ego, tetapi kita tanpa menyadari melakukan hal yg sama.

Karena itu  kita perlu juga mendoakan diri kita sendiri dan saling mendoakan supaya kita tidak jatuh ke dalam pencobaan. Mengapa? Karena kita mudah diprovokasi untk saling curiga dan itu muncul dalam diri kita.

“Sebagai anak2 Tuhan kita hendaknya  saling memerhatikan, ada rasa peduli dan saling bertolong-tolongan, bahkan yang jauh lebih penting daripada ketiga hal itu adalah saling mendoakan.”

Saya yakin kita pernah melihat sekolompok orang mengendarai Scooter tua dengan penampilan a’la hippie. Jika kita lihat sangat menyiutkan nyali kita. Rambut gondrong, seperti jarang mandi, pakaian seperti tidak pernah dicuci , Hidupnya sebagian besar di jalanan. Dengan penampilan seperti itu  , banyak orang cenderung takut dan khawatir bergaul dgn mereka dan bahkan berpikir negatif ,menaruh curiga.

Tetapi jangan tanyakan solidaritas mereka terhadap sesama anggota. Mereka rela tidsk mandi, dan sampai larut malam menolong rekannya yg scooternya mogok agar hidup lagi. Bahkan di antara komunitas mereka ada permasalahan/kedukaan  mereka tak segan2  datang & memberi bantuan all out.

Itulah komunitas! Itulah persekutuaan! Itulah “Sinode” (berjalan bersama) secara harfiah. Ada spirit kebersamaan, ada kesetaraan dan ada yang memersatukan mereka, yaitu Vespa tua.   (Inspiratif nananggki.blogspot.com)

Sebenarnya persekutuan kita pada awal munculnya komunitas kristiani ini tampak jelas spirit kebersamaan atau solideritas itu lebih dari komunitas vespa tua. Kisah rasul 2:42-47 menggambarkan dengan baik kehidupan jemaat mula-mula (silahkan dibaca). Spirit keugaharian  dalam memberikan  yang terbaik bagi Tuhan melalui sesamanya. Yesuslah sang peneladan.

Masih adakah spirit kebersamaan, solidaritas, kesehatiaan dalampersekutuan bahkan di GPIB? Apakah spirit itu telah mengalami “abrasi” …ataukah kita hanya perduli dan mengasihi karena “melihat muka”  ?

Renungkanlah

Dalam rumah yang besar, ada perkakas yang mulia yaitu dari emas dan perak, dan ada perkakas yang kurang mulia yaitu dari kayu dan tanah. Zaman dulu, jika para raja mengadakan pesta, mereka akan memerintahkan para pelayannya  untuk mengeluarkan perabot-perabot emas yang terbuat seperti cangkir dari emas, cawan dari emas, nampan dari emas, dlsb. Di rumah kita juga tentu demikian. Kalau acara-acara istimewa dipakai perabot-perabot yang mahal dan berharga, tetapi kalau untuk sehari-hari cukup perabotan yang biasa-biasa saja.

Setiap kita  selalu mencari yang berkualitas. Tuhan juga menghendaki supaya gereja Tuhan menjadi perabot yang mulia seperti emas dan perak. Tetapi seringkali emas dan perak itu tidak murni, masih bercampur dengan berbagai macam kotoran. Untuk itu, jemaat harus selalu menyucikan diri supaya jadi MULIA. Perak dan emas itu musti selalu dimurnikan supaya kelihatan kemurniaannya.

Hari ini, biarlah kata-kata ‘Jesus is the Most Important Person in my life’  tak hanya sekedar menjadi moto kita, tetapi benar-benar menjadi tujuan dan gaya hidup kita, karena itu baru ada artinya bagi Dia. Dan, jika Kristus senantiasa menjadi Most Important Person di dalam setiap aspek hidup kita, maka seluruh hidup dan hari depan kita pun akan menjadi Most Important Things bagi Dia dan sesama.

Kata Bijak

Karena itu biarkan  hidup kita dalam  persekutuan  dan dibentuk oleh Tuhan, sampai Anda menjadi perabot yang berharga dan mulia. Sebab  yang berharga dan mulia pasti dipelihara dan diberkati luar biasa oleh Tuhan. -Martha Belawati

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s