Konteks

Seruan untuk turut serta dalam keselamatan yang dari TUHAN

 

55:1 1 Ayo, hai semua orang yang haus 2 , o  marilah dan minumlah air, p  dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli q  dan makanlah, juga anggur dan susu r  tanpa bayaran! s  55:2Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? t  Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik u  dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. v  55:3 Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, w  maka kamu akan hidup! x  Aku hendak mengikat perjanjian y  abadi dengan kamu, menurut kasih setia z  yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud. a  55:4Sesungguhnya, Aku telah menetapkan dia menjadi saksi b  bagi bangsa-bangsa, menjadi seorang raja dan pemerintah c  bagi suku-suku bangsa; 55:5 sesungguhnya, engkau akan memanggil bangsa d  yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak mengenal engkau akan berlari kepadamu, e  oleh karena TUHAN, Allahmu, dan karena Yang Mahakudus, f  Allah Israel, yang mengagungkan g  engkau. 55:6 Carilah h  TUHAN 3  selama Ia berkenan ditemui; i  berserulah j  kepada-Nya selama Ia dekat! 55:7 Baiklah orang fasik meninggalkan k  jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; l  baiklah ia kembali m  kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, n  dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan o dengan limpahnya. 55:8 Sebab rancangan-Ku p  bukanlah rancanganmu 4 , dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, q  demikianlah firman TUHAN. 55:9 Seperti tingginya langit dari bumi, r  demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. s 

Menurut Marx sejarah umat manusia sejak zaman primitif dibentuk oleh faktor-faktor kebendaaan. Awal sejarah manusia dimulai dengan adanya pemilikan pribadi yang kemudian menimbulkan pertarungan memperebutkan materi atau kekayaan ekonomi. Materi atau bendalah yang menjadi faktor konstitutif proses sosial politik historis kemanusiaan.

Pada dasarnya /esensinya  manusia bersifat materialis yg  menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan (res extensa), dan bersifat objektif, maka ia bisa diukur, dikuantifikasi (dihitung), diobservasi.

Konsep manusia menurut pandangan materialisme,  Manusia adalah bagian dari alam atau materi. Sebagai bagian dari alam, manusia adalah objek yang substansinya adalah berkeluasan.

Perilaku manusia tidak berasal dari dirinya sendiri (self-determined). Manusia berperilaku karena ada suatu sebab yang mendahuluinya (stimulus), yang menuntut untuk diberikan respons atau reaksi.

Keserakahan manusia tidak pernah akan hilang jika tidak ada kontrol. Orang serakah itu selalu menganggap baik apa yang dilakukannya dan tidak perduli apakah cara yang ditempuh itu sesuai dengan nilai moral dan agama atau tidak. Keserakahan itu berasal dari pikiran yang selalu ingin dipuaskan, namun tidak pernah merasa puas. Semakin kita berusaha memuaskan keinginan pikiran, maka keinginan akan merangkak naik meminta pemuasan yang lebih yang akhirnya kita menjadi budak dari pikiran.  Bukan itu yg sering dialami manusia sejak jaman dulu.

Mengapa Manusia Tidak Pernah Puas ?

  • Faktor Lingkungan
  • Iri hati
  • Penasaran/rasa ingin tahu yg berlebihan
  • Ambisi
  • Ingin dipuji/makan puji

Faktor-faktor inilah membuat bangsa israel jatuh, demikian juga kita yang saat ini dimanjakan dengan kenikmatan duniawi  yang sifatnya semu…

Ayat yk kita bahas atau Perikop ini dikenal sebagai Deutro Jesaya, yang mengisahkan penebusan umat Tuhan pasca pembuangan di Babel, dimana Allah menawarkan kemurahan-Nya secara gratis agar mereka menjadi saksi tentang kebaikan dan kasih Tuhan. Tuhan mengundang Bangsa Israel untuk makan dan minum bersama tanpa uang pembeli minum anggur dan susu tanpa bayar.

55:2Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? t  Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik u  dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. v 

Di Minggu Prapaskah III ini kita dipanggil Tuhan, yaitu daripada kita cenderung memuakan diri kita yang sejatinya tidak akan pernah puas . Melaui Yesaya 55:6 Allah berfirman: “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” Fokus rohani kita  adalah tawaran Allah: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! (Yes. 55:1).

Apabila kita kehilangan kasih Allah yang cuma-cuma , maka “ziarah iman” dalam seluruh kehidupan peberibadahan   dan pelayanan kita maka kita cenderung mencari kepuasan e diri kita sendiri.

Firman Tuhan berkata: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9). Ayat yang menunjukkan betapa besarnya Allah yang tidak akan mampu terselami dengan kemampuan akal kita yang begitu terbatas.

Kita harus meningkatkan ‘level bersyukur’ untuk menjadikan diri kita bahagia, dan membatasi diri untuk mengejar lebih banyak. Belajarlah realistis . Jika tidak, kita hanya akan mengejar  kesiasiaan  dan tidak pernah mencapai kepuasan.

Kita diberi kebebsan untuk memilih. Pilihlah  untuk menjadi bahagia dengan apa yang kita miliki sekarang dan nanti. Rahasia kepuasan batin adalah mampu bersyukur, dan mampu berdamai dengan nafsu keinginan yang merupakan sumber dari ketidakpuasan diri.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s